Takziah ke Rumah Duka Mardanis Sutan Tanameh, Mahyeldi : Abak Bangun Rumah Ini dari Hasil Kerja Membecak

  • Bagikan

AGAM – Innalilahiwainailaihi rojiun. Suasana di rumah duka almarhum Mardanis Sutan Tanameh di Sungai Talang Gadut, Tilatang Kamang, Agam, Sumatera Barat, sampai pukul 22.00 Wib, Selasa (6/9/2022) sudah mulai terlihat lengang. Tetapi sejumlah pelayat masih datang ke kediaman rumah tusuk sate itu. Selebihnya, rumah almarhum sejak mulai jalan lintas Sumbar – Medan ‘dikepung’ oleh ratusan karangan bunga. Karangan bunga Wagub Audy Joinaldy terletak di posisi sangat strategis, melekat ke dinding depan rumah almarhum.

Alm Mardanis Sutan Tanameh adalah Ayahnda Gubernur Sumbar saat ini Mahyeldi Ansharullah. Almarhum berpulang dalam usia 82 tahun setelah sempat mendapatkan perawatan intensif beberapa hari di Rumah Sakit Achmad Muchtar Bukittinggi.

“Rumah ini adalah hasil pembelian dari usaha Abak sebagai penarik Becak di Dumai saat saya dan adik masih kecil kecil dulu,” ujar Mahyeldi menyampaikan kenangannya terhadap almarhum Abaknya kepada Kabarmedia Grup Jakarta (KMG) yang secara khusus menyampaikan salam duka kepada Mahyeldi, Selasa malam.

Bersama Awaluddin Awe, Pemimpin Umum Harianindonesia.id dan Pemimpin Redaksi Kabarpolisi.com (member of Kabarmedia Grup Jakarta) turut hadir di rumah duka itu Asisten II Kantor Gubernur Sumbar Wadarusmen, Dirut Hotel Balairung Jakarta Buchari Bachter dan Ketua Japnas Sumbar Gun Sugianto serta Sekretarisnya Arlin. Ikut juga pengusaha milineal Sumbar Pebrinansyah yang beberapa hari lalu sempat mengekspor Kopi Solok ke Jepang dengan nilai ekspor UU$7 kali 8000 ton.

Saat menerima kami, Mahyeldi sudah terlihat segar setelah sempat tidur beberapa saat. Seharian sebelumnya, Mahyeldi tidak sempat istirahat dan makan setelah tiba dari Bogor pukul 02.00 Wib. Pada saat dikabarkan bahwa Abak meninggal, Mahyeldi dan istri sedang berada di Bogor untuk suatu acara.

Sejak mendapatkan kabar Abak berpulang hingga usai pemakaman almarhum, Mahyeldi, kata sang istri, dipanggil Umi, belum sempat makan nasi sesuap pun. Selera makan Mahyeldi patah. Lumrah sebagai anak, Mahyeldi kagok kehilangan orang yang disayang dan dihormatinya.

“Buya baru berhasil saya bujuk makan setelah almarhum Abak dimakamkan. Setelah itu, Buya tertidur,” jelas Umi lagi.

Dan, benar. Pada saat kami tiba, Mahyeldi masih dalam kamar, tidur. Namun, setelah beberapa saat menunggu, baru keluar Mahyeldi dengan stelan baju safari berwarna gelap, berkain sarung dan kopiah hitam. Wajah Mahyeldi memang sudah terlihat segar. Tetapi masih sedikit bicara.

Mahyeldi terlihat beberapa kali menekurkan kepalanya ke arah handphone yang diletakan di lantai rumah dengan arsitektur tua itu. Rumah hasil pembelian almarhum Mardanis dari hasil ‘membecak di Dumai itu’ memang masih terlihat seperti rumah tua, meski sudah direnovasi dan diperluas, disebabkan almarhum berpesan agar jendela rumah pertama dibagian depan agar tetap dipertahankan, walau nanti rumah sudah direnov.

“Abak berpesan begitu. Makanya dua jendela ini tetap kami pertahankan dengan jendela lama sesuai permintaan Abak,” jelas Mahyeldi dan Umi.

Mahyeldi bercerita, bahwa rumah itu dibangun oleh Abaknya dari hasil menarik becak di Dumai dalam beberapa tahun. Abak Mahyeldi harus ke Dumai disebabkan dirinya tidak bisa tinggal di daerah dingin oleh alasan sakit.

Abak Mahyeldi memang memilih profesi sebagai penarik becak, karena memang tidak memiliki pengalaman usaha dan pekerjaan lain. Selama berada di Kampung pun sejak mudanya, Abak Mahyeldi juga berprofesi sebagai Tukang Angkek (pemanggul barang) di Pasar Bukittinggi.

Sebab itu pula, masa kecil Mahyeldi dilewati dengan kenangan penuh tantangan dan relatif berat. Mahyeldi melewati pendidikan SD dan SMPnya di Gadut, lalu melanjutkan SMA di Bukittinggi dan menamatkan S1 di Fakultas Pertanian jurusan Peternakan di Universitas Andalas Padang.

Mahyeldi mengaku Abaknya adalah seorang tua yang suka bicara dan sangat memerhatikan kedua orang tuanya, termasuk kepada mertua sendiri. Sebab itu pula, Abak Mahyeldi tidak bisa berlama lama diajak keluar dari rumahnya, sebab almarhum juga harus ‘mancaliak caliak’ ibu mertuanya yang sudah uzur di rumah mereka di Gadut Tilatang Kamang.

SIMAK JUGA :  Catatan pinggir Bang ZT: "Tentang Jurnalistik Invistigasi "

Mahyeldi sempat menunjukan kepada kami sosok neneknya yang sudah tua sekali tetapi masih bisa berjalan meski tertatih tatih. “Nenek menjadi alasan bagi Abak kalau kami ajak tinggal di Padang. Jika sudah dua hari tinggal di Padang, Abak lalu beralasan sia nan mancaliak nenek,” cerita Mahyeldi tentang Abaknya.

Seperti juga Abaknya, Mahyeldi juga terkesan sama, sangat memerhatikan Abaknya. Pada satu sesi foto yang dirilis Info Sumbar, terlihat Mahyeldi seperti membasuh kaki Abaknya yang sedang duduk di kursi roda. Abak juga seperti dipasangi keteter.

Kebiasaan Abaknya yang suka bercerita itu, kini seperti menggambarkan sisi sukses Mahyeldi sebagai tokoh sukses di partai. Selain menjadi Ketua Partai PKS, Mahyeldi juga Gubernur Sumbar. Sebelumnya sempat menjadi Walikota dan Wakil Walikota Padang. Mahyeldi juga sempat menjadi anggota DPRD Sumbar.

Setidaknya visi Abak yang suka bercerita turun kepada Mahyeldi yang suka maota sebagai orang politik. Dan itu membawa dirinya sukses sampai saat ini.

Siapa sangka, anak seorang tukang Angkek dan Penarik Becak, kemudian sukses menapaki karir politik sampai menjadi Gubernur Sumbar. Telaahan politik lapau menyebutkan bahwa Mahyeldi masih memiliki peluang besar menjadi gubernur di periode kedua, tak mau kalah dari pendahulunya dari partai yang sama, Irwan Prajitno.

Dapat Salam Andre Rosiade

Selain dari Kabarmedia Grup Jakarta, malam itu, Mahyeldi juga mendapatkan titipan salam duka dari Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar Andre Rosiade. Salam ini disampaikan langsung oleh Gun Sugianto, Bendahara Umum Partai Gerindra Sumbar.

Setelah sempat memperkenalkan diri kembali kepada Mahyeldi, mantan aktivis 1999 yang kini menjadi politisi pengusaha ini, kemudian menyampaikan salam duka dari Andre Rosiade yang saat ini masih berada di Belanda untuk satu misi kesenian Minang.

Mahyeldi sempat terlihat sumringah dan wajahnya terlihat cerah saat menerima salam dari Andre Rosiade itu. Bahkan kemudian Mahyeldi kepada Gun Sugianto juga sempat bercerita bahwa dirinya juga dikunjungi Walikota Bukittinggi Herman Syafar yang juga ‘orang Gerindra Sumbar’.

Gun sendiri sepertinya punya histori cukup panjang dengan Mahyeldi, mulai dari soal tempat tinggal dulu sampai kemudian Mahyeldi sempat meresmikan satu tempat usahanya, saat Mahyeldi masih menjadi Walikota Padang, tetapi sepertinya Gun Sugianto merasa ragu apakah Mahyeldi masih mengingatnya.

Menanggapi hal itu, Mahyeldi sempat tertawa beberapa kali sembari mengucapkan kata : “lai takana dek ambo”.

Suasana takziah malam itu juga diwarnai oleh cerita sang Umi tentang aktifitas dirinya dan sang Buya dalam menjalin hubungan dengan masyarakat melalui kegiatan pesta pernikahan.

Menurut pengakuan Umi bahwa dirinya pernah memenuhi undangan masyarakat sebanyak 21 undangan dalam satu hari. Dari total undangan itu, tujuh dihadiri Mahyeldi dan sisanya oleh dirinya sendiri.

Sejak mulai jam berapa Umi berangkat dan pulang dari dan ke pesta itu? Tanya Gun Sugianto. “Sejak jam 10 pagi hingga jam 10 malam,” jawab Umi singkat dan padat yang disambut tawa yang hadir di rumahnya malam itu.

Takziah diakhiri dengan salam penutup oleh Asisten II Setdako Sumbar Wadarusmen dengan mendoakan almarhum ditempatkan Allah SWT ditempat yang layak di sorgaNya yang dijawab Mahyeldi dengan ucapan terima kasih dan maaf apabila harus menunggu pada saat kami datang Mahyeldi masih tertidur di kamarnya.

(*)

Awaluddin Awe

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *