Diskusi SATUPENA, Nasir Tamara: Perang Iran Melawan Israel Jadi Gambaran tentang Perang Masa Depan

  • Bagikan
Nasir Tamara. (internet)

HARIANINDONESIA.ID – Perang antara Iran melawan Israel yang berlangsung tak lebih dari seminggu sejak 13 April 2024, mennggambarkan tentang cara perang di masa depan.

Hal itu diungkap penulis sekaligus wartawan senior Nasir Tamara dalam diskusi bertema melihat lebih dekat konflik Iran-Israel yang berlangsung di Jakarta, Kamis 25 April 2024 malam.

Diskusi yang menghadirkan Nasir Tamara itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA.

Dalam diskusi itu, Nasir Tamara menyatakan, perang Iran melawan Israel adalah “perang udara,” di mana kedua pihak memakai peluru kendali dan drone yang dikendalikan dari jarak jauh.

“Dominasi peluru kendali dan drone itu akan menjadi ciri perang masa depan,” kata Nasir.

“Jarak geografis antara Iran dan Israel cukup jauh dan keduanya tidak memiliki perbatasan darat bersama,” ujar penulis buku Revolusi Iran ini.

Nasir mengungkapkan, ada hubungan yang kompleks antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

Dulu, ketika Iran masih berbentuk monarki dan dipimpin oleh Shah Iran, hubungan Iran, Israel, dan AS sangat dekat.

“Di Iran juga ada komunitas Yahudi yang hidup aman, karena di sana ada toleransi beragama yang tinggi,” katanya.

“Tetapi rezim Shah Iran adalah pelanggar HAM. Waktu itu, ada lembaga intelijen SAVAK yang menindas rakyat. SAVAK bisa menangkap oposisi atau mahasiswa tanpa proses pengadilan. Rakyat Iran akhirnya memberontak,” tambahnya.

Nasir menjelaskan, rezim monarki Shah Iran yang didukung AS akhirnya runtuh. Ia diganti dengan Republik Islam Iran dengan pemimpin spiritualnya Ayatullah Khomeini, yang pulang dari pengasingannya di Paris. Hubunan Iran, Israel, dan AS lalu rusak.

Menurut Nasir, serangan balasan Iran yang berani ke wilayah Israel pada 13 April lalu menunjukkan suatu hal yang baru, karena Israel diketahui memiliki senjata nuklir.

SIMAK JUGA :  Pasien Positif Corona di Sumbar Bertambah Satu lagi, Total keseluruhan Jadi 12 Orang

“Awalnya ada anggapan bahwa tidak ada negara yang berani menyerang ke wilayah negara lain yang memiliki senjata nuklir, seperti Israel,” ucap Nasir.

“Tetapi terbukti Iran berani melanggar anggapan itu lewat serangan rudal dan dronenya ke wilayah Israel,” katanya. (K) ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *