Diskusi SATUPENA, Fawzy O’nishi: Masyarakat Betawi Kurang Memiliki Kompetensi dalam Persaingan Ekonomi, Politik, dan Sosial

  • Bagikan
Ilustrasi - Ondel Ondel, Kesenian Masyarakat Betawi di Jakarta. (ANTARA)

JAKARTA – Masyarakat Betawi umumnya belum memiliki kompetensi yang baik dalam persaingan dalam aspek ekonomi, politik, sosial, dan aspek-aspek lainnya.

Hal itu dinyatakan oleh Fawzy O’nishi, pengamat budaya Betawi, dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Panulis Indonesia SATUPENA di Jakarta, Kamis malam, 1 Desember 2022.

Dalam keterangan pers yang dikirim pengurus SATUPENA kepada HarianIndonesia, Fawzy memaparkan, adat tradisi dan budaya Betawi sekarang ini terus diterpa badai dan pergeseran.

“Padahal ini adalah salah satu budaya yang terlahir sangat epik, di tanah strategis yang paling diperebutkan para wangsa,” tuturnya.

Betawi, kata Fawzy, menjadi melting pot peleburan budaya, serta dapat dikategorikan paling memiliki napas kebangsaan dalam kaleidoskop sejarah Indonesia.

Namun, di zaman modern yang terus berkembang, semakin bermunculan fenomena aftershock, seperti halnya bencana gempa. Keberadaan tradisi budaya semakin terguncang, tak memiliki kepastian.

“Budaya Betawi di Jakarta adalah salah satu yang paling merasakan dampak demikian,” ujarnya.

“Kurangnya kemampuan ekonomi, menjadi salah satu faktor penyebab tertinggalnya masyarakat Betawi di dalam persaingan di Ibu Kota,” tambah Fawzy.

Banyak kalangan berpandangan, salah satu faktor penyebab ketertinggalan itu juga pada mindset masyarakatnya.

“Paradigma kawula muda Betawi yang kurang giat dan belum memiliki kesadaran berpendidikan tinggi juga perlu dikikis,” kata Fawzy.

Budaya Betawi terbelenggu di antara gegap gempita kejutan budaya lintas generasi. Yakni, mulai dari baby boomer, milenial, sampai gen-Z yang semakin kritis dan dahaga akan hal baru.

Tradisi asli masyakat Betawi, silih berganti dihantui arus modernisasi yang terus saja terbarukan. Di tengah dinamika Jakarta yang terus bertransformasi saat ini, Gerakan Kebangkitan Betawi (Gerbang Betawi) adalah gerakan moral, intelektual, dan profesional.

SIMAK JUGA :  Kemensos Ajak Dunia Usaha Ringankan Beban Korban Bencana

Fawzy menjelaskan, gerakan ini diharapkan berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change) atas pola pikir, perilaku, dan pola rasa (spiritualisme) masyarakat Betawi saat ini, menuju ke arah yang lebih baik di masa mendatang.

“Bila kita sempat mengidentifikasi dan hendak berupaya menjaga aset budaya bangsa, niscaya kita akan bertanya: Mengapa kini tradisi dan adat istiadat Betawi tampak ada dalam situasi ketidakmerataan?” kata Fawzy bertanya.

“Kondisinya belumlah dapat dikatakan seimbang, jikalau kita bandingkan dengan keseluruhan heritage Nusantara,” ujarnya. ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *