Beranda BERITA UTAMA Aplikasi FaceApp Dapat Akses ke 150 Juta Wajah dan Identitas Pengguna

Aplikasi FaceApp Dapat Akses ke 150 Juta Wajah dan Identitas Pengguna

JAKARTA, harianindonesia – Internet kembali diriuhkan oleh foto wajah menua hasil editan aplikasi FaceApp. Namun di balik viralnya aplikasi ini, ternyata ada kekhawatiran jika data pengguna bisa dimanfaatkan oleh pengelola aplikasi.

Aplikasi FaceApp telah diunduh oleh lebih dari 100 juta orang di Google Play Store. Sementara di iOS App Store, aplikasi FaceApp menempati posisi teratas peringkat aplikasi populer di 121 negara, menurut App Annie.

Hal ini membuat FaceApp diyakini telah mengumpulkan lebih dari 150 juta data wajah dan identitas pengguna lewat aplikasinya.

Berdasarkan syarat dan ketentuan penggunaan aplikasi FaceApp, perusahaan memang harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pengguna untuk mengakses dan melakukan apapun pada foto yang telah diunggah.

Dalam persyaratan itu disebutkan juga bahwa data yang diunggah ke aplikasi FaceApp dipastikan sudah mendapat izin pengguna dan memiliki lisensi tanpa royalti yang tak dapat dibatalkan.

“Anda memberi FaceApp lisensi dan sub-lisensi abadi, tidak dapat dibatalkan, tidak eksklusif, bebas royalti, dibayar penuh, dapat ditransfer untuk menggunakan, mereproduksi, memodifikasi, mengadaptasi, menerbitkan, menerjemahkan, membuat karya turunan, mendistribusikan, melakukan dan menampilkan secara publik menampilkan konten nama pengguna atau kemiripan apa pun yang disediakan sehubungan dengan konten pengguna,” begitu bunyi syarat dan ketentuan aplikasi FaceApp.

Jadi jangan heran jika suatu hari nanti kamu melihat wajahmu digunakan tanpa sepengetahuanmu. Ini menjadi konsekuensi yang harus diterima sebagai pengguna WhatsApp, seperti dilansir Forbes.

“Wajah kalian mungkin akan muncul di papan iklan di Moskow. Namun, kemungkinan paling besar itu akan digunakan untuk melatih beberapa algoritma pengenalan wajah berbasis AI (artificial intelligence),” kata Peter Kostadinov dari blog teknologi PhoneArena, terkait kebijakan FaceApp tersebut.

Ilustrasi keamanan siber. Foto: TheDigitalWay via Pixabay
Konten pengguna yang dimaksud meliputi nama pengguna, wajah ataupun konten yang dibagikan pada atau melalui aplikasi FaceApp. Semuanya tersimpan dalam server cloud dan pengembang memiliki lisensi untuk mengolahnya.

Tentu ada baiknya pengguna bercermin dari kasus kebocoran data Facebook bahwa data yang dikumpulkan pada sebuah aplikasi bisa saja disalahgunakan untuk kepentingan lain. Seperti Cambridge Analytica yang menggunakan data-data di Facebook untuk kepentingan kampanye politik.

Setelah sesuatu diunggah ke cloud, pengguna kehilangan kendali atas lisensi legal terhadap konten tersebut. Itu jadi salah satu alasan Apple menjaga sebagian besar data di perangkat berbasis AI-nya.

Oleh sebab itu, pengguna perlu berhati-hati dan memberikan perhatian penuh ketika aplikasi meminta akses atau lisensi terhadap konten atau identitas digital. Jangan asal menyetujui dan pastikan apa saja yang kamu izinkan untuk dibagikan dengan aplikasi tersebut.

Sebenarnya, persyaratan seperti itu cukup standar dalam penggunaan aplikasi berteknologi kecerdasan buatan, karena mereka membutuhkan akses ke foto untuk memenuhi fungsinya. Namun, apakah sangat diperlukan pengguna mempertaruhkan data untuk menggunakan aplikasi tersebut.dengan kasus peretasan.

Kalau kamu sangat ingin mencoba aplikasi itu untuk mengikuti tren, sebaiknya jangan berikan akses terhadap galeri gambar kepada FaceApp. Amannya, ambil gambar saja secara langsung lewat kamera di aplikasi.

FaceApp sendiri merupakan aplikasi besutan perusahaan bernama Wireless Lab dari Rusia.

Sumber:kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here