Arti Angka Keramat 13 bagi Universitas Andalas dan Raihan Status PTN-BH

  • Bagikan

Foto peresmian pendirian Universitas Andalas pada tahun 1956 oleh Wapres M.Hatta. Saat diresmikan Unand menempati kampus pertamanya di SMA 1 Bukittinggi saat ini. ( Foto : kredit google)

PADANG – Tanggal 13 September 2021 menjadi hari bersejarah bagi Universitas Andalas (Unand) Padang. Sebab pada tanggal 13 September ini cikal bakal kampus Unand diresmikan oleh Wakil Presiden Muhamad Hatta 65 tahun lalu dan pada tanggal 13 September 2021 ini juga Lustrum ke XIII Unand digelar secara meriah di Kampus Unand di limau Manis Padang.

Kisah pendirian Unand dimulai dari embrio kampus di SMA 2 Bukittinggi. Saat itu, Unand didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1956.

Sementara, nama Universitas Andalas sendiri adalah pemberian langsung dari Wapres Muhamad Hatta saat itu. Nama Andalas adalah menconek nama lain dari Pulau Sumatera.

Presiden Jokowi sempat hadir secara virtual pada Lustrum XIII Unand, Senin (13/9). (Foto : Panitia)

Pada saat didirikan, Unand adalah perguruan tinggi negeri tertua di luar Pulau Jawa dan menjadi universitas keempat yang diresmikan oleh Pemerintah Indonesia pada 1956 itu.

Rektor pertama Unand adalah Mr Sjaaf dan Rektor kedua adalah Prof Harun Zain, yang kemudian mencatatkan sejarah keemasan perkembangan Unand selanjutnya.

Universitas Andalas terdiri dari lima belas fakultas dengan kampus utama di Limau Manis, Padang; terdapat pula kampus-kampus lain di Padang, Payakumbuh, dan Dharmasraya.

Kini dibawah kepemimpinan Rektor Prof Yuliandri, Unand meraih prestasi prestisius sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).

Unand resmi ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) ke-13 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2021

Rektor Unand Prof Yuliandri

Dalam memimpin Unand, Prof Yuliandri didukung oleh Basuki Hadimuljono sebagai Ketua Dewan Penyantun dan Ketua Senat Prof Werry Darta Taifur. Kini Unand memiliki mahasiswa keseluruhannya 2.600.

Berdasarkan Evaluasi dan Klasterisasi Perguruan Tinggi Berbasis Kinerja Penelitian yang diluncurkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional pada November 2019, Universitas Andalas menempati peringkat keempat dari perguruan tinggi se-Indonesia.

Sejak 2016, kampus ini telah termasuk dalam perguruan tinggi negeri cluster 1 dari Kemenristekdikti.


Rektor pertama Mr Sjaaf

Rektor kedua Prof Harun Zein

SEJARAH

Keinginan masyarakat Sumatra Barat untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi sudah ada sejak memasuki abad ke-20.

Hal itu dapat dipahami karena pada masa itu sudah muncul golongan intelektual dan cendekiawan yang peduli dengan pendidikan anak bangsa.

Namun, Pemerintah Kolonial Belanda tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk mewujudkannya. Gagasan itu kembali mengemuka seiring diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Keinginan untuk mendirikan suatu jenjang pendidikan tinggi di Sumatra Barat baru dapat diwujudkan pada tahun 1948 dengan mendirikan enam akademi, yaitu: Akademi Pamong Praja, Akademi Pendidikan Jasmani, Akademi Kadet, Akta A Bahasa Inggris, dan Sekolah Inspektur Polisi.

Ketua Panitia Dies Natalis ke 65 dan Lustrum XIII Unand, Innsanul Kamil

Keenam akademi tersebut berada di Bukittinggi. Selanjutnya, keberhasilan pendirian akademi ini mendorong sebuah yayasan pendidikan bernama Yayasan Sriwijaya untuk mendirikan Balai Perguruan Tinggi Hukum Pancasila (BPTHP) di Padang pada tanggal 17 Agustus 1951.

Mengikuti langkah Yayasan Sriwijaya tersebut, kemudian pemerintah mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar pada tanggal 23 Oktober 1954, Perguruan Tinggi Negeri Pertanian di Payakumbuh pada tanggal 30 November 1954, dan Fakultas Kedokteran serta Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) di Bukittinggi pada tanggal 7 September 1955.

Keempat fakultas tersebut diresmikan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Seiring dengan itu, Yayasan Sriwijaya pun menyerahkan BPTHP kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Tengah. Dan, sejak itu BPTHP berganti nama menjadi Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat.

Suasana Dies Natalis ke 65 dan Lustrum XIII Unand

Kelima fakultas itu menjadi cikal bakal dalam mendirikan Universitas Andalas. Oleh karena merupakan universitas pertama yang didirikan di Pulau Sumatra, maka Bung Hatta mengusulkan nama Universitas Andalas, dengan merujuk kepada nama Pulau Sumatra yang juga dikenal dengan Pulau Andalas.

Pada tanggal 13 September 1956, Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan pembukaan Universitas Andalas di Bukittinggi. Selanjutnya, pada tahun 1958, untuk pertama kalinya Universitas Andalas mulai memetik hasil dengan lulusnya Mr. Rudito Rachmad sebagai Sarjana Hukum pertama.

Satu tahun berikutnya, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat mewisuda pula empat mahasiswanya, yaitu Mr. Herman Sihombing, Mr. Zawier Zienser, Mr. Eddy Ang Ze Siang, dan Mr. Djalaluddin Ilyas.

Beberapa bulan setelah meresmikan Unand, Bung Hatta yang tidak sepaham lagi dengan Presiden Soekarno meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden. Sehingga berakhirlah Dwi Tunggal Soekarno-Hatta.

Beberapa tokoh militer dan politik pun kemudian bersepakat untuk “menegur” pusat dengan mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan menjadikan Sumatra Tengah, khususnya Sumatra Barat sebagai basisnya.

Oleh karena itu, banyak dosen dan mahasiswa Unand yang menunjukkan kesepahamannya dengan PRRI. Akibatnya, Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan untuk menumpas PRRI juga memporakporandakan kampus Unand yang tersebar di beberapa kota: Padang, Bukittinggi, Batusangkar, dan Payakumbuh serta juga yang baru dibangun di Baso.

Situasi politik pada waktu itu benar-benar tidak kondusif untuk melaksanakan aktivitas perkuliahan. Dosen-dosen yang didatangkan dari luar negeri, terutama dari Eropa, ada yang pulang ke negaranya masing-masing dan ada pula yang pindah ke Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor. Pada masa PRRI dapat dikatakan sebagai masa kemunduran Universitas Andalas.

Seiring dengan berakhirnya PRRI, Unand kembali menata perkembangannya. Pada tahun 1961, Unand membuka kembali Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan memindahkannya ke Padang.

Sedangkan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) baru dapat dibuka setahun kemudian dan itupun cuma dengan satu jurusan, yaitu Biologi.

Selanjutnya, Perguruan Tinggi Ekonomi yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Pancasila pada tanggal 7 September 1957 menggabungkan diri dengan Unand.

Pada tanggal 9 Oktober 1963, Unand membuka Fakultas Peternakan. Fakultas ini merupakan Fakultas Peternakan pertama yang didirikan di Indonesia.

Dengan demikian, sampai tahun 1963 Unand telah memiliki tujuh (7) fakultas, namun pada tahun berikutnya FKIP memisahkan diri dan berkembang menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) dan selanjutnya berubah nama menjadi Universitas Negeri Padang (UNP).

Dengan kepindahan kampusnya ke Padang, Unand mulai membenahi diri secara menyeluruh, baik dari segi organisasi, dosen, maupun infrastruktur.

Kampus Air Tawar dibangun untuk Fakultas Pertanian, FIPIA, Fakultas Peternakan, dan FKIP (sekarang menjadi kampus UNP).

Adapun Fakultas Ekonomi dibangun di kampus Jati, Padang (sekarang kampus Fakultas Ekonomi Program Reguler Mandiri dan STIE Dharma Andalas).

Sedangkan Fakultas Kedokteran terdapat di dua lokasi, yaitu Kampus Jati dan Pondok. Fakultas Hukum tetap berada di kampusnya yang lama di Parak Karambia (sekarang kampus Fakultas Hukum Program Reguler Mandiri).

Adapun rektorat Unand berada di kampus Jati bersebelahan dengan Fakultas Ekonomi.

Pada tahun 1962, jumlah dosen Unand sudah mencapai 261 orang, termasuk 180 orang dosen luar biasa dan “dosen terbang”. Adapun jumlah mahasiswanya sudah mencapai 3920 orang.

Pada tahun 1982, Fakultas Sastra didirikan dan mulai menerima mahasiswanya untuk angkatan pertama. Pada awalnya fakultas ini bernama Fakultas Sastra dan Sosial Budaya kemudian berganti nama menjadi Fakultas Sastra karena Jurusan Sosiologi dengan Program Studi Sosiologi dan Antropologi yang juga baru dibuka “dititipkan” di fakultas ini.

Kedua program studi tersebut menjadi cikal bakal untuk mendirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada tahun 1993. Fakultas Sastra kemudian juga berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya pada tahun 2011.

Kampus kedua fakultas ini terletak di Jl. Situjuh, Jati, Padang, yang sebelumnya merupakan Labor Fisiologi Fakultas Kedokteran (sekarang rumah dinas rektor dan gedung percetakan Unand). Berikutnya, Unand membuka pula dua program studi Teknik Mesin dan Teknik Sipil pada tahun 1985, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Fakultas Teknik.

Pada awalnya pengelolaan kedua program studi ini berada di Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA), sedangkan dalam pelaksanaan perkuliahannya Unand bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Pendirian Fakultas Teknik ini baru disetujui oleh Dirjen Dikti pada tanggal 13 Mei 1993.

Sementara itu, Pendidikan Ahli Administrasi dan Perusahaan (PAAP) yang dibuka di Fakultas Ekonomi pada tahun 1980 berubah nama menjadi Program Diploma III (DIII) Ekonomi.

Unand selanjutnya merintis pula pembukaan dua fakultas nongelar teknologi pada tahun 1982, yaitu Politeknik Teknologi dan Politeknik Pertanian.

Kampus Politeknik Teknologi berada di Padang sedangkan kampus Politeknik Pertanian berada di Tanjung Pati, Payakumbuh. Fakultas Kedokteran juga mengembangkan diri dengan membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis pada tahun 1984.

Setahun berikutnya, Unand membuka Program Pascasarjana dengan bekerja sama dengan IPB dan baru pada tahun 2000 Program Pascasarjana ini mulai berdiri sendiri serta mulai pula mendirikan Program Doktor (S3).

SIMAK JUGA :  Penerapan Strategi Intervensi Berbasis Lokal, Presiden : Jangan Buru-Buru Menutup Sebuah Wilayah

Seiring dengan itu, Fakultas Ekonomi juga mulai menerima mahasiswa S2 untuk program Magister Manajemen. Selanjutnya, pada tahun 2008 Unand mengembangkan dua jurusan menjadi dua fakultas.

Kedua fakultas itu adalah: Fakultas Teknologi Pertanian yang dikembangkan dari jurusan Teknologi Pertanian di Fakultas Pertanian dan Fakultas Farmasi yang dikembangkan dari jurusan Farmasi di FMIPA.

Berikutnya, pada tanggal 13 Juli 2012 Fakultas Kedokteran dikembangkan lagi menjadi Fakultas Kesehatan Masyarakat, yang menjadi fakultas kedua belas di Universitas Andalas.

Saat terjadinya gempa bumi tanggal 30 September 2009, identifikasi kerusakan yang terjadi di lingkungan kampus Unand memperlihatkan bahwa hampir semua gedung mengalami kerusakan bervariasi.

Kerusakan paling berat terjadi di Fakultas Teknik Universitas Andalas. Sebagai respons cepat atas gempa tersebut, maka dibentuk Tim Emergency Response and Recovery untuk membantu masyarakat yang terkena musibah gempa yang diketuai oleh Alfan Miko.

Dibentuk pula 2 posko gempa, yaitu di Kampus Limau Manis untuk koordinasi dan penghimpunan mahasiswa untuk jadi relawan dan Posko Kampus Unand di Jalan Perintis Kemerdekaan untuk relawan dan penghimpunan berbagai sumbangan.

Sejak awal berdirinya hingga sekarang ini, Universitas Andalas total telah memiliki lima belas (15) fakultas, dan satu program pascasarjana, dengan rincian 44 program.

PERINGATI LUSTRUM XIII

Kini, tepat pada hari lahirnya, 13 September 2021, Unand juga menggelar Lustrum ke XIII.

Ketua Panitia Lustrum XIII Insannul Kamil yang juga Wakil rektor III, secara spesifik menyebut kesamaan tanggal itu sebagai sesuatu yang unik dan tidak pernah diduga.

“Hari ini kebahagiaan yang sangat luar biasa bagi kita semua, karena tanggal lahir dan lustrum kita sama yakni 13, artinya kesamaan tersebut akan membawa kita semakin termotivasi untuk memajukan kampus, bersama-sama semua pihak, sehingga kedepan kampus Merdeka ini semakin jauh lebih baik dari kampus lainnya,” papar Insannul Kamil yang akrab dipanggil Nanuk.

Nanuk, juga menyebut bahwa pada hari yang bahagia ini, Unand juga mendapat hadiah besar dari pemerintah berupa status Perguruan Tinggi Negri Badan Hukum (PTNBH), yang notabene tidak bisa diraih semua perguruan tinggi.

“Kami sangat berterimakasih pada semua pihak, karena bantuan semua pihak Unand bisa semakin maju dan jaya, serta acara bisa berjalan baik,” kata Insannul Kamil mengakhiri.

Penyelenggaraan Dies Natalis ke-65, lustrum XIII, Peluncuran PTNBH Unand 1956 – 2021 dengan motto “Unand PTNBH sebagai penggerak kolaborasi Indonesia Maju” dilaksanakan secara sederhana tapi terkesan mewah.

Ada banyak karena tokoh nasional mulai dari Presiden, Menko, Pimpinan DPR-RI, pimpinan lembaga negara lainnya memberikan ucapan selamat serta motivasi kepada Civitas Akademika Unand

Presiden RI Joko Widodo bahkan menyatakan, sangat bangga kepada Unand yang merupakan kampus pertama diluar Jawa dan sampai saat ini telah menghasilkan ribuan tokoh, yang ikut membangun bangsa ini.

“Selamat Dies Natalis ke-65 untuk Unand. Saya juga berharap, semoga ke depan teruslah mengembangkan kampus Merdeka ini,” ucap Presiden Jokowi.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim juga mengucapkan selamat ulang tahun Unand ke-65 yang merupakan salah satu dari 16 kampus di Indonesia termasuk dalam kategori Universitas Dunia terbaik.

“Saya berharap Unand dapat Mengembangkan parodi yang sudah ada di kampus Merdeka ini, juga diharapkan bisa membuka parodi baru, saya juga salut dengan semua capaian yang ada,” kata Nadiem.

Rektor Unand Prof Yuliandri, memaparkan bahwa pada saat ini Unand berada pada peringkat 8 dari 20 PTN di Indonesia.

Tetapi, kata Yuliandri, klasterisasi atau pun pemeringkatan Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Diktiristek) pada tahun 2021 hingga laporan ini dibuat belum ditetapkan.

Namun, jika mengikuti Klasterisasi Perguruan Tinggi tahun 2020 yang dikeluarkan oleh DIKTI, maka UNAND berada di Klaster I bersama 15 PT lainnya dengan peringkat ke 13.

Pemeringkatan Dikti tahun 2020, dilakukan untuk 2.136 perguruan tinggi non-vokasi, baik negeri maupun swasta, yang tersedia datanya.

PT dikelompokkan ke dalam 5 (lima) klaster, dengan komposisi klaster 1 berjumlah 15 perguruan tinggi, klaster 2 berjumlah 34 perguruan tinggi, klaster 3 berjumlah 97 perguruan tinggi, klaster 4 berjumlah 400 perguruan tinggi, dan klaster 5 berjumlah 1.590 perguruan tinggi.

“Dengan pendekatan klasterisasi itu maka Unand berada pada posisi ke 13 dari dari 15 perguruan tinggi,” beber Prof Yuliandri pada acara puncak Dies Natalis di convention hall, Senin (13/9/2021)

Yuliandi juga memaparkan beberapa pencapaian UNAND pada tahun 2021 (per 31 Agustus 2021) yang terkait dengan indikator di Renstra Bisnis,
Jumlah keseluruhan mahasiswa yang terdaftar (D3, S1, S2, S3, Profesi dan Spesialis).

Pada akhir Agustus 2021 sedikit mengalami peningkatan dari 31.898 orang pada tahun 2020 menjadi 32.451 orang.

Pada 31 Agustus 2021, khusus untuk program studi sarjana, dalam kondisi pandemi Covid-19, jumlah peminat yang mendaftar ke Unand melalui jalur SNMPTN, SBMPTN dan Mandiri pada tahun 2021 juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020.

Yuliandri juga membuka cerita terkait dengan pencapaian status PTN-BH. Atas dasar pencapaian kinerja dan prestasi UNAND pada tahun 2015, dalam rapat Majelis Rektor PTN Indonesia tertanggal 2 Oktober 2015 di Kemenristek Dikti Jakarta dan 12 Oktober 2015 di Ambon, Menristek Dikti Prof. Mohamad Nasir, Ak, M.Si., Ph.D, memberikan mandat kepada UNAND yang saat itu dipimpin Rektor Prof. Dr. Wery darta Taifur, SE., MA bersama Universitas Brawijaya, juga Universitas Sebelas Maret untuk berubah status menjadi PTNBH.

Atas Mandat tersebut pada 10 Mei 2016 Rektor Unand pada saat itu Prof. Dr. Tafdil Husni SE, MBA membentuk tim persiapan perubahan status UNAND dari BLU menjadi PTNBH.

Tahapan persiapan perubahan status dimulai dengan pengumpulan data dan penyusunan 4 dokumen yang mencakup, Dokumen Evaluasi Diri/ Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) PTNBH, Rancangan Statuta PTNBH dan Dokumen Transisi.

Pada tahun 2017 proses penyusunan dokumen terhenti karena persiapan Akreditasi Unand, pada Juni 2019 Tim persiapan PTN-BH melengkapi data dan menyempurnakan Dokumen PTN-BH serta melakukan sosialisasi untuk memperoleh penyamaan persepsi dan dukungan dari Internal Stakeholders dan Eksternal Stakeholders.

Pada 17 Oktober 2019 Senat Akademik Unand menyetujui perubahan status menjadi PTNBH, pada 21 November 2019. Sesuai arahan Rektor Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA Dokumen PTNBH diserahkan ke Direktorat Kelembagaan Ditjen Dikti, yang dipimpin oleh Ketua Tim PTN-BH Prof Dr Mansyurdin, MS.

Dan, pada ulang tahun ke-65 ini, Unand telah meraih prestasi tertinggi dalam status perguruan tinggi itu, yakni menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Status ini juga menunjukkan bahwa Unand kini sudah jadi perguruan tinggi mandiri dan mampu menjadi perguruan tinggi lebih terkemuka serta bermartabat.

Yuliandri menambahkan, dalam penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi di bidang pendidikan, Unand saat ini telah memiliki 126 program studi (91%) terakreditasi A dan B versi BAN-PT dan LAM-PTKES, serta Internasional yang terdiri dari 13 level doktor, 43 level magister, 47 di level sarjana, 4 di level Diploma III, 12 spesialis, dan 7 profesi.

Jumlah mahasiswa aktif saat ini sebanyak 29.623 orang dengan penyebaran 3.799 orang di program Diploma III, 24.833 orang di program sarjana (84%), 842 orang di program profesi (3%), 415 orang di program Sp-1 (1%), 2.082 orang di program magister (7%), dan 413 orang di program doktor (1%), ditambah dengan 105 orang mahasiswa asing (0,4%) yang berasal dari 16 negara.

Selain itu, dalam penjaminan mutu, Unand untuk Akreditasi Institusi memperoleh peringkat akreditasi A dari BAN PT berturut-turut tahun 2014 dan tahun 2018.

Saat ini 44% Program Studi terakreditasi A dan termasuk 3 Program Studi terakreditasi Unggul karena memeroleh akreditasi internasional ABET.

Unand pada masa transisi PTN-BH menargetkan sebanyak 60% Program Studi terakreditasi A atau unggul.

Peningkatan status akreditasi ini dapat dicapai melalui pendampingan Program Studi dalam menyiapkan dokumen akreditasi dan penguatan SPMI dalam mendukung SPME serta mengadopsi kriteria akreditasi internasional. Strategi untuk mencapai unggul yaitu menetapkan Standar SPMI jauh melebihi SN-DIKTI.

Selain itu, Unand pada tahun 2018 telah tercatat memperoleh Bintang 3 pada QS Star, maka saat ini sedang mempersiapkan QS ranking untuk mengetahui Unand berada posisi berapa, dalam perguruan tinggi terbaik dunia.

Pemeringkatan yang dilakukan QS di tahun ini yang terbesar. Ada beberapa indikator yang dilakukan QS untuk memberikan ranking kepada perguruan tinggi, yakni, Academic Reputation, Employer Reputation, Citations per Faculty, Faculty/Student Ratio, International Faculty Ratio, International Student Ratio.

Dari hasil rilis QS WUR 2022, ada 16 perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan pada peringkat 13 tercatat Universitas Andalas dengan nilai 1.001-1.200, peringkat dunia 1.201+.

Bravo Unand🖕

(Awaluddin Awe)
dari berbagai sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *