Catatan Menjelang Rakernas DPP PKDP : Menunggu Baliaknyo si Anak Hilang

  • Bagikan

Oleh : Awaluddin Awe)*

DPP PKDP Indonesia akan menggelar Rakernas, 4-5 Desember 2021 di Hotel Balairung Jakarta.

Saya diminta seorang kawan menuliskan konsep rekonsiliasi (penyelesaian pertikaian) antara DPP PKDP Indonesia dengan 11 organisasi ughang Piaman setingkat DPP PKDP di Jakarta.

Saya menulis kata pertikaian itu sebagai kata ganti terjadinya perpecahan di tingkat elit PKDP yang kemudian berujung kepada terbentuknya organisasi setara PKDP secara nasional.

Saya menyetujui permintaan itu dengan dengan satu syarat saja, bahwa tulisan ini jangan diangap sebagai sok pintar atau sok hebat. Ini hanya sebagai sumbangsih buat organisasi urang kampuang di Pariaman dan Padang Pariaman disebut Piaman.

Saya sudah mengenal organisasi kekerabatan ughang Piaman sejak kecil di Medan, pada 1980. Saat itu, siapa saja yang menikah, pesta, pasti ada acara ‘badantam, atau memberikan ‘panggilan’ dengan menyebutkan jumlah dan nama orangnya. Dengan cara itu si tuan rumah tertolong karena banyak ‘panggilan’ yang didapat.

Saat itu, penulis mendengar nama organisasinya adalah Ikatan Keluarga Lubuk Aluang (IKA KALA), Ikatan Keluarga Ulakan Tapakis, Ikatan Keluarga Kampung Dalam dan sebagainya.

Setelah dewasa, penulis bergabung dengan Persatuan Keluarga Daerah Padang Pariaman (PKDP) mulai dari DPW Sumbar, DPW Kepri, DPD Batam dan DPP PKDP Indonesia.

Saya sempat melewati masa pahit manis di PKDP, tetapi semua dianggap sebagai uang sekolah, yang pada akhirnya menjadi ilmu yang sangat berharga dalam melihat perbedaan pendapat dan dalam menilai kawan dan lawan.

Pada intinya dari semua pengalaman itu, organisasi ughang Piaman itu tidak bisa benar benar disatukan. Sebab prinsip dan perilaku ughang Piaman itu selalu ingin menjadi nomor satu atau jadi Ketua.

Tetapi jika pandai ‘marosoknyo’ nan kareh tadi bisa jadi lunak dan bahkan menjadi motor penggerak organisasi pada akhirnya.

Arti kata, siapapun yang menjadi Ketua PKDP atau pengurus PKDP tidak boleh memiliki sikap pendendam dan memandang perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang biasa dalam organisasi. Dan bersedia menerima kembali kawan kawannya yang sudah sempat keluar.

AKIBAT PERBEDAAN LATARBELAKANG PENDIDIKAN

Salah satu penyebab munculnya perbedaan di PKDP adalah karena latar belakang pendidikan dan profesi. Di PKDP, keanggotaan pengurusnya terdiri orang yang tidak tamat SD sampai Profesor. Dari pangkek paling randah sampai Jenderal. Dari paling miskin hingga kaya rayanya mintak ampun.

Dan, satu hal, sifat ughang Piaman itu suka mempermasalahkan masalah, bukan mencari jalan keluar dari masalah. Prinsip masalah, apapun dan betapapun beratnya, jika kompak menyelesaikan, maka akan selesai. Tapi jika mempersoalkan masalah, maka sampai kapanpun tidak akan selesai. Ciri ciri itu ada di PKDP.

Contoh, pada saat penulis melemparkan gagasan rekonsiliasi dengan memasukan 11 Organisasi Ughang Piaman di DPP PKDP sebagai anggota luar biasa, sebagai bentuk penyelesaian pecahnya organisasi ughang Piaman, sudah keluar kalimat : Lamak Bana Tu. Sudah Kalua Dimasukan Baliak dengan Manduduakannyo sebagai Anggota Luar Biasa di DPP, DPW dan DPD PKDP.

Padahal, konsep ini adalah jalan keluar dari penyelesaian dari pecahnya organisasi ughang Piaman. Jika ini diikuti maka saya jamin, orang Pariaman akan tersatukan. Dan PKDP tetap sebagai payung organisasi dan payung warga Perantau Piaman dimana saja berada.

Sebaliknya, teman teman yang sudah terlanjur mendirikan organisasi sejenis tetapi diberikan keleluasaan mengembangkan organisasinya tanpa lagi takut berbenturan dengan PKDP. Sebab mekanisme organisasinya sudah disepakati, yakni PKDP Payung organisasi dan ughang Piaman di rantau.

Penulis ingin mengatakan kenapa konsep bagus ini banyak yang tak suka. Pada dasarnya adalah tidak memahami esensi berorganisasi, dan sedikit memiliki sifat pendendam terhadap kawan sendiri.

Padahal filosofi ughang Piaman itu adalah baa kabantuak pacah piriang waktu baralek, tibo di ujuang alek : mode kapa lalu kiambang batauik.

Prinsip ini yang sebagian besar tidak diamalkan oleh para pembesar kita. Mereka selalu membuang lamak dan tiba diparuik dikampihan. Makanya tidak pernah selesai.

KEMBALI KE KITHAHNYA

PKDP sebagai organisasi dan paguyuban ughang Piaman harus kembali ke khitahnya sebagai tampek membicarakan kampung halaman dan sakik sanang dunsanak di rantau.

Pada dasarnya, PKDP itu adalah kelompok sosial kematian dan alek baralek. Untuk memudahkan kordinasi maka dibentuklah persatuan kecamatan dulunya. Jika ada ada kematian, warga sakit atau pesta, maka persatuan ini yang akan mengurus dan mengundang.

SIMAK JUGA :  PKDP Gelar Mubes di Pariaman, Siap Tampung Organisasi Sejenis Bergabung

Seterusnya, para Perantau kecamatan ini juga aktif membantu kampung halaman, mulai dari membangun mesjid, madrasyah dan sekolah atau memperbaiki jalan dan irigasi. Ada juga yang membantu sunatan massal.

Masa kebangkitan ber urang Piaman itu terasa sekali pada saat Bupati Anas Malik memimpin Padang Pariaman. Mantan Kapendam V Jaya (Jakarta) ini memang berhasil membuat para perantau terbangun, karena caranya yang berbeda dengan bupati sebelumnya.

Era 80 itu, ughang Piaman benar bangga jadi orang Pariaman. Sebab program yang dibuat Anas Malik membuat Pariaman terkenal (belum ada kota Pariaman). Salah satunya adalah program pembersihan WC Terpanjang di Dunia alias melarang warga ‘tercirik di Pantai’.

Untuk membersihkan Pantai ini, Anas Malik mengundang para pengusaha Perantau Pariaman untuk membangun Pantai Artha dan Pantai Kata, dua objek wisata bahari yang kini berkembang pesat ditangan Walikota Mukhlis Rahman dan Genius Umar.

Bupati Anas Malik pun berhasil mempersatukan para Perantau Pariaman yang terpecah pecah dalam kelompok Ika Ika Kecamatan menjadi satu organisasi tunggal bernama Ikatan Keluarga Padang Pariaman (IKPP) dengan ketua pertamanya Zainuddin Zainun, yang pada saat itu menjadi salah satu pejabat di Departemen Perhubungan RI.

IKPP kemudian meleburkan diri menjadi Persatuan Keluarga Daerah Padang Pariaman dan terakhir berubah lagi menjadi Persatuan Daerah Keluarga Piaman. Kata Piaman dianggap mewakili kata Piaman Laweh yang menggambarkan sosok orang Padang Pariaman dan kota Pariaman. Padang Pariaman pecah, setelah kota Pariaman lahir dengan Wako pertamanya, Adlis Legan.

BERMAIN POLITIK PRAKTIS

PKDP mulai pacah aluih sejak pemilihan ketuanya menggunakan metodologi pemilihan langsung. Sebelumnya Ketua PKDP dipilih atas kesepakatan bulat para urang tuo, ninik mamak, cadiak pandai, pemuda dan bundo kanduang saja.

Dan, benar benar mulai retak setelah PKDP mengurus kancah perpolitikan kepala daerah di kota Pariaman dan Padang Pariaman. Banyak yang tidak suka PKDP bermain politik praktis, meski sebagian lagi mengharuskan PKDP berpolitik untuk memperjuangkan warganya.

Terakhir, PKDP bertambah goyang setelah ketua umum DPP yang dipilih adalah anggota DPRRI aktif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dampak terpilihnya Buya Refrizal, dua pentolan PKDP Ajo Suhatmansyah dan Ajo Dewa keluar dari PKDP dan mendirikan organisasi sendiri, bernama Forum Komunikasi Masyarakat Pariaman Indonesia (FKMPI).

Saya menggaris bawahi, perpecahan PKDP itu tidak di semua daerah tetapi dominan di DPP. Buktinya sampai saat ini sudah ada 11 organisasi setara DPP PKDP di Jakarta. Terakhir lahir PAKAR (Persatuan Keluarga Asal Pariaman) yang diketahui Ajo Mahyuddin dan saat peresmian dihadiri Bupati Suhatri Bur.

Saya sebagai pencinta perdamaian, sebab bersatu itu indah, bercerai berai berarti membuka peluang Belanda masuk, dan sebagai orang PKDP sengaja menulis tentang rekonsiliasi ini organisasi ughang Piaman ini sebagai masukan kepada DPP PKDP Indonesia agar dibahas di Rakernas dan jika disetujui menjadi agenda pada Mubes akan datang

Betapa indahnya, 11 Pimpinan Organisasi Ughang Piaman duduk satu meja dengan Ketua Umum dan Pengurus DPP dan DPW PKDP mengawal jalannya mubes, sekaligus mengikrarkan kembali masuk menjadi anggota PKDP dan menyepakati pembahasan program bersama.

Saya berpendapat, jika hal ini bisa dilakukan oleh DPP PKDP maka hal ini akan menjadi legacy (sesuatu yang dikenang) oleh masyarakat Pariaman di rantau dan Kampung halaman. Pada saat iven Tabuik, mereka hadir dan mengumumkan telah kembalinya si Anak Hilang ke PKDP.

Tetapi bagi saya sebagai penggagas, hal ini seperti sangat murah menuliskannya. Namun bagi orang DPP PKDP gagasan ini tentu harus mereka hitung dulu, untung ruginya. Sebab sebagian besar pemikir di DPP juga tak peduli berapa banyak organisasi ughang Piaman muncul. Bagi mereka sudah bisa masuk jadi salah satu orang penting di DPP sudah cukup. Untuk apa memikirkan sesuatu yang hanya membuat sakit kepala.

Selama Rakernas!

Mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan ini.🙏

*)Penulis adalah wartawan senior, Perantau Pariaman di Padang Panjang

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *