Menemukan Kembali Serambi Mekkah dari MTQ Nasional di Padang Panjang

  • Bagikan

Oleh : Awaluddin Awe)*

Ada satu kajian yang sudah tuntas dilakukan oleh Walikota Padang Panjang H Fadly Amran tentang identitas kota Padang Panjang sebagai kota Serambi Mekkah.

Bahwa kota Padang Panjang adalah kota religius dan banyak menyumbangkan tokoh dan ulama besar di Indonesia, mulai mendekati kebenaran.

Setidaknya hal itu bisa dilihat dari gebyar pembukaan MTQ Nasional tingkat Sumbar di Padang Panjang, Sabtu (13/11) malam lalu.

Betapa tidak. Dalam satu malam acara pembukaan MTQ saja dapat hadir sekitar 50 ribu pengunjung, tetapi saya yakini juga banyak datang dari daerah tetangga, seperti Agam, Bukitinggi dan Tanah Datar.

Tetapi dari manapun pengunjung itu datang, fakta yang terlihat dari acara pembukaan MTQ di Lapangan Sepak Bola GOR Khatib Sulaiman seperti memperlihatkan kembali sosok Kota Serambi Mekkah yang dulu pernah dikenal dan dikenang di Padang Panjang.

Jadi, rasanya tidak ada yang salah jika Walikota Fadly Amran membuat tagline dalam visi misinya yakni Membangkitkan Kejayaan Padang Panjang, termasuk dari aspek kota religius.

Tetapi sebagai seorang perantau di kota Padang Panjang, saya harus memberikan catatan terbaru kepada Walikota Padang Panjang tentang prinsip kota religius ini.

Pertama, saya menyampaikan bahwa pengembangan kota religius harus sejalan dengan pengembangan prinsip pendidikan keagamaan dalam pengertian yang hakiki.

Sebagai bahan kajian dan diskusi bersama tentang prinsip kota religius itu adalah, pengembangan sektor pendidikan keagamaan jangan hanya bersandar kepada pendidikan formal saja seperti dilaksanakan oleh sejumlah pondek pesantren yang ada di kota Padang Panjang saat ini.

Sistim pendidikan agama Islam secara formal hanya akan membentuk pribadi yang memiliki orientasi lapangan pekerjaan dan mengejar ijazah.

Portofolio kota seperti ini tidak banyak membawa implikasi kepada perkuatan dan kapasitas sumberdaya manusia calon ulama di Padang Panjang.

SIMAK JUGA : 

Oleh sebab itu, saya berpandangan sudah saatnya potensi pendidikan pondek pesantren juga mulai diarahkan kepada pembentukan karakter hafiz, sebagaimana layaknya dilakukan di kota dan kabupaten lain.

Mengapa? Sistim pendidikan pondok tradisional benar benar mengacu kepada pembelajaran tuntas tentang Alquran, termasuk salah satunya menghafal Alquran 36 Juz dan pembelajaran tahfil Quran sendiri.

Pendidikan Hafiz Alquran, selain bakal menjadi bibit dalam regenerasi pengenalan bacaaan Alquran di luar kepala, juga akan menjadi soko guru dalam perlombaan MTQ untuk selanjutnya.

Saya sempat merasakan keanehan tentang julukan Padang Panjang sebagai Kota Serambi Mekkah, tetapi tidak pernah sekalipun meraih juara umum MTQ tingkat Sumbar.

Setelah saya kaji dan diskusikan dengan sejumlah narasumber ketahuan bahwa kota Padang Panjang memang memiliki sejumlah pondok pesantren.

Tetapi konsentrasi pendidikan keagamaannya lebih bersifat universal dan tidak spesifik seperti pondok tradisional.

Saya berharap tulisan saya ini mendapatkan tanggapan dari pihak kompeten di Padang Panjang. Sebab bisa saja saya yang salah memahami prinsip pendidikan di pondok pesantren yang ada sekarang.

Namun untuk uji kasus. Kita dapat melihat kepada daerah daerah yang banyak mengkontribusi prestasi di MTQ dan melahirkan ulama besar, pada dasarnya banyak memiliki pondok pesantren yang 100 persen memiliki kurikulum tentang pembelajaran Alquran tok.

Apakah dimensi pondok tradisional ini memang menjadi jalan keluar untuk lebih mengokohkan status Kota Serambi Mekkah Padang Panjang, atau sebaliknya, apa yang sudah ada saat sudah dinilai cukup menjadi label kota Padang Panjang sebagai kota religius di Indonesia bersama Aceh. (*)

)*Penulis adalah wartawan, Pemimpin Umum Harianindonesia.id dan Pemimpin Redaksi Kabarpolisi.com Jakarta, berdomisili di Padang Panjang

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *