Beranda OPINI JOHN MAGHFULI DAN SITI FADILAH

JOHN MAGHFULI DAN SITI FADILAH

Oleh Wardas Tanjung

Pandemi covid -19 telah menimbulkan efek luar biasa terhadap tatanan kehidupan ekonomi global, politik, kesehatan, agama dan sosial budaya. Reaksi yang muncul kemudian juga berbeda beda antara satu negara dengan negara lainnya.

Bila dicermati, perbedaan reaksi itu sangat tergantung pada keterlibatan suatu negara terhadap konspirasi bisnis yang dibangun oleh kelompok kelompok kapitalis internasional. Ada negara yang terbawa arus karena negara itu masuk ke dalam jaringan konspirasi itu, tapi ada juga negara yang memilih jalan sendiri karena tahu bahwa covid-19 murninya bukan persoalan epidemoligis, melainkan bisnis farmasi.

Presiden Tanzania John Maghfuli misalnya, dia menaruh kecurigaan yang sangat tinggi terhadap hasil tes covid-19 yang menurutnya tidak masuk akal. Bulan lalu, kasus virus Corona di negara itu berjumlah 20 orang, Tapi sebulan kemudian meningkat drastis menjadi 480 kasus. Ia curiga, jangan jangan alat tesnya bermasalah atau memang sudah direkeyasa sedemikian rupa untuk memberikan kesan menakutkan pada publik. Maka Maghfuli memerintahkan aparat utk mengambil sample bukan dari manusia, tetapi dari kambing, domba, pisang dan mangga. Bahkan oli mobil

Sebelum sampel2 itu diserahkan ke laboratorium national, semua sample tersebut terlebih dahulu diberi nama manusia. Tentu saja tanpa sepengetahuan pihak laboratorium. Sampel kambing diberi nama Zabil Hamza 30 thn, pria. Sampel domba diberi nama Sarah Samuel, 45 th, wanita. Mangga diberi nama Elizabeth Ane, 26 th, wanita. Dan seterusnya.

Dan hasilnya, semua sampel itu dinyatakan positif terpapar corona. Presiden Maghuli merasa geli dengan hasil itu. “Apakah semua Mangga perlu di Lockdown?” sindirnya .
Maghfuli tdk menyebutkan alat test itu dari mana, tapi publik menduga, sindiran itu diarahkan ke China, karena negara itulah yang paling cepat menawarkan alat test Corona.

Seperti kita ketahui, presiden John Maghfuli adalah kepala negara yang terkenal sebagai pemberani. Ia tidak segan segan mengambil langkah kontroversi atau berbeda dengan sikap kepala pemerintahan lainnya di dunia. Dalam menghadapi politik covid-19 ini, ia membatalkan semua rencana utang dan proyek yg telah ditanda tangani presiden sebelumnya, Jakaya Kikwete. Padahal tawaran utang Cina sangat besar, 10 miliar dollar atau setara dengan Rp.155 trilyun. “Hanya pemabuk yang berani berhutang ke Cina,” katanya.

BACA JUGA :  AS Carikan Celah Hukum Trump Bisa Sanksi China

Keberanian Maghfuli ini mengingatkan kita kepada mantan Menteri Kesehatan RI Ibuk Siti Fadilah, yang kemudian dijebloskan ke penjara karena dituduh korupsi. “Padahal saya tidak sepeserpun memakan uang itu,” ungkapnya dalam satu sesi wawancara televisi.

Kala itu sekitar tahun 2005, dunia menghadapi wabah flu burung. Ketika para menteri kesehatan dunia bertemu dengan WHO, Menkes Indonesia lah yang menolak flu burung ditetapkan sebagai pandemi. Siti Fadilah tahu, ending dari penetapan pandemi itu adalah pembelian vaksin dengan harga sangat mahal dan negara tidak akan mampu membelinya, kecuali dengan hutang.

“Saya menolak itu. Dan saya mendapat dukungan dari negara negara lainnya yang tidak terlibat dalam konspirasi bisnis ini,” jelas Siti Fadilah, sembari mengatakan flu barang gagal ditetapkan sebagai pandemi. Siti Fadilah melawan flu burung bukan dengan vaksin melainkan dengan lobi lobii politik.

Dalam kasus covid-19 ini, indikasi adanya konspirasi bisnis vaksin tersebut, menurut Siti Fadilah juga terlihat sangat nyata. Kok bisa bisanya ada negara yang menawarkan vaksin, padahal virus ini baru muncul belakangan. “Ini membuktikan adanya rekayasa,” terangnya.

Oleh sebab itu Siti menawarkan negara membuat vaksin sendiri. “Kita punya SDM yang mumpuni untuk membuat vaksin itu. Lagi pula negara mampu menyediakan anggarannya,” ungkap Siti yang baru saja keluar penjara.

Andai hari ini yang menjadi Menkes Indonesia adalah Siti Fadilah, dipastikan penanganan covid-19 akan berbeda dengan yang dilakukan negara negara di dunia.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here