Melihat Jalan Tol Sumatera (5-habis): Rp400 T Ditanam di Tol Sumatera, Genjot Pertumbuhan Ekonomi

  • Bagikan

Oleh : Awaluddin Awe
Wartawan Harianindonesia.id

(Selama dua pekan saya sempat berkeliling di pulau Sumatera melihat langsung pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero) bersama sejumlah subkontraktornya seperti HK infrasuktur (hki), PT Adhi Karya dan Waskita Karya. Berikut laporannya:)

JAKARTA – Presiden Jokowi adalah kepala negara yang pas posisi keberpihakannya kepada daerah. Salah satu contohnya adalah, komitmen Jokowi membangun infrastruktur di daerah, luar pulau Jawa, termasuk di Sumatera melalui paket Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Pemerintah melalui Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) mengucurkan dana sangat fantastis Rp400 Triliun untuk membangun jalan tol di Sumatera sepanjang 2.765 km dalam bentuk lintas utama (mainroad) 1.839 km dan lintas penghubung (feeder/sirip) sepanjang 926 km.

Ada empat status pekerjaan jalan tol di Sumatera itu. Pertama adalah penugasan awal dari pemerintah melalui Perpres no 100 tahun 2014 dan Perpres no 117 tahun 2015 yang terdiri dari 8 ruas jalan tol yakni:

Ruas tol Medan – Binjai sepanjang 17 km, ruas tol Palembang – Indralaya 22 Km, Bakauheni – Terbanggi Besar 140 Km, Pekanbaru – Dumai 131 Km, Terbanggi Besar – Pematang Panggang 100 Km, Pematang Panggang – Kayu Agung 85 Km, Palembang – Tanjung Api Api 90 Km dan Kisaran – Tebing Tinggi 60 Km.

Kedua, ruas penugasan dari Menteri PUPR tahun 2016 no. KU. 09.01-Mn/784 yang terdiri dari ruas tol Medan – Banda Aceh sepanjang 470 Km, Pekanbaru – Padang 240 Km dan Tebing Tinggi – Parapat 98 Km.

Ketiga, penugasan Menteri PUPR tahun 2019 yang terdiri dari  ruas SP Indralaya – Tanjung Enim 119 Km, Muara Enim – Lahat – Lubuk Linggau 115 Km, Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu 95 Km, Dumai – Sp Sigimbal – Rantau Prapat 173 Km dan Rantau Prapat – Kisaran 100 Km.

Terakhir ruas jalan tol yang masih dalam proses pemenuhan data perencanaan yakni Betung – Tempino – Jambi 191 Km, Jambi – Rengat 190 Km, Rengat – Pekanbaru 175 Km, Batuampar – Muka Kuning – Hang Nadim 25 Km dan Prapat – Tarutung – Sibolga 102 Km.

Berdasarkan data, total panjang ruas tol yang telah dioperasikan oleh Hutama Karya sudah sepanjang ±514,5KM. Ruas tol tersebut yakni ruas Medan – Binjai seksi 2&3 (17 KM), ruas Bakauheni – Terbanggi Besar (141 KM), ruas Palembang – Indralaya (22 KM), ruas Terbangi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 KM), ruas Sigli – Banda Aceh seksi 4 Indrapuri – Blang Bintang (14 KM) dan ruas Pekanbaru – Dumai 131,5 KM.

Sementara total panjang ruas tol yang masih dalam tahap konstruksi adalah sepanjang ±641 KM meliputi ruas  Kisaran – Indrapura (48KM), ruas Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat (143KM), ruas Sigli – Banda Aceh (60KM), ruas Sp. Indralaya – Muara Enim (121 KM), ruas Padang – Sicincin (37KM), ruas Pekanbaru – pangkalan (83KM), ruas Bengkulu – Taba Penanjung (18KM), dan ruas Binjai – Langsa (131KM).

Berapa total investasi yang telah dan akan ditanam pemerintah di jalan tol Sumatera ini? Konon kabarnya, jumlah uang yang dipakai untuk membangun jalan tol Sumatera mencapai Rp400 triliun, suatu nilai investasi yang sangat prestisius.

Apakah jumlah investasi tersebut akan relevan dengan pencapaian target bisnis jalan tol di Sumatera di masa depan.

Kepala Cabang Jalan Tol Pekanbaru – Dumai, Indrayana menyatakan, total pendapatan tarif tol yang dipimpinnya masih belum sanggup memenuhi biaya bunga pinjaman pembangunan jalan tol sepanjang 131 Km tersebut.

“Artinya dari aspek bisnis pembangunan jalan tol Pekanbaru – Dumai belum akan mendatangkan untung dalam jangka pendek, tetapi pembukaan jalur tol ini akan merangsang pertumbuhan di sekitar kawasan tol. Pemerintah memeroleh befenit dari efek pembangunan jalan tol, seperti naiknya harga nilai jual tanah, terbukanya prospek ekonomi baru dan berkembangnya arus distribusi barang,” kata Indrayana kepada Harianindonesia.id di Pekanbaru, beberapa waktu lalu.

SIMAK JUGA :  Sambut Dies Natalis 72, Pemuda Katolik Sikka Gelar Turnamen Futsal

Hasil pendataan Harianindonesia.id di ruas jalan tol Medan – Binjai dan Sigli – Banda Aceh, juga menunjukan jumlah pengendara yang memanfaatkan jalan tol masih belum signifikan, dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan.

Tetapi efek dari pemanfaatan jalan tol dirasakan oleh sektor jasa usaha seperti logistik, korporate dan sektor pemerintahan sendiri.

Oleh sebab itu,  tak salah jika Project director jalan Tol Binjai – Langsa, Sunardi ST,  mengatakan bahwa strategi pembangunan jalan tol di Sumatera tak lebih dari upaya pemerintah membuka sekat isolasi daerah, bukan mencari keuntungan langsung dari bisnis jalan tolnya.

Artinya, pemerintah mengucurkan dana segar Rp400 triliun lebih di pulau Sumatera, hanya dengan satu harapan penerimaan pemerintah dari berbagai sektor pendapatan negara, dikemudian hari akan meningkat lebih besar lagi akibat efek jalan tol.

HUBUNGKAN KAWASAN PRODUKTIF

Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Muhammad Fauzan, menambahkan kehadiran jalan tol di Sumatera,  akan menghubungkan berbagai kawasan produktif, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, memangkas jarak tempuh, biaya logistik dan tentunya menciptakan pusat-pusat ekonomi baru di Sumatra.

Sebagai contoh, Fauzan menyebutkan bahwa jalan tol Pekanbaru – Dumai akan  terhubung dengan pelabuhan Bandar Sri Junjungan di Kota Dumai. Sementara, Dumai sendiri menjadi pintu masuk bagi para pedagang dunia melalui Selat Malaka.

Mengutip ekonomi.bisnis.com, negara Indonesia dan Malaysia saat ini terus melakukan berbagai persiapan untuk pembukaan rute roll on roll off (RoRo) Dumai – Melaka.

Pembukaan rute ini dinilai dapat merangsang pergerakan barang dan membantu para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sebab melalui pelabuhan ini dapat mempermudah pergerakan area kendaraan pribadi dan kendaraan komersial lainnya.

Hadirnya jalan tol yang dikelola oleh Hutama Karya menjadi asa baru untuk menjadi pendorong terciptanya sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, menekan biaya logistik, sehingga membuat laju dan pertumbuhan perekonomian Pulau Andalas kian dahsyat.

Kalau konektivitas semakin lancar dan terhubung dengan udara, maka kedepan pergerakan orang dan pergerakan barang akan lebih cepat sehingga biaya akan lebih efisien. Pertumbuhan ekonomi akan terhubung dari satu titik ke titik lain. Infrastruktur kita harapkan menumbuhkan titik-titik ekonomi baru.

Presiden Joko Widodo saat meresmikan ruas tol Kayu Agung – Palembang (Kramasan) sepanjang 42,5 km, yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera Kayu Agung – Palembang – Betung (Kapalbetung) sepanjang 111,69 Km, Selasa (26/1) menegaskan bahwa jalan tol ini tidak hanya menghubungkan antar wilayah – antar daerah, tetapi juga untuk membangkitkan perekonomian di pulau Sumatera khususnya di Provinsi Sumatera Selatan, dan juga akan menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, mengembangkan simpul-simpul pertumbuhan ekonomi yang produktif.

“Saya melihat jalan tol ini akan membuka banyak peluang yang menguntungkan karena dekat dengan pulau Jawa, lahan masih sangat luas, harganya masih kompetitif, juga tenaga kerja yang tersedia di sini sangat besar sehingga aktivitas bisnis bisa dilakukan dengan biaya yang bersaing dengan provinsi lain, bersaing dengan negara lain. Ini untuk pemerataan pembangunan dan membuka lapangan pekerjaan di daerah yang sebanyak-banyaknya sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Presiden.

Presiden juga berpesan kepada pemerintah daerah agar jalan tol ini disambungkan pada sentra – sentra ekonomi, mulai dari pariwisata, kawasan Industri, pertanian, hingga perkebunan supaya manfaat ekonomi dari adanya infrastruktur ini bisa maksimal.

Apalagi, sebagai pulau terbesar kedua di Nusantara dengan populasi melebihi 55 juta jiwa, Sumatera memainkan peran penting dalam perekonomian negara.

Dianugerahi beragam potensi alam dan komoditas berlimpah, mulai dari karet, minyak kelapa sawit, kopi, minyak bumi, batu bara, dan gas alam, pada tahun 2015 Sumatera menyumbang 22,21% produk domestik bruto (PDB) Indonesia, terbesar kedua setelah Jawa, menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Oleh karena itu, kemajuan dan keberlanjutan perekonomian Sumatera sangat penting untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan di kawasan tersebut. Jika pertumbuhan terhenti, perkembangan daerah sekitarnya pun akan terhambat. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *