Masjid Al Muttaqin, Saksi Sejarah Masuknya Islam di Kota Manado

  • Bagikan

MANADO – Masjid Al Muttaqin di Kampung Pondol, Kelurahan Wenang Selatan, Kecamatan Wenang, Kota Manado ini diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kota Manado. Keberadaan Masjid ini tidak terlepas dari sejarah masuknya agama Islam di Kota Manado lewat jalur pesisir laut yang dibawa oleh kesultanan Ternate.

Mereka mayoritas sebagai nelayan sekaligus menyebarkan agama Islam.

“Dikirim dua rombongan, sekira tahun 1750, satu kapal ke Manado sedang satu kapal lagi suku yang duluan itu ke Sangihe. Mereka pekerjaannya nelayan, pas turun di kampung ini,” kata Imam Masjid Al Muttaqin, Muhammad Al Buchari, Minggu (18/4/2021).

Para nelayan itu masuk lewat pesisir laut dan tiba di Pondol yang pada waktu itu merupakan kampung yang letaknya paling ujung, di sebelah utara masih merupakan gunung dan hutan rimba. Pondol berasal dari bahasa Bantik yang artinya ujung.

Selain menangkap ikan mereka juga mulai berdakwah tentang ajaran Islam kepada masyarakat pesisir. Lama kelamaan mereka mulai menetap dan semakin berkembang, sehingga dibangunlah Masjid Al Muttaqin pada tahun 1775 yang letaknya di pinggiran pantai. Di zaman sekarang lokasi itu sudah menjadi jalan raya karena adanya reklamasi pantai.

“Awalnya ada di pinggir pantai, karena waktu itu pemerintah Belanda tidak mengizinkan membangun di jalan protokol,” ujar Al Buchari

Semakin lama, para penduduk Pondol semakin berkembang dan akhirnya sebagian dari mereka pindah ke utara, di dekat muara sungai yang sekarang merupakan kawasan pelabuhan Manado. Di lokasi yang baru itu mereka menetap dan menamakan tempat itu sebagai Kampung Ternate.

Namun dikarenakan abrasi pantai, mereka kembali pindah sedikit masuk ke dalam hutan, wilayah yang sekarang bernama Kampung Ketang Baru dan Kampung Ternate Baru.

SIMAK JUGA :  Dialog Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa tentang Perintah Shalat, Awalnya 50 Waktu Kemudian jadi Lima

Masjid Al Muttaqin sendiri akibat abrasi pantai, dipindahkan ke lokasinya yang sekarang sekitar tahun 1790. Sayangnya peninggalan-peninggalan benda sejarah dari masjid ini sudah tidak ada lagi karena masjid pernah hancur terkena bom pada masa perang dunia ke II.

“Karena di sini dahulu merupakan pusat komunikasi, pada zaman Jepang itu kampung ini disebut Pondol Weh atau Pondol kabel sehingga dihancurkan sekutu, hancur sampai dengan Masjid,” ujar Al Buchari.

Masjid Al Muttaqin pernah beberapa kali direnovasi hingga seperti sekarang. Tahun 1964 masjid dikembangkan agar bisa menampung jamaah yang kian bertambah. Tahun 1973 masjid kembali direnovasi dan dibangun menjadi dua lantai.

Selain sebagai tempat bersejarah masuknya agama Islam pertama kali di Kota Manado, Masjid ini juga tidak lepas dari sejarah Kesultanan Yogyakarta.

Di kawasan Masjid Al Muttaqin dahulu disebut Pondol Raden Mas yang diyakini merupakan tempat tinggal dari Pangeran Arya Suryeng Ngalaga, Putra Sultan Hamengku Buwono V dari istrinya Kanjeng Ratu Sekar Kedaton.

Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dituduh membangkang dan akan melakukan perlawanan terhadap raja dan istana sehingga bersama anaknya dibuang ke Manado sekitar tahun 1855.

Di Manado, Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putranya bersama para pengikutnya menetap di Kampung Pondol. Pada waktu itu Pondol terbagi dua, Pondol Keraton dan Pondol Raden Mas. (*/Inews/Sevry)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *