Diskusi SATUPENA, Satrio Arismunandar: Kehidupan adalah Perjalanan dan Komaruddin Hidayat adalah Peziarah

  • Bagikan
Satrio Arismunandar

HARIANINDONESIA.ID – Dalam buku terbarunya, Komaruddin Hidayat memandang kehidupan sebagai sebuah perjalanan, dan dia sendiri sebagai pejalan atau peziarah.

Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Satrio Arismunandar menanggapi diskusi tentang buku karya Komaruddin Hidayat, yang berjudul “Jalan Pulang, Seni Mengelola Takdir.”

Diskusi yang dilangsungkan di Jakarta, Kamis 2 Mei 2024 itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.

Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadirkan narasumber Komaruddin Hidayat, selaku Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia) 2019-2024.

Satrio menuturkan, fenomena seorang penulis menempatkan diri sebagai peziarah dalam sebuah perjalanan kehidupan bukanlah hal baru.

“Ada ungkapan orang Jawa yang menyatakan, hidup di dunia itu seperti kita berhenti sejenak di warung untuk sekadar minum teh, untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi,” tutur Satrio.

Menurut Satrio, dalam khasanah tasawuf atau sufi, juga ada karya besar Fariduddin Attar yang berjudul “Musyawarah Burung.” Ini berkisah tentang perjalanan sejumlah burung untuk bertemu dengan Simurgh, raja diraja para burung.

“Perjalanan burung-burung itu sendiri merupakan perlambang dari pencarian makna kehidupan dan perjalanan batin dari makhluk, untuk mencapai tingkatan yang sedekat-dekatnya dengan Allah SWT,” katanya.

Yang menarik dari uraian Komaruddin, katanya, ia memandang semua orang pada dasarnya adalah sama sebagai peziarah.

“Artinya, dalam perjalanan ziarah itu, semua orang punya pengalaman sendiri. Mereka melihat hal-hal di sekitarnya, menghayati, dan memperoleh kesan-kesannya sendiri,” tutur Satrio.

“Oleh karena itu, semua orang secara potensial sebetulnya punya hal-hal untuk dituliskan, diceritakan, dan disebarluaskan. Idealnya, semua orang adalah peziarah dan seharusnya menjadi penulis,” katanya.

Menurut Satrio, jika semua orang menuliskan pengalaman hidupnya, mencatat hal-hal yang ia lihat, hayati, dan rasakan dalam kehidupan, maka dampaknya akan besar sekali.

SIMAK JUGA :  Bacaleg DPR RI Perismon: Keputusan Pemilu Terbuka, Jadi Angin Segar Bagi Luak Limopuluah

“Itu akan merupakan kontribusi amat besar, yang akan memperkaya khasanah intelektual dan kebudayaan kita. Luar biasa!” ucap Satrio.

Dalam khasanah Islam, Satrio menunjuk Al Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW, sebagai catatan tertulis yang terus menginspirasi umat Islam.

“Ini inspirasi yang tak habis-habisnya sampai akhir zaman,” ujarnya. (K) ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *