MENGENAL RITUAL BASAPA SEBAGAI TRADISI TAHUNAN DI NAGARI ULAKAN

  • Bagikan

Oleh: Hasbi Ash-Shiddiqi)*

Sumatera Barat adalah satu daerah yang terletak di pulau Sumatera. Keberagaman adat dan budayanya selalu mendapatkan daya tarik tersendiri bagi masyarakat dalam skala nasional mau pun internasional.

Perihal kebudayaan yang ada di Sumatra Barat atau yang biasa kita dengar dengan suku Minangkabau sangatlah kental, karena masyarakat Minangkabau selalu menjunjung tinggi adat istiadatnya. Tradisi dan adat istiadat yang ada di Minangkabau tidak terlepas dari berbagai macam keunikan peristiwa sosial dari masa ke masa.

Keunikan peristiwa sosial yang populer bagi masyarakat Minangkabau, salah satunya terdapat di daerah Kabupaten Padang Pariaman, tepatnya di Nagari Ulakan yakni tradisi Basapa.

Pada masa dahulunya salah satu tokoh yang populer dalam penyebaran Islam di daerah Minangkabau yaitu Syekh Burhanuddin, karena pada sejarahnya beliau telah berjasa mengembangkan islam, berawal dari daerah Ulakan dan menyebar luaskan ke daerah-daerah yang ada di Minangkabau hingga akhir hayatnya.

Beliau dimakamkan juga di daerah Ulakan, maka dari pada itu untuk mengenang jasa beliau timbullah tradisi Basapa yang terjadi di daerah Ulakan.

Basapa yaitu salah satu tradisi spiritual dari sekian banyak tradisi-tradisi yang ada di Minangkabau.

Basapa artinya yaitu Bersyafar atau berziarah ke makam Syekh Burhanuddin pada bulan Safar. Tradisi Basapa ini biasanya dilaksanakan pada tanggal 10 Safar atau pada hari Rabu minggu kedua dan minggu ke tiga bulan Safar, karena pada tanggal tersebut diyakini sebagai hari dimana wafatnya Syekh Burhanuddin yaitu 10 Safar 1111 H / 1691 M.

Ada dua jenis Basapa yang dilakukan yaitu Sapa Gadang dan Sapa ketek. Sapa Gadang diadakan pada minggu kedua bulan Safar lalu di susul dengan Sapa Ketek dengan jarak seminggu setelah Sapa Gadang.

Selain itu Sapa Gadang lebih intim kepada orang-orang yang datang atau berasal dari luar daerah yang berkunjung ke daerah tersebut, sedangkan Sapa Ketek lebih mencakup untuk masyarakat sekitar atau bisa disebut masyarakat yang telah menetap dalam suatu wilayah tersebut.

Basapa pada masa dulunya digunakan untuk sebuah tradisi keagamaan yang melibatkan sekolompok masyarakat yang pada dasarnya meyakini tradisi tersebut.

Seiring berjalannya waktu tradisi ini hampir-hampir terlepas dari struktur jalan yang pada dasarnya. Sebagaimana tradisi ini pada umumnya yang digunakan sebagai tradisi keagamaan namun pada masa milenial ini tradisi yang kini telah berubah menjadi ajang milenialisme yang berarah pada pacaran, duduk-duduk santai, dan hal sebagainya.

Hal ini justru menjadi sebuah ketimpangan paradigma dalam hal kultur bagi masyarakat sekitar. Gejala ini sangat lumrah dialami oleh golongan muda-mudi mau pun remaja yang baru tumbuh memerah. Jika tragedi ini dialami oleh golongan muda maka tidak mungkin juga didikan dalam lingkungan keluarga atau pun masyarakat menjadi penyebab dari awal mulanya.

SIMAK JUGA :  Hukum Manusia dan Hukum Tuhan

Sistem pendidikan yang kurang maksimal mengakibatkan tercucinya isi kepala dari golongan muda. Apalagi pada masa sekarang sistem pendidikan yang mengangkup sebuah kebudayaan sangatlah sulit.

Peristiwa ini terjadai saat dihapuskannya prodi budaya alam Minangkabau pada masa sekarang atau disingkat dengan BAM. Maka akibat dari ini golongan muda acuh tak acuh terhadap kebudayaannya sendiri. Itu mungkin dalam ruang lingkup pendidikan.

Dalam ruang lingkup masyarakat atau keluarga kurang perhatiannya terhadap anak atau masyarakat dapat menyebabkan penyelewengan terhadap apa yang telah ada seperti halnya kultur dalam suatu wilayah itu sendiri.

Dalam hal ini peran masyarakat sangat diperlukan sebab jika tidak antusias maka hal-hal yang tidak dimungkinkan bisa akan terjadi. Selain itu kelestarian sebuah tradisi haruslah dijaga sebab kalau saja tidak bisa menghadirkan anomali dalam sebuah kultur atau dampak lain selain itu yaitu hilangnya.

Maka peran masyarakat, pendidikan, mau pun keluarga sangatlah diperlukan dalam hal ini agar tidak terjadinya ketimpangan kebudayaan.
Seperti halnya tradisi Basapa yang ada dalam masyarakat Ulakan, jika tidak dirombak secara dalam pada generasinya maka hal yang disebutkan tadi mungkin saja terjadi dalam masyarakat tersebut.

Sebuah saran yang penulis utarakan untuk menghambat terjadinya sebuah anomali dalam kultur masyarakat tersebut.

Membuka Hari Khusus

Maksud membuka hari khusus yang penulis sebutkan yaitu mencari hari yang tepat untuk mengarahkan atau memberikan ilmu tentang suatu kebudayaan yang ada agar tidak mengkaburnya kebudayaan itu sendiri.

Dalam hal ini justru kita mungkin memerlukan keputusan dari pemimpin dalam suatu negeri tersebut terutama pada keluarga seseorang tersebut. Hal ini justru lebih efektif dilakukan dalam rangka mengembalikan jati diri suatu tradisi yang ada sejak dahulu.

Akan tetapi mungkin tidak akan menangkup seluruh masyarakat yang ada. Solusi ini mungkin membutuhkan dana untuk mendatangkan guru yang tepat tapi itu tergantung partisipasi dari masyarakat sekitar.

Kesimpulannya tradisi yang telah digenggam masyarakat dari dahulunya kini telah menjadi atau dijadikan ajang untuk duduk-duduk santai pada masa sekarang tidak menjadi kemungkinan untuk golongan muda tidak ikut dalam hal ini akan tetapi ada beberapa oknum yang mungkin belum mengetahui tentang selah-selih dari Basapa maka dari itu peran masyarakat sangatlah besar atau dibutuhkan dalam hal ini.

Barangkali oknum-oknum yang melakukan hal tersebut bisa saja datang dari luar daerah akan tetapi peran masyarakat untuk mengarahkan atau memberikan sebuah pengetahuan untuk itu.

Sebab jika tidak generasi muda yang akan mewarisi siap lagi bukan mereka, dan akhir kata mungkin kelestarian menjadi hal utama baik yang menangkup apa pun.

*) Penulis adalah Mahasiswa jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand), Padang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *