Seluruh 6 Seksi Tol Sigli – Banda Aceh Tuntas 2021. Masyarakat Seperti Rasakan ‘Kemerdekaan Baru’

  • Bagikan

BANDA ACEH – Seluruh pengerjaan 6 seksi jalan tol akan selesai pengerjaan fisiknya akhir tahun 2021. Secara keseluruhan progres pekerjaan jalan tol sepanjang 74,2 Km tersebut sudah mencapai 63 persen lebih.

Project director Jalan Tol Sigli – Banda Aceh PT Hutama Karya, Slamet Sudrajat melalui assistant implementation controller manager Denny Kusumanegara menjelaskan, sampai saat ini dari 6 seksi jalan tol Sigli – Banda Aceh, satu diantaranya yakni Seksi Indrapuri – Blangbintang sudah beroperasi dan berbayar.

Jalan tol Indrapuri – Blangbintang sepanjang 14 Km ini, menurut Denny, menghubungkan masyarakat Aceh ke Bandara Blangbintang melalui kawasan Indrapuri.

Selanjutnya, satu seksi lagi yang sudah selesai dan telah difungsional pada Natal dan tahun baru lalu adalah tol seksi 3, Jantho – Indrapuri sepanjang 16 Km, yang akan menghubungkan Banda Aceh dengan pusat pemerintahan Aceh Besar di Jantho.

Sementara 4 seksi lain, pada saat ini masih dalam pelaksanaan konstruksi sambil terus melakukan pembebasan lahan. Keempat seksi jalan tol tersebut adalah, seksi Padang Tiji – Seulimeun sepanjang 25 Km yang baru mencapai progres fisik 28,4 persen lebih dan progres pembebasan lahan 84,6 persen lebih.

Seksi Seulimeum – Jantho sepanjang 6 Km dengan progres fisik 66,2 persen lebih dan progres pembebasan lahan 97,6 persen.

Berikut seksi Blang Bintang – Kuta Baru sepanjang 8 km baru mencapai progres fisik 19 persen tetapi progres pembebasan lahannya sudah mencapai 74,65 persen.

Terakhir adalah seksi Kuta Baru – Baitussalam sepanjang 5,2 km dengan progres fisik 53,4 persen dan pembebasan lahan yang sudah mencapai 95,69 persen.

“Jadi jika dihitung secara akumulatif progres fisik jalur tol Sigli – Banda Aceh sudah selesai 64,4 persen, dengan progres pembebasan lahannya sudah mencapai 90,63 persen,” jelas Denny memaparkan.


Total investasi pembangunan keseluruhan 74,4 km dari 6 seksi jalan tol Sigli – Banda Aceh ini mencapai Rp12, 5 triliun lebih dengan masa konsesi 40 tahun.

Pembangunan jalur tol Sigli – Banda Aceh memakan waktu 840 hari terhitung Desember 2018 sampai Maret 202, namun karena ada kendala lahan maka disesuaikan perpanjangannya dan dengan masa pemeliharaan selama 730 hari.

Ruas tol Sigli – Banda Aceh memiliki dua lajur dengan kecepatan kenderaan 100 Km per jam dengan target lalulintas harian 3.168 pada 2021. Besaran tarif tol golongan 1 di jalur ini adalah Rp1. 191 per km pada 2021.

REKAYASA JALUR GAJAH

Denny juga menjelaskan bahwa pada jalan tol ruas Sigli – Banda Aceh seksi 1 Padang Tidji – Seulimeum sepanjang 25 km terdapat 12 km berupa kawasan hutan dimana pada trase jalan tol ini memisahkan 2 ekosistem, yaitu ekosistem seulimeum dan ulumasen

Berkaitan dengan hal itu, jelas Denny, pihak Hutama Karya sudah melakukan pembahasan dengan BKSDA terkait pembangunan perlintasan satwa liar (gajah dan harimau) pada 27 November 2020 lalu.

Dari hasil rapat tersebut diputuskan dua poin. Pertama, dibentuk tim bersama untuk mendetailkan rencana pembangunan bangunan perlintasan yg diintegrasikan sebagai jalur/koridor satwa liar pada kedua ekosistem tersebut.

Kedua, melakukan join survey ke lokasi.

Perkembangan terakhir, jelas Denny, pada 5 Januari 2021 kemarin sudah dilaksanakan survey bersama dengan BKSDA ke lokasi koridor jalan gajah tersebut.

“Selanjutnya akan dibahas kembali terkait dengan bangunan perlintasan satwa liar, namun secara struktur bentuk bangunan jalan gajah yang akan dibangun tersebut masih sama seperti bangunan underpass tol lainnya, tidak spesifik seperti rekayasa hutan,” kata Denny.

Sebelumnya, media ini mendapatkan informasi bahwa untuk memberikan kenyamanan kepada gajah yang akan melewati jalur yang dibuat oleh pihak tol, akan dibuatkan rekayasa jalan gajah bernuansa hutan. Sehingga terkesan jalur baru tersebut benar benar masih seperti hutan benaran.

TAK ADA GANGGUAN SERIUS

Sementara itu, General Supervisor Proyek tol Sigli – Banda Aceh PT Adhi Karya, Roni Kusumanegara, menjelaskan sejauh ini pembangunan jalan tol di ruas Sigli Banda Aceh berjalan aman tanpa ada gangguan serius dari pihak eksternal.

SIMAK JUGA :  Melihat Jalan Tol Sumatera (4) : Tol Sigli - Banda Aceh, 'Kemerdekaan Baru' atau Pelarian Aset?

Gangguan eksternal itu biasanya datang dari pemilik lahan yang tidak setuju dengan pembangunan jalan tol, tidak setuju dengan nilai ganti rugi lahan tol, gangguan preman dan atau ormas lainnya, termasuk dari para oknum kelembagaan resmi di daerah.

Roni memastikan bahwa tidak ada intimidasi dari pihak mana pun dalam pelaksanaan pembangunan jalan tol Sigli – Banda Aceh, termasuk dari mantan personil Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Kami malah banyak dibantu oleh para mantan GAM dalam urusan di lapangan. Mereka juga sangat care dengan dibangunnya jalan tol di Banda Aceh,” ujar Roni.

Demikian juga dengan kelompok organisasi kemasyarakatan lainnya di Aceh, kata Roni juga memberikan banyak dukungan kepada Adhi Karya sebagai kontraktor pembangunan jalan tol Sigli Banda Aceh.

Diakui oleh Roni masih terdapat kendala dalam penggunaan lahan masyarakat sesuai progres disebabkan lahan tersebut masih belum selesai pembebasannya. Tetapi jumlah lahan seperti ini tidak banyak dan tidak menggangu pekerjaan secara signifikan.

WARGA DUKUNG JALAN TOL

Waketum Kadin Banda Aceh, Suwarli yang dihubungi media ini membenarkan bahwa semua stake holder di Aceh memberikan dukungan nyata terhadap pembangunan jalan tol, sebab akan sangat membantu proses transportasi dari dan ke Banda Aceh, baik transportasi orang maupun barang.

Selama ini, kata Suwarli yang juga Ketua Gapensi Aceh, transportasi darat dari Aceh ke daerah luar, ke Medan misalnya, masih memakan waktu yang sangat panjang sampai 15 jam perjalanan. Tetapi dengan adanya tol bisa menghemat waktu setengahnya.

Selain itu, menurut Suwarli, pembangunan jalan tol di Aceh juga sangat membantu ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Aceh.

Dengan kenyataan seperti itu, Suwarli menggambarkan pembangunan jalan tol di era Presiden Jokowi ini sebagai ‘Kemerdekaan baru’ bagi rakyat Aceh. Sebab bisa menikmati fasilitas jalan tol untuk menuju seluruh daerah di Sumatera.

Menurut Ari Wibowo, Section Head Operasi Tol Indrapuri – Blangbintang daya serap tenaga kerja lokal di seksi jalan tol memang relatif tinggi. Sebagai contoh dari 112 personil sebanyak 96 orang berasal dari warga Aceh.

Keseluruhan tenaga lokal tersebut, menurut Ari Wibowo bekerja di level operasional tol. Sementara tenaga kerja dari luar Aceh pada umumnya berasal dari kelompok manajemen tol.

PERPENDEK JARAK DAN BISA LARIKAN ASET

Tetapi pakar ekonomi Universitas Syiah Kuala, Abdul Jamal, S.E., M.Si mengingatkan dampak pembangunan jalan tol. Menurut dia, jalan tol bisa efektif memperpendek jarak tempuh tetapi sekaligus berpotensi besar melarikan aset ke luar daerah.

“Jadi, daerah harus pintar pintar menyiasati operasional jalan tol di daerahnya supaya target pembangunan jalan tol bisa efektif secara ekonomi,” ujar Abdul Jamal yang juga Pembantu Dekan I USK, dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Abdul Jamal, pembangunan jalan tol juga harus mampu mengatasi persoalan kendala transportasi selama ini yakni akibat jarak Aceh – Medan terlalu jauh mengakibatkan harga harga menjadi mahal sehingga menjadi tidak ekonomis.

Namun sebaliknya, Abdul Jamal juga mengingatkan jika tarif tol terlalu mahal juga tidak bisa mendorong perbaikan harga harga dan mencapai target ekonomi yang diharapkan. Sebab yang akan menikmati jalan tol cuma kelompok berduit saja.

Abdul Jamal juga meyakini pembangunan jalan tol membawa implikasi bagus terhadap pembangunan ekonomi di kawasan regional Sumatera Bagian Utara, tetapi sebaliknya dia meragukan sasaran pembangunan jalan tol bisa efektif tercapai di Aceh.

“Setidaknya kita harus lihat dan catat kembali hasil hasil dari pembangunan jalan tol di Aceh, sebab kelompok yang hidup di masyarakat Aceh memiliki visi berbeda tentang jalan tol. Ada yang skeptis dan pesimis, tetapi ada yang juga optimis. Kita lihat saja hasilnya nanti seperti apa,” kata Abdul Jamal mengakhiri penjelasannya. (*)

Awaluddin Awe dari Banda Aceh

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *