PERBEDAAN SIROMPAK PADA ZAMAN DAHULU DAN SEKARANG

  • Bagikan

Oleh : HASBI ASH-SHIDDIQI

Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam pulau. Setiap pulau memiliki banyak budaya yang sangat unik dan beragam. Keragaman itulah yang membuat Indonesia terkenal hingga mancanegara. Salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia ialah berasal dari Sumatera Barat.

Sumatera Barat adalah pulau yang terletak di barat Indonesia, pulau ini identik dengan adat dan istiadat yang ada di dalamnya.Di Sumatera Barat selain kuliner, adat-istiadat beserta budaya nya juga sangatlah kental, salah satunya adalah Sirompak yang ada di nagari Taeh Baruah, kabupaten 50 kota.

Sirompak adalah alat musik tiup yang berasal dari Taeh Baruah, kabupaten 50 kota. Sirompak terbuat dari Talang Anyuik yang artinya yang sudah lama terendam di sungai.

Sirompak memiliki arti merampas atau merompak hati seorang wanita, dari pengertian dapat diartikan kegunaan sirompak yaitu sebagai alat musik guna-guna yang bertujuan untuk mengambil hati wanita atau hati si korban yang di tujunya.

Untuk melancarkan ritual si pelaku Sirompak biasanya diiringi dengan alat yang bernama Gasiang Tangkurak ( permainan gangsing yang terbuat dari tengkorak manusia).

Pada zaman dahulu si pelaku Sirompak biasanya ketika ingin mencari mangsa atau korban dia akan melakukannya di suatu perbukitan atau di hutan yang tidak diketahui orang lain atau sifatnya tertutup.

Pada lokasi tersebut si pelaku pemain Sirompak memainkan alat musik Saluang Sirompak tersebut dengan menyebutkan atau mendendangkan mantra-mantra atau yang biasa disebut dengan Pitunang.

Ritual Sirompak tidak hanya membacakan atau mendendangkan mantra-mantra melainkan juga memainkan Gasiang Tangkurak. Mantra-mantra yang biasa disebutkan adalah :

Den suruah sirayo setan
Jagokan adiak den tidua
Anak angin sirajo angin
Nan hinggok di kayu mati
Oi diak oi

Bapasan den kabakeh angin
Jagokan adiak nan lalok kini
Nan pasan den sakali ko
Nan kok lalok tolong jagokan diak oi
Nan kok duduak tolong tagakkan
Suruah bajalan inyo kini
Katampek denai.

Setelah si pelaku Sirompak melakukan ritual tersebut dengan sempurna, maka akan menimbulkan efek kepada si korban yang di tujunya, salah satunya yaitu membuat si korban gangguan jiwa.

Pada Saluang Sirompak memiliki nada-nada yang berbeda makna. Nada tinggi pada Saluang Sirompak biasanya digunakan untuk memanggil Jin atau biasanya disebut dengan Sijundai , sedangkan nada rendahnya biasanya digunakan untuk berdialog dengan Sijundai tersebut.

Adapun syarat-syarat dalam memulai sirompak ini diperlukan bahan-bahan seperti ; beras, kembang , dan beberapa syarat yang ada dalam sesajen.

Alkisah, Sirompak ini terjadi karena dulu ada seorang pemuda yang tergila-gila terhadap seorang wanita, dan pemuda itu mengungkapkan isi hatinya untuk mengajak sang wanita menikah dan menjalani hidup baru dengannya.

Mendengar hal itu si wanita langsung menolak sang pemuda akibatnya sang pemuda merasa sakit hati dan berniat untuk melakukan segala cara agar mendapatkan hati sang wanita sehingga timbullah niat sang pemuda untuk mengguna-guna sang wanita dengan mendatanginya ke dukun atau pawang sirompak.

SIMAK JUGA :  Aktualisasi Peran Masjid di tengah Pandemi Covid-19

Makanya, itulah yang memunculkan adanya ritual sirompak ketika menyebar di daerah Minang ini, sehingga ritual tersebut cepat menyebar di ranah Minangkabau.

Sirompak memiliki aksesoris dan memiliki arti dan makna yang berbeda seperti Kemenyan, benang picono (banang tujuah ragam).

Pertama adalah kemenyan atau orang minang biasa menyebut dengan (Kumayan) posisi letak Kemenyan adalah pada bagian ujung Saluang Sirompak, gunanya adalah ketika si pemain meniup Sirompak maka aroma kemenyan itu sampai kepada si terget biasanya aroma kemenyan itu berbau harum oleh si korban agar datang kepada si pelaksana ritual Sirompak.

Selain Kemenyan ada juga aksesoris lainnya seperti benang picono (benang tujuah ragam). Bedang ini memiliki makna sesuai dengan posisi letaknya, yang pertama terletak pada ujung Saluang Sirompak yang memiliki arti mengistilahkan mengikat kaki si korban agar bisa datang kepada si pemain Sirompak.

Kedua adalah terletak pada bagian tengah saluang sirompak yang memiliki arti mngistilahakan untuk mengikat hati si korban agar hatinya selalu terpana kepada si pelaku ritual Saluang Sirompak.

Dan, ketiga terletak pada pangkal Saluang Sirompak yang memiliki arti mengistilahkan untuk mengikat pemikiran si korban agar tidak berpaling dan selalu mengikuti perintah atau arahan si pelaku Pemain Sirompak.

Pada tiga ikatan ini memiliki gaya ikatan yang berbeda seperti, ikatan yang terletak pada pangkal dan ujung Saluang sirompak bisa di buka sedangkan ikatan pada bagian tengah tidak bisa di buka isitilah ikatan ini mengandung artian yaitu pada saat si korban setelah sampai di lokasi si pemain Sirompak maka kepala dan kaki si korban akan dibebaskan sedangkan hati si korban tetap terkunci sesuai dengan kondisi ikatan pada bagian tengah Saluang Sirompak.

Perbedaan kegunaan saluang Sirompak pada zaman dahulu dan pada zaman sekarang salah satunya adalah pada zaman dahulu Sirompak digunakan sebagai alat guna-guna untuk mengikat atau membalas dendam kepada wanita yang telah menolak cinta si pelaku pemain Sirompak.

Sedangkan pada zaman sekarang Saluang Sirompak digunakan sebagai seni pertunjukan di kabupaten 50 kota atau diluar daerah tersebut. Pada zaman sekarang pun Sirompak di iringi dengan alat musik lainnya seperti gendang dan lain-lain, sedangkan pada zaman dahulu Sirompak hanya di iringi dengan Gasiang Tangkurak dan di iringi tari-tarian.

Simpulnya adalah Sirompak pada zaman sekarang hanya digunakan sebagai seni pertunjukan saja dan tidak memiliki tujuan untuk mengikat hati para wanita seperti pada zaman dahulu.

*)Penulis adalah Mahasiswa Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *