Jejak – jejak Tulus ; Green Tourism ala Ridwan Tulus, Tour Designer dan Sotopreunership (Social Tourism) Diappresiasi Dunia

  • Bagikan

RIDWAN Tulus (kanan)

Oleh :Dwigita T Puris)*

SELALU menarik mengikuti perjalanan dari seorang Ridwan Tulus yang penuh dengan liku – liku yang selalu muncul dengan ide – ide sederhana yang mampu memberi inspirasi dan solusi masalah dunia khususnya pariwisata.

Disaat awal 2020 ketika pandemik Corona meluluhlantakan dunia dan khususnya membuat dunia pariwisata tidur, beliau justru 5 bulan sebelum pandemik, didepan para master dan para guru besar Sekolah Tinggi Ilmu Hayati – Institute Teknologi Bandung (ITB) sudah berbagi gagasan bagaimana membuat destinasi wisata yang justru menyehatkan dengan Forest Healing dan Oceanic Healing.

Dan menurut Mulyandri Ramadhan Bachtiar, CEO Malala Tours dan Sekjen dari Green Tourism Institute,
ketika tahun 2010 memutuskan untuk memulai usaha di bidang pariwisata setelah bergelut lama
disalah satu NGO internasional, orang eksentrik Inilah yang saya temui untuk mendapatkan masukan dan berbagi
pemikiran.
Imajinasi terhadap dunia pariwisata bertemu di sini, karena sebelumnya pernah mendata
lebih dari 1.000-an perusahaan biro perjalanan wisata
dari berbagai propinsi di Indonesia saya melihat suatu kecenderungan kesamaan program (copy paste dalam istilah IT).
Tidak ada kreativitas, sehingga bingung
menentukan siapa yang harus dipelajari karena tidak jelas siapa yang memulai program tersebut, takut belajar
bukan dari sumber yang tepat.
Saya menyadari sepenuhnya dunia pariwisata tersebut merupakan suatu usaha yang sangat banyak
variasinya karena secara logika setiap orang akan mempunyai minat yang berbeda. Akhirnya perbedaan yang
dicari tersebut berujung pada program yang diusung Sumatra and Beyond, warna-warni pelangi yang saya
sukai terlihat di sini.
Ternyata tidak warna saja yang ditemui, tetapi juga cara memandang warna tersebut yang sangat unik
yang akhirnya menghasilkan kombinasi warna warni yang mengagumkan dan Bahkan warna pandang tersendiri
akan muncul.
Saya masih dan akan selalu mengingat ketika beliau mengajarkan dan memotivasi
saya untuk berusaha dan berkarya dengan harus mem- perhatikan rasa syukur dan apa adanya, serta harus juga memberikannya bagi siapa saja.

“ Tanpa modal dan ijazahpun BISA !” kalau ingin berwiraswasta.
Bagaimana mungkin? Memang, untuk mendirikan perusahaan tentu akan memerlu- kan biaya, begitu juga peralatan kantor dan pendukung lainnya.
Begitu juga dengan gelar , bukankah negara ini memerlukannya. Ternyata untuk meraih biaya itu perlu kreativitas, ilmu, kemauan dan keberanian itulah
bagian paling menentukan. “If you want to be seen by
any people, you must be red in a plenty of white”. Kuti- pan umum Yang sangat membantu dalam menemukan warna sendiri, karakter dan eksistensi.
“Seorang Tour Operator Yang Hebat adalah Sutradara Yang Handal”

Seharusnya ini tidak hanya bagi Tour Operator saja, tetapi bagi wiraswastawan, “mulai dan tentukan warna sendiri.

Tiga sudut pandang unik yang sangat memotivasi kreatifitas. Bisa dikatakan jika warna, karakter dan
eksistensi itu telah ada jalanilah. InshaAllah kendala- kendala akan menjadi pendukung dan turut membesarkannya.
Contohnya, ketika beliau dikenal sebagai salah seorang pioneer Paperless Office di
Indonesia, tidak lain karena kekurangan biaya untuk beli kertas.
Ketika program terkendala dengan akses
masuk suatu tempat wisata, atau terkendala dengan akomodasinya, ditutupi dengan ide
sederhana yang menarik, intuititf.
Semua hal di atas dilengkapi dengan sudut pandang instingtif dan irasional
ketika beliau memodifikasi falsafah Minangkabau: “Alam Takambang Jadi Kantua”, dan sudah didengungkan semenjak 2000an.
Sementara suatu komentar atau tulisan yang sangat menyiratkan hal tersebut baru terbaca tahun The Future Of Travel Is Working From Anywhere, Says NACTA Chapter Co-Chair, Camille Sperrazza”
(pemilik World Awaits Travel), yang dimuat di www. travelmarketreport.com; NACTA = National Association of Career Travel Agents.

Suatu sisi pandang instingtif dari Ridwan Tulus. Dia sudah memulai sebelum orang hebat memikirkannya!

Salah satu warna dalam dunia pariwisata adalah social tourism, yang dalam sejarahnya disebutkan pertama kali oleh ILO dan dikemukanan tahun 1948 melalui “The Universal Declaration of the Human Rights states that “Everyone has the right to rest and leisure,
including reasonable limitation of working hours and periodic holidays with pay”;
kemudian didefenisikan pertama kali tahun 1959 pada Congress of Social Tourism
di Austria oleh Walter Hunziker sebagai berikut “ “So- cial tourism is a type of tourism practiced by low income groups, and which is rendered possible and facilitated by entirely separate and therefore easily recognizable services“;

Lalu tahun 1999 the World Tourism Organization
adopts the “Global Code of Ethics for Tourism” that
stresses tourism potential as regard to socialization and friendship among different people and cultures, universal tolerance and mutual respect.

Keseluruhannya bisa kita simpulkan secara sederhana kalau social tourism tersebut bagaimana memfasilitasi orang yang berpendapatan rendah pun berhak untuk liburan dan kemudian berkenaan dengan kemasyarakatan dan persahabatan antar budaya, tol- eransi universal dan saling menghargai.

Oleh Ridwan Tulus Social Tourism ini pada tahun 2002-an dikembangkan dan di modifikasi melalui sisi lain dengan memberikan pancingan (dalam program liburan yang dirancang) pada orang yang berpendapatan lebih yang sedang dalam liburan untuk berbuat, bukan untuk Kemanusiaan saja tetapi juga bagi lingkungan.
Semacam Community Social Response yang dimasukkan ke dalam program wisata dan dilakukan bersama oleh Tour Operator, Peserta dan Masyarakat.

Kemudian melalui Social Tourism ini dikembangkan Social Tourism Entrepreneurship yang diringkas menjadi SOTOPRENEURSHIP yang istilah tersebut diil-
hami karena salah satu makanan kegemarannya “Soto”.
SOTOPRENEURSHIP ini merupakan ajakan berusaha dan berkarya dengan saling berbagi dan membantu
sesama tanpa merendahkan yang dibantu dan berbasiskan masyarakat serta lingkungan.

Dimata Mulyandri yang akhirnya bergabung dan membantu Ridwan Tulus ini merupakan suatu konsep social tourism yang inshaAllah akan mengembangkan pengusaha-pengusaha dan
program-program SOTOPRENEURSHIP yang menajadi panutan bagi masyarakat banyak.

Saat Pandemik Ide dan Pemikiran Beliau Diappresiasi Dunia !

Melihat ide dan pemikiran beliau para expert, organisasi dunia serta universitas ternama memberi peluang beliau untuk bicara tentang gagasannya ditahun 2021.

25 Januari Gagasan beliau tentang Social Tourism ditulis oleh Naoki Fujimoto, Ritsumeikan University – Jepang dalam thesisnya ” Empowering Local Communities through the Social Tourism Enterprise Approach ; A Case Study of Entra Indonesia.

19 Februari Beliau membuka kantor perwakilan www.sumatraandbeyond.co di Belanda dengan Marko – Erita Lubeek sebagai pengelolanya dan diangkat langsung sebagai Presiden International Green Tour Operator (IGTO) untuk Belanda.

19 Maret Beliau diundang sebagai pembicara tentang Green Tourism untuk para dosen dan mahasiswa Universitas Pancasila – Jakarta dan disiarkan ulang oleh El John TV.

27 Maret Beliau diundang oleh President Pacific Asia Travel Association (PATA), bapak Purnomo Siswoprasetijo dan ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) sebagai Pembicara Utama untuk para pelaku wisata dalam rangka memperingati ” World Tourism Day 2021 ”

6 April Beliau diundang sebagai pembicara oleh Litbang Kompas dan Kementrian PPN / Bappenas dalam FGD mengangkat persoalan daerah sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah pusat melalui Kementrian PPN / Kepala Bappenas.

30 Mei Beliau mendapat appresiasi dari President Textile Art Council (TAC) – Amerika atas program wisata yang dirancang khusus untuk para member TAC dengan judul ” Textile Odissey ” Meet the Makers ” adalah program mereka yang terbaik, terpanjang dunia semenjak dari tahun 1992 organisasi tekstil kenamaan dunia tersebut berkeliling dunia untuk program tekstil. Bahkan guidenya pada trip tersebut Mulyandri Ramadhan Bachtiar adalah guidenya yang terbaik.

19 Juni Salah seorang dokter Amerika yang terinspirasi oleh gagasan dan ide beliau tentang Healthy Destination yang akhirnya membuat perusahaan On Vacation Doctors yang melibatkan sekitar 1.500 dokter yang bisa berbahasa Inggris diseluruh dunia untuk mendampingi wisatawan supaya lebih aman dan nyaman. Beliau langsung mengangkat Jorge A Cordova sebagai perwakilan www.sumatraandbeyond.co dan langsung menjadi presiden IGTO California – Amerika.

16 Juli Beliau mengangkat Michael Vastardis yang juga CEO dari Hospitality Expert sebagai perwakilan dari www.sumatraandbeyond.co dan mengangkat langsung sebagai presiden IGTO untuk Yunani

17 Juli Beliau mendapat kehormatan oleh Dr. Mark Lee, president / CEO Asia Pacific Institute for Strategy untuk bicara tentang Green Tourism dalam acara yang sangat special yang diadakan di Hongkong yaitu CEO Roundtable.

26 Agustus Beliau memberikan seminar ” Menjadi Tour Designer yang Tulus ” di Kyriad Bumiminang Hotel

29 Agustus Beliau diundang sebagai narasumber oleh Kementrian Kominfo dalam acara Gerakan Nasional Literasi Digital.

9 November Beliau mendapat penghargaan dari Enterprise Risk Management Academy – Singapura bersama 3 tokoh Asia Tenggara lainnya. Beliau terpilih karena ide beliau tentang Social Tourism dianggap hal baru untuk dunia.

10 November Beliau diundang sebagai pembicara oleh Hospitality Expert Yunani yang bekerjasama dengan Kementrian Ekonomi Jerman dengan themanya Tourism for Disabilities.

20 November Beliau diundang untuk memberi kuliah umum tentang Green Tourism untuk Program Pascasarjana (S3) Fakultas Ekonomi Bisnis – Universitas Padjadjaran (UNPAD) – Bandung yang juga bekerjasama dengan Alumni Doktor Ilmu Akutansi Unpad.

21 November Beliau diundang oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan – Universitas Negeri Padang (UNP) untuk memberi kuliah umum untuk master kelasnya dengan judul ” Healthy and Sporttourism ; From Hobby to Money.

4 Desember Beliau diundang untuk memberi kuliah umum tentang Green Tourism untuk Prodi Program Doktor – Kajian Lingkungan dan Pembangunan – Fakultas Ekonomi – UNP

5 Des Beliau melaunching program Quizta ( Kuliah Sambil Bisnis Pariwisata ) salah satu edukasi bisnis program dari GTI bekerjasama dengan kampus dan universitas di Indonesia.

13 Desember Beliau juga diundang sebagai pembicara dalam program S3 Pariwisata Universitas Trisakti – Jakarta yang bekerjasama dengan Indonesia Tourism Study Center (ITSC). Beliau dengan materinya ” Green Tourism ; Solusi Pariwisata Dunia !”.

Itulah sekelumit tentang ” Jejak – jejak Tulus ditahun 2021 ” yang walaupun dalam keadaan sulit dan kekurangan beliau masih tetap berusaha berbuat untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.

Semoga visi dan misi beliau dalam mewujudkan Indonesia sebagai Green Tourism Destination (protect the cultures, protect the natures, empower and bring benefit for local peoples serta support conservation) yang menjadi role model pariwisata dunia bisa terwujud sesuai dengan motto G !”
Jejak – jejak Tulus ; Green Tourism ala Ridwan Tulus, Tour Designer dan Sotopreunership (Social Tourism) Diappresiasi Dunia !

SIMAK JUGA :  Jurus Indonesia Keluar dari Ancaman krisis Pangan

By Dwigita T Purisa

Selalu menarik mengikuti perjalanan dari seorang Ridwan Tulus yang penuh dengan liku – liku yang selalu muncul dengan ide – ide sederhana yang mampu memberi inspirasi dan solusi masalah dunia khususnya pariwisata.

Disaat awal 2020 ketika pandemik Corona meluluhlantakan dunia dan khususnya membuat dunia pariwisata tidur, beliau justru 5 bulan sebelum pandemik, didepan para master dan para guru besar Sekolah Tinggi Ilmu Hayati – Institute Teknologi Bandung (ITB) sudah berbagi gagasan bagaimana membuat destinasi wisata yang justru menyehatkan dengan Forest Healing dan Oceanic Healing.

Dan menurut Mulyandri Ramadhan Bachtiar, CEO Malala Tours dan Sekjen dari Green Tourism Institute,
ketika tahun 2010 memutuskan untuk memulai usaha di bidang pariwisata setelah bergelut lama
disalah satu NGO internasional, orang eksentrik Inilah yang saya temui untuk mendapatkan masukan dan berbagi
pemikiran.
Imajinasi terhadap dunia pariwisata bertemu di sini, karena sebelumnya pernah mendata
lebih dari 1.000-an perusahaan biro perjalanan wisata
dari berbagai propinsi di Indonesia saya melihat suatu kecenderungan kesamaan program (copy paste dalam istilah IT).
Tidak ada kreativitas, sehingga bingung
menentukan siapa yang harus dipelajari karena tidak jelas siapa yang memulai program tersebut, takut belajar
bukan dari sumber yang tepat.
Saya menyadari sepenuhnya dunia pariwisata tersebut merupakan suatu usaha yang sangat banyak
variasinya karena secara logika setiap orang akan mempunyai minat yang berbeda. Akhirnya perbedaan yang
dicari tersebut berujung pada program yang diusung Sumatra and Beyond, warna-warni pelangi yang saya
sukai terlihat di sini.
Ternyata tidak warna saja yang ditemui, tetapi juga cara memandang warna tersebut yang sangat unik
yang akhirnya menghasilkan kombinasi warna warni yang mengagumkan dan Bahkan warna pandang tersendiri
akan muncul.
Saya masih dan akan selalu mengingat ketika beliau mengajarkan dan memotivasi
saya untuk berusaha dan berkarya dengan harus mem- perhatikan rasa syukur dan apa adanya, serta harus juga memberikannya bagi siapa saja.

“ Tanpa modal dan ijazahpun BISA !” kalau ingin berwiraswasta.
Bagaimana mungkin? Memang, untuk mendirikan perusahaan tentu akan memerlu- kan biaya, begitu juga peralatan kantor dan pendukung lainnya.
Begitu juga dengan gelar , bukankah negara ini memerlukannya. Ternyata untuk meraih biaya itu perlu kreativitas, ilmu, kemauan dan keberanian itulah
bagian paling menentukan. “If you want to be seen by
any people, you must be red in a plenty of white”. Kuti- pan umum Yang sangat membantu dalam menemukan warna sendiri, karakter dan eksistensi.
“Seorang Tour Operator Yang Hebat adalah Sutradara Yang Handal”

Seharusnya ini tidak hanya bagi Tour Operator saja, tetapi bagi wiraswastawan, “mulai dan tentukan warna sendiri.

Tiga sudut pandang unik yang sangat memotivasi kreatifitas. Bisa dikatakan jika warna, karakter dan
eksistensi itu telah ada jalanilah. InshaAllah kendala- kendala akan menjadi pendukung dan turut membesarkannya.
Contohnya, ketika beliau dikenal sebagai salah seorang pioneer Paperless Office di
Indonesia, tidak lain karena kekurangan biaya untuk beli kertas.
Ketika program terkendala dengan akses
masuk suatu tempat wisata, atau terkendala dengan akomodasinya, ditutupi dengan ide
sederhana yang menarik, intuititf.
Semua hal di atas dilengkapi dengan sudut pandang instingtif dan irasional
ketika beliau memodifikasi falsafah Minangkabau: “Alam Takambang Jadi Kantua”, dan sudah didengungkan semenjak 2000an.
Sementara suatu komentar atau tulisan yang sangat menyiratkan hal tersebut baru terbaca tahun The Future Of Travel Is Working From Anywhere, Says NACTA Chapter Co-Chair, Camille Sperrazza”
(pemilik World Awaits Travel), yang dimuat di www. travelmarketreport.com; NACTA = National Association of Career Travel Agents.

Suatu sisi pandang instingtif dari Ridwan Tulus. Dia sudah memulai sebelum orang hebat memikirkannya!

Salah satu warna dalam dunia pariwisata adalah social tourism, yang dalam sejarahnya disebutkan pertama kali oleh ILO dan dikemukanan tahun 1948 melalui “The Universal Declaration of the Human Rights states that “Everyone has the right to rest and leisure,
including reasonable limitation of working hours and periodic holidays with pay”;
kemudian didefenisikan pertama kali tahun 1959 pada Congress of Social Tourism
di Austria oleh Walter Hunziker sebagai berikut “ “So- cial tourism is a type of tourism practiced by low income groups, and which is rendered possible and facilitated by entirely separate and therefore easily recognizable services“;

Lalu tahun 1999 the World Tourism Organization
adopts the “Global Code of Ethics for Tourism” that
stresses tourism potential as regard to socialization and friendship among different people and cultures, universal tolerance and mutual respect.

Keseluruhannya bisa kita simpulkan secara sederhana kalau social tourism tersebut bagaimana memfasilitasi orang yang berpendapatan rendah pun berhak untuk liburan dan kemudian berkenaan dengan kemasyarakatan dan persahabatan antar budaya, tol- eransi universal dan saling menghargai.

Oleh Ridwan Tulus Social Tourism ini pada tahun 2002-an dikembangkan dan di modifikasi melalui sisi lain dengan memberikan pancingan (dalam program liburan yang dirancang) pada orang yang berpendapatan lebih yang sedang dalam liburan untuk berbuat, bukan untuk Kemanusiaan saja tetapi juga bagi lingkungan.
Semacam Community Social Response yang dimasukkan ke dalam program wisata dan dilakukan bersama oleh Tour Operator, Peserta dan Masyarakat.

Kemudian melalui Social Tourism ini dikembangkan Social Tourism Entrepreneurship yang diringkas menjadi SOTOPRENEURSHIP yang istilah tersebut diil-
hami karena salah satu makanan kegemarannya “Soto”.
SOTOPRENEURSHIP ini merupakan ajakan berusaha dan berkarya dengan saling berbagi dan membantu
sesama tanpa merendahkan yang dibantu dan berbasiskan masyarakat serta lingkungan.

Dimata Mulyandri yang akhirnya bergabung dan membantu Ridwan Tulus ini merupakan suatu konsep social tourism yang inshaAllah akan mengembangkan pengusaha-pengusaha dan
program-program SOTOPRENEURSHIP yang menajadi panutan bagi masyarakat banyak.

Saat Pandemik Ide dan Pemikiran Beliau Diappresiasi Dunia !

Melihat ide dan pemikiran beliau para expert, organisasi dunia serta universitas ternama memberi peluang beliau untuk bicara tentang gagasannya ditahun 2021.

25 Januari Gagasan beliau tentang Social Tourism ditulis oleh Naoki Fujimoto, Ritsumeikan University – Jepang dalam thesisnya ” Empowering Local Communities through the Social Tourism Enterprise Approach ; A Case Study of Entra Indonesia.

19 Februari Beliau membuka kantor perwakilan www.sumatraandbeyond.co di Belanda dengan Marko – Erita Lubeek sebagai pengelolanya dan diangkat langsung sebagai Presiden International Green Tour Operator (IGTO) untuk Belanda.

19 Maret Beliau diundang sebagai pembicara tentang Green Tourism untuk para dosen dan mahasiswa Universitas Pancasila – Jakarta dan disiarkan ulang oleh El John TV.

27 Maret Beliau diundang oleh President Pacific Asia Travel Association (PATA), bapak Purnomo Siswoprasetijo dan ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) sebagai Pembicara Utama untuk para pelaku wisata dalam rangka memperingati ” World Tourism Day 2021 ”

6 April Beliau diundang sebagai pembicara oleh Litbang Kompas dan Kementrian PPN / Bappenas dalam FGD mengangkat persoalan daerah sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah pusat melalui Kementrian PPN / Kepala Bappenas.

30 Mei Beliau mendapat appresiasi dari President Textile Art Council (TAC) – Amerika atas program wisata yang dirancang khusus untuk para member TAC dengan judul ” Textile Odissey ” Meet the Makers ” adalah program mereka yang terbaik, terpanjang dunia semenjak dari tahun 1992 organisasi tekstil kenamaan dunia tersebut berkeliling dunia untuk program tekstil. Bahkan guidenya pada trip tersebut Mulyandri Ramadhan Bachtiar adalah guidenya yang terbaik.

19 Juni Salah seorang dokter Amerika yang terinspirasi oleh gagasan dan ide beliau tentang Healthy Destination yang akhirnya membuat perusahaan On Vacation Doctors yang melibatkan sekitar 1.500 dokter yang bisa berbahasa Inggris diseluruh dunia untuk mendampingi wisatawan supaya lebih aman dan nyaman. Beliau langsung mengangkat Jorge A Cordova sebagai perwakilan www.sumatraandbeyond.co dan langsung menjadi presiden IGTO California – Amerika.

16 Juli Beliau mengangkat Michael Vastardis yang juga CEO dari Hospitality Expert sebagai perwakilan dari www.sumatraandbeyond.co dan mengangkat langsung sebagai presiden IGTO untuk Yunani

17 Juli Beliau mendapat kehormatan oleh Dr. Mark Lee, president / CEO Asia Pacific Institute for Strategy untuk bicara tentang Green Tourism dalam acara yang sangat special yang diadakan di Hongkong yaitu CEO Roundtable.

26 Agustus Beliau memberikan seminar ” Menjadi Tour Designer yang Tulus ” di Kyriad Bumiminang Hotel

29 Agustus Beliau diundang sebagai narasumber oleh Kementrian Kominfo dalam acara Gerakan Nasional Literasi Digital.

9 November Beliau mendapat penghargaan dari Enterprise Risk Management Academy – Singapura bersama 3 tokoh Asia Tenggara lainnya. Beliau terpilih karena ide beliau tentang Social Tourism dianggap hal baru untuk dunia.

10 November Beliau diundang sebagai pembicara oleh Hospitality Expert Yunani yang bekerjasama dengan Kementrian Ekonomi Jerman dengan themanya Tourism for Disabilities.

20 November Beliau diundang untuk memberi kuliah umum tentang Green Tourism untuk Program Pascasarjana (S3) Fakultas Ekonomi Bisnis – Universitas Padjadjaran (UNPAD) – Bandung yang juga bekerjasama dengan Alumni Doktor Ilmu Akutansi Unpad.

21 November Beliau diundang oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan – Universitas Negeri Padang (UNP) untuk memberi kuliah umum untuk master kelasnya dengan judul ” Healthy and Sporttourism ; From Hobby to Money.

4 Desember Beliau diundang untuk memberi kuliah umum tentang Green Tourism untuk Prodi Program Doktor – Kajian Lingkungan dan Pembangunan – Fakultas Ekonomi – UNP

5 Des Beliau melaunching program Quizta ( Kuliah Sambil Bisnis Pariwisata ) salah satu edukasi bisnis program dari GTI bekerjasama dengan kampus dan universitas di Indonesia.

13 Desember Beliau juga diundang sebagai pembicara dalam program S3 Pariwisata Universitas Trisakti – Jakarta yang bekerjasama dengan Indonesia Tourism Study Center (ITSC). Beliau dengan materinya ” Green Tourism ; Solusi Pariwisata Dunia !”.

Itulah sekelumit tentang ” Jejak – jejak Tulus ditahun 2021 ” yang walaupun dalam keadaan sulit dan kekurangan beliau masih tetap berusaha berbuat untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.

Semoga visi dan misi beliau dalam mewujudkan Indonesia sebagai Green Tourism Destination (protect the cultures, protect the natures, empower and bring benefit for local peoples serta support conservation) yang menjadi role model pariwisata dunia bisa terwujud sesuai dengan motto GTI ” World’s Solution”!. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *