BERKURANGNYA TRADISI SENI ULU AMBEK DI PADANG PARIAMAN

  • Bagikan

Oleh: Hasbi Ash-Shiddiqi

Secara umum kesenian Ulu Ambek adalah tradisi Minangkabau yang berasal dari Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Kesenian ini dilakukan oleh dua orang laki-laki dengan gerakan pertarungan berbasis silek, ajaran Islam aliran Syatarian (awal perkembangan Islam yang lahir dari kelompok persaudaraan, sebagai pendekatan diri kepada Allah) yang berupa Gerakan-gerakan serangan serang dan menangkis.

Dalam hal ini penari melakukan Gerakan sebuh tarian yang meliputi gerakan silek dengan gaya tangkisan, serangan, kecepatan, kelincahan serta keindahan kesenian tari yang menggambarkan struktur masyarakat di daerah tersebut.

Pada dahulunya kesenian ini sangat digemari oleh masyarakat sekitar serta sudah menjadikan hal ini sebagai kebudayaan dalam masyarakat tersebut.

Dalam hal ini eksistensi dari kesenian ini sekarang telah mulai mengabur sebab dampak dari globalisasi yang semakin pesat. Modernisasi dalam lingkungan suatu masyarakat bisa mendorong terjadinya anomali kebudayaan dalam struktur masyarakat.

Kesenian ini pada dasarnya suatu yang patut dilindungi dari segi kebudayaan sebab keberadaan tradisi ini semakin hari semakin hilang dalam lingkungan masyarakat.

Kesenian ini pada dahulunya dilaksanakan saat adanya pengangkatan penghulu di Minangkabau. Pengulu dalam KKBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) edisi V adalah seseorang yang menikahkan seorang lain sebagai pihak penengah, sedangkan di Minangkabau adalah seseorang yang dapat dipercaya atau bisa mendidik serta sebagai contoh teladan dalam suatu kelompok (suku di Minangkabau), selain itu penghulu juga bisa disebut orang yang didahulukan salangkah dan ditinggikan sarantiang atau lebih familiar dengan sebutan datuak gelar tersebut diterima secara turun-temurun menurut kolompok tertentu.

Pada dahulunya kesenian ini dilakukan saat pengangkatan tersebut, dengan tujuan menghibur atau bisa disebut kesenian dari pemuda-pemudi dalam suatu masyarakat tersebut.

Namun pada saat ini, kesenian tarian yang ada di Ulu Ambek ini sudah mulai memudar di era Milenial ini. Keberadaan tradisi ini bisa dilihat dari aspek modernisasi yang terjadi dalam suatu daerah, masyarakat atau muda-mudi pada umumnya pada masa ini sangat sudah acuh tidak acuh terhadap kesenian.

Faktor yang mempengaruhi ini tidak lain adalah hadirnya dunia digital atau media sosial yang menghambat segala kegiatan masyarakat seperti sosialisasi, interaksi, serta meliputi kesenian atau kebudayaan yang ada.
Masyarakat pada umumnya lebih cenderung berpandangan terhadap dunia maya dibandingkan dengan realita.

Contohnya jika ada panggung kesenian yang didirikan oleh muda-mudi setempat, orang-orang pada umumnya lebih memilih melihat gadget ketimbang dengan kesenian yang sedang berlangsung di depan mata.

Fenomena ini sudah jelas dampak dari hilangnya kebudayaan ini terjadi karena faktor globalisasi yang terjadi. Kejadian ini jika tidak dilanjuti akan berdampak pada benar-benar hilangnya kebudayaan tersebut.

Keadaan ini harus dibatasi atau penulis menyarankan membuatan peraturan atau batasan ketika adanya panggung kesenian.

Kesenian yang berasa dari Ulu Ambek ini bermakna sebagai ideologi suatu wilayah tersebut. Menurut Istilah Ulu yang berarti menyerang sedangkan Ambek yang berarti maambek (menangkis) serangan dari lawan.

SIMAK JUGA :  Konflik Papua Medan Pertarungan Politik Paska Pilpres 2019

Dalam hal ini Ulu Ambek bisa disebut sebagai kesenian bertarung, menangkis, serta menyerang lawan namun tanpa bersentuhan secara fisik akan tetapi ada faktor yang bisa membuat seseorang yang buluih dalam kesenian ini seperti kurang sigap atau tanggap dalam mambaca gerakan lawan, kurang memahami gerakan, serta ketidak fokusan pemain akan perannya dalam suatu kesenian tersebut.

Pertunjukan Ulu Ambek diadakan pada saat acara alek nagari serta lokasi yang digunakan untuk pertunjukan seni Ulu Ambek disebut sebagai laga-laga. Selain di surau laga-laga atau biasa disebut dengan medan nan balinduang berfungsi untuk rapat adat, musyawarah yang dilakukan oleh niniak mamak atau muda-mudi yang berada dalam suatu kelompok atau kaum di Minangkabau.

Pertunjukan kesenian Ulu Ambek adalah sebuah pertunjukan beradat dan pada saat terjadinya pertunjukan Ulu Ambek tersebut dihadiri dari berbagai kelompok atau suku daerah lain, dalam kata lain kelompok internal ini hadir sebagai niniak mamak atau penghulu nagari-nagari yang terlibat dalam seni pertunjukan Ulu Ambek tersebut.

Gerakan-gerakan kesenian ini diiringi dengan gerakan musik pengiring atau dendang yang bisa disebut dengan dampeang yang dilakukan oleh dua orang. Peran pemain dalam kesenian Ulu Ambek tidak lain meliputi raso jo pareso dan ereang jo gendeang karena mereka (para pemain) berperan sebagai menghambat setiap serangan dari lawan agar tidak terjadinya buluih tadi.

Kesimpulannya setelah banyaknya ringkasan tantang kesenia Ulu Ambek kesenian ini adalah sebuah kesenian kebudayaan yang ada di Padang Pariaman dengan guna sebagai pertunjukan serta menghibur para penonton.

Kesenian ini pada dasarnya adalah gerakan pencak silat atau silek dalam bahasa Minangkabau, namun perbedaan antara keduanya adalah silek adalah suatu bela diri yang berfungsi sebagai pagar diri serta gerakan yang digunakan bisa membuat lawan cedera, sedangkan kesenian Ulu Ambek ini juga sebuah gerakan pertarungan akan tetapi pertarungan tersebut adalah sebuah pertunjukkan yang sama sekali tidak membuat seseorang atau orang lain cedera.

Keberadaan tradisi ini pada masa sekarang bisa disebut sangat miris karena pada dasarnya generasi-generasinya acuh tak acuh terhadap suatu kebudayaan. Selain itu pada masa sekarang bahkan ada juga masyarakat pada masyarakat yang terikat sama sekali tidak tau dengan kesenian tersebut.

Sebagai generasi penerus suatu kebudayaan peran muda-mudi dalam suatu masyarakat tersebut sangat penting untuk menghidupkan kembali eksistensi kebudayaan dalam suatu masyarakat tersebut agar tidak terjadinya hilangnya kebudayaan dalam ruang lingkup masyarakat.

*) Penulis adalah Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, berdomisili di Padang Pariaman.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *