Joe Biden Larang 30 Negara Ini Masuk AS

  • Bagikan

Joe Biden

WASHINGTON, – Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden menghidupkan kembali aturan larangan masuk warga negara asing dengan riwayat perjalanan dari 30 negara. Aturan ini akan berlaku mulai Sabtu (30/1/2021),

Langkah Biden ini adalah salah satu upaya untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Biden juga memasukkan Afrika Selatan dalam daftar larangan bepergian (travel ban) setelah varian baru Covid-19 muncul di negara itu.

“Kami menambahkan Afrika Selatan dalam daftar larangan karena adanya temuan varian (baru Covid-19) yang mengkhawatirkan dan telah menyebar ke luar Afrika Selatan,” kata Dr. Anne Schuchat, Wakil Direktur Utama CDC, dikutip dari Reuters.

Sebelumnya, pada Senin (18/1/2021) mantan Presiden Amerika Donald Trump mengeluarkan kebijakan membatalkan aturan larangan bepergian yang ia buat sendiri.

Tak lama setelah Trump meresmikan kebijakan itu, Jen Psaki, juru bicara Biden mencuit di akun Twitter-nya, “Berdasarkan nasihat tim medis kami, Pemerintah tak berniat membatalkan aturan larangan ini pada 26 Januari.”

“Dengan pandemi yang makin memburuk dan varian (Covid-19) yang lebih menular muncul di banyak negara dunia, ini bukan waktu yang tepat untuk membatalkan larangan perjalanan internasional,” tambah Psaki.

Berikut daftar negara-negara yang masuk daftar larangan bepergian Amerika Serikat. Sebagian besar penghuni daftar ini berasal dari negara anggota Schengen Area di Eropa.

Afrika Selatan
Brasil
Inggris
Irlandia
Austria
Belgia
Republik Ceko
Denmark
Estonia
Finlandia
Perancis
Jerman
Yunani
Hungaria
Islandia
Italia
Latvia
Liechtenstein
Lithuania
Luxemburg
Malta
Belanda
Norwegia
Polandia
Portugal
Slovakia
Slovenia
Spanyol
Swedia
Swiss

Berdasarkan data Worldometers, Amerika Serikat masih mencatatkan kasus Covid-19 tertinggi di dunia pada Senin (25/1/2021) pagi WIB.

Kasus Covid-19 di Amerika mencapai 25.702.125 kasus. Dari angka itu, 429.490 orang meninggal dunia dan 15.409.639 orang sembuh.

SIMAK JUGA :  Pilpres AS : TRUMP TERJEPIT !

Sementara, varian baru virus corona pertama kali diidentifikasi di Inggris pada pertengahan Desember 2020.

Banyak negara telah melaporkan temuan kasus Covid-19 yang berasal dari varian baru virus corona ini.

Varian baru yang ditemukan di Inggris disebut lebih menular, meski diduga tak menyebabkan kondisi yang lebih parah. Akan tetapi, WHO memperingatkan semua negara untuk memberikan perhatian atas temuan varian baru ini.

Sementara itu, varian baru virus corona di Afrika Selatan juga dilaporkan tak lama setelah temuan varian baru di Inggris.

Varian Afrika Selatan ini juga lebih menular. Berdasarkan penelitian awal, varian ini pun bisa mengurangi kemanjuran vaksin, meski tak sepenuhnya menghilangkan kemampuan vaksin.

Mohammad Devara Pratama

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *