Mengenal Caketum DPP PKDP Indonesia, Yuliandre Darwis : Kesekjenan PKDP Masih Perlu Diperkuat Lagi

  • Bagikan

YULIANDRE DARWIS

JAKARTA (Harianindonesia.id) : Sosok Yuliandre Darwis atau akrab dipanggil Andre adalah gambaran masa depan suksesi kepemimpinan di Sumatera Barat dan Padang Pariaman.

Takah, tokoh dan tageh (T3) sebagai persyaratan menjadi pemimpin di Minangkabau rasanya sudah dipenuhi oleh Andre.

Tetapi anak Almarhum Chairul Darwis, terakhir menjabat sebagai Asisten Setdaprop Sumbar era Gubernur Gamawan Fauzi, sangat menyadari dirinya masih muda belia dan tidak mau mengambil resiko berlebihan untuk memperturutkan kehendak kalangan tertentu terhadap dirinya.

“Termasuk di PKDP. Jika Ketum baru masih memercayai ambo menjadi Sekjen, InsyaAllah akan ambo jalankan dengan baik. Sebab fungsi Kesekjenan di DPP PKDP masih perlu diperkuat lagi,” ujar Andre melalui jaringan WA pribadinya, Sabtu (10/12).

Berdasarkan pengalaman memimpin Sekjen DPP PKDP Indonesia, Andre mengakui kedepannya Sekjen harus mampu mengelola empat persoalan mendasar dalam organisasi.

Pertama, mengintegrasikan potensi keuangan anggaran untuk mendukung program Sekjen, diantaranya memfasilitasi rapat di tingkat DPP, DPW dan rapat lainnya. Termasuk di dalamnya mengelola kunjungan kerja Ketum dan pengurus ke daerah dalam rangka konsolidasi organisasi.

Kedua, memperkuat fungsi sekretariat sebagai sarana komunikasi dan kordinasi dengan Sekretaris DPW dan DPD PKDP se Indonesia, serta dengan jajaran organisasi ughang Piaman lainnya.

Ketiga, mengkordinasikan secara apik program kerja Ketua umum bersama dengan para pengurus harian dan para dewan yang ada di DPP dalam periode waktu yang sudah direncanakan.

Terakhir, keempat adalah pengadaan kantor Sekretariat DPP PKDP sebagai markas besar untuk menjalankan fungsi internal dan eksternal DPP PKDP, selain juga menjadi tempat warga Piaman ‘mengadukan’ permasalahannya.

Bintang dari Barat

Dikutip dari Wikipedia, Yuliandre Darwis, S.Sos., M.Mass.Comm., Ph.D. (lahir 21 Juli 1980) adalah seorang pakar komunikasi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia periode 2016–2019. Ia juga mengelola usaha dibidang perfilman dan menjadi produser di beberapa film yang tayang di bioskop.

Yuliandre Darwis
S.Sos., M.Mass.Comm., Ph.D.
Yuliandre Darwis mulai menjabat sebagai Komisioner Komisi Penyiaran pada 27 Juli 2016 – 1 Agustus 2019. Pendahulunya adalah Judhariksawan. Pengganti Andre di KPI adalah Agung Suprio.

Anak sulung Chairul Darwis dan Aidevita Rydas meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi (S-1) dari Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 2004. Gelar Master (S-2) serta Doktor (S-3) bidang Mass Communication and Media Studies (Komunikasi Massa) ia dapatkan dari Universitas Teknologi Mara (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, tepat pada usianya yang ke-30 pada tahun 2010.

Selama menempuh pendidikan di UiTM tersebut ia melakukan penelitian dan menghasilkan karya yang berjudul A History of Minangkabau Press (1849-1945), yang menjadi disertasinya untuk syarat kelulusan Doctorate in Mass Communication UiTM.

Yuliandre mulai dikenal luas oleh masyarakat saat mengikuti Uda Uni Sumbar pada 2004. Dalam ajang tersebut, ia menjadi Pemenang Pertama dan Pemenang Favorit “Uda Sumbar Duta Wisata”. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia berprofesi sebagai akademisi dan pakar bidang komunikasi dan menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang.

SIMAK JUGA :  Mengenal Lebih Dekat Sosok Dr. H. Rustian, S.Si, Spt,MKes : Ambo Bialah Maantaan Mubes Sajo

Sebagai seorang aktivis, Yuliandre punya banyak pengalaman dalam berbagai organisasi, sehingga pernah dipercaya menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Padjadjaran ketika ia menjadi mahasiswa di universitas ternama di kota Bandung tersebut. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universitas Teknologi Mara (UiTM), Malaysia, dan aktif dalam kegiatan kebudayaan Minangkabau di Malaysia ketika menempuh pendidikan di negeri jiran itu.

Andre juga pernah terpilih menjadi Duta Muda UNESCO pada tahun 2007, dan mewakili Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Paris, Prancis. Sedangkan di berbagai organisasi profesi dan bisnis Yuliandre juga aktif, antara lain di KADIN dan BPP HIPMI.

Yuliandre juga banyak melakukan penelitian, di antaranya penelitian mengenai Tour de Singkarak dengan judul Analysis of West Sumatra Tourism Communication. Penelitian terhadap ajang internasional yang menjadi salah satu bentuk branding dari Sumatra Barat itu membuat ia diundang oleh Universitas Harvard, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, pada tanggal 26-30 Mei 2013 untuk mempresentasikan penelitiannya tersebut.

Dalam Kongres ISKI ke-VI yang berlangsung di Padang pada 27 November 2013, Yuliandre terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) periode 2013–2017.

Yuliandre mengungguli tiga calon lainnya, yaitu Pinky Triputra (Universitas Indonesia), Andi Faisal Bakti (Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta), dan Henry Subiakto (Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia). Ia berhasil mendapatkan 36 suara dari total 42 suara yang berasal dari cabang-cabang ISKI di seluruh Indonesia. Yuliandre menjadi ketua ISKI termuda yang pernah memimpin satu-satunya organisasi profesional yang menghimpun para pakar komunikasi di tanah air tersebut ketika masih berumur kurang dari 34 tahun.

Selanjutnya, Yuliandre dipilih sebagai Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia untuk periode 2016–2019 dan Ketua KPI Periode 2016–2019.[10]

Adapun tanda penghargaan yang pernah diraih oleh Andre adalah Pemenang Pertama dan Pemenang Favorit Uda Sumbar Duta Wisata (2004), Juara II Dosen Entrepreneur Unand Award (2011), 40 Inspiring Young Entrepreneurs HIPMI (2012), Indonesia Marketeers Champion Markplus, Inc. (2013) dan Tokoh Peduli penyiaran (2022).

Dengan segepok pengalaman dan prestasi yang dimiliki Andre tak ayal dia dijuluki oleh media sebagai ‘Bintang dari Barat’ yang memberikan harapan terhadap perkembangan Sumbar di depannya.

Tetapi mantan Loper sebuah Mingguan di Padang ini sejak dulu, sebelum jadi apa apa sampai sekarang ini, adalah tetap sebagai pribadi yang rendah hati, pandai bergaul dengan seusia, sopan dan santun kepada yang lebih tua, hormat kepada sepangkat ayah dan ibunya. Tetapi menjadi orang muda berbakat, Andre juga punya satu sikap : tidak mau diperlakukan seperti anak kecil!.

Sikap rendah hati Andre juga dia perlihatkan pada saat suksesi kepemimpinan di DPP PKDP Indonesia. Dia menolak dicalonkan jadi ketua umum, dengan alasan masih banyak yang senior dan memiliki persyaratan menjadi Ketum. (*)

Awaluddin Awe

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *