Warga Sumatera Respon Kehadiran Tol, LHR Terus Menaik

  • Bagikan

TOL PEKBANG – Presiden Jokowi meresmikan pengoperasian jalan tol Padang – Pekanbaru seksi Pekanbaru – Bangkinang (Pekbang). Ruas tol yang dibangun PT Hutama Karya Infrastruktur (HKi) ini memiliki panjang 30,9 Km yang akan menjadi pendobrak pertumbuhan ekonomi Riau kedepannya. (Foto : Dok Mensesneg)

((PENGANTAR – Wartawan Harianindonesia.id Awaluddin Awe selama dua pekan melakukan perjalanan jurnalistik melihat hasil pembangunan jalan tol oleh PT Hutama Karya Infrastruktur (HKi) di Palembang, Pekanbaru, dan Medan. Hasil laporannya akan diturunkan berseri setiap hari di rubrik Jalan jalan ini :))

JAKARTA (Harianindonesia.id) – Penugasan pemerintah kepada PT Hutama Karya (Persero) membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sebagai sarana transportasi modern dan percepatan pembangunan mulai menunjukan hasil nyata.

Hal itu terlihat dari empat ruas jalan tol yang dibangun oleh PT Hutama Karya Infrastruktur (HKi) di Palembang (Palembang-Indralaya (Palindra), Pekanbaru (Pekanbaru-Dumai (Permai), Pekanbaru-Bangkinang (Pekbang) dan Medan (Medan-Binjai-Stabat (MBS).

Kehadiran empat ruas jalan tol itu diterima oleh masyarakat sebagai alternatif sarana angkutan barang dan orang, sekaligus berdampak kepada pertumbuhan ekonomi dan bisnis di kawasan tol.

Indikator diresponnya kehadiran jalan tol di Sumatra ini bisa dilihat dari Lalulintas Harian Rata-rata (LHR) kendaraan setiap harinya.

Salah satu dari empat ruas tol yang dibangun PT HKi itu, yang mendapat pertumbuhan Lalulintas Harian Rata-rata (LHR) tercepat adalah Tol Medan-Binjai yakni sebesar 97 persen selama dua tahun terakhir, dan berhasil merangsang berdirinya satu lagi kawasan industri di Binjai. Kawasan ini dikelola oleh Kawasan Industri Medan (KIM).

Ruas Tol Medan-Binjai mendapatkan limpahan arus lalu lintas begitu tinggi, salah satunya disebabkan integrasinya dengan tol Balmera (Belawan-Medan-Tanjung Morawa) yang sudah duluan beroperasi pada 1986 lalu. Tol Balmera dikelola oleh PT Jasa Marga.

Sejak dioperasikan pada tahun 1986 lalu Tol Balmera hanya khusus melayani angkutan barang dan orang dari dan ke Belawan, Medan dan Tanjung Morawa.

“Sejak Tol Medan-Binjai dibangun oleh PT HKI dan dikelola operasional oleh PT Hutama Karya (Persero) arus lalu lintas harian kendaraan barang dan orang mulai terpecah, dan pertumbuhannya selama dua tahun terakhir membaik, malahan sangat baik,” papar Hery Prasetyo.

Kondisi kurang lebih sama juga terjadi di ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai (Permai). Selama dua tahun terakhir, pertumbuhan lalu lintas harian di tol yang menghubungkan Pekanbaru dengan daerah sekitar Dumai, tembus mencapai 32 persen pada tahun 2022 lalu.

Kepala Cabang Tol Pekanbaru-Dumai Jarot Seno Wibawa mengakui bahwa selama dua tahun operasional, ruas tol Permai diserbu oleh masyarakat Dumai dan Pekanbaru yang akan berurusan di kedua daerah tersebut.

Jumlah kendaraan yang menggunakan jasa tol Permai setiap harinya sudah mencapai angka rata-rata 8439 setiap harinya. Jumlah ini hampir melampaui target LHR tertimbang sekitar 8746 kendaraan setiap harinya,” ujar Jarot kepada Harianindonesia.id.

Menurut Jarot, pengguna jasa Tol Permai terbesar adalah golongan I atau pengendara kendaraan kecil dengan kontribusi 80 persen dari total LHR.

Dilihat dari pencapaian target, pencapaian LHR tertimbang golongan I di Tol Permai ini jauh melebihi dari target LHR bisnis golongan I yang dipatok sebesar 4.261 kendaraan per hari.

“Pertumbuhan LHR dari kendaraan kecil di Tol Permai selama dua tahun terakhir naik signifikan sampai 30 persen. Ini menandakan bahwa masyarakat di Pekanbaru dan Dumai memang sangat membutuhkan sarana jalan tol untuk kegiatan transportasi mereka,” ujar Jarot.

Tol Pekanbaru-Bangkinang yang masih masuk dalam ujicoba operasional juga menunjukan trend peningkatan LHR juga sangat signifikan. Sejak dibuka operasional pada 25 Desember 2022 lalu sampai sekarang terus mengalami peningkatan lalu lintas harian.

SIMAK JUGA :  70 Ribu Wisatawan Banjiri Perayaan Cap Go Meh di Singkawang Kalbar

Baik Hery Prasetyo maupun Jarot Seno mengakui bahwa kehadiran jalan tol di Sumatera ini sangat direspon oleh masyarakat pengguna kendaraan besar dan kecil. Jika tol Medan-Binjai diburu masyarakat oleh pengaruh kemacetan di jalan umum di kota Medan, maka tol Pekanbaru-Dumai untuk urusan harian dari dan ke Dumai-Pekanbaru setiap hari, dan tidak perlu lagi bermalam di Pekanbaru atau Dumai. Sebab jarak tempuh tol Permai hanya 3 jam maksimal.

“Sejak tol Permai beroperasi muncul pameo di kalangan masyarakat Dumai yakni ‘Ngopi pagi di Pekanbaru, Makan Malam di Dumai,” ujar Jarot.

Arti lainnya, warga Dumai yang berurusan ke Pekanbaru sebelum ada tol harus tidur satu malam di Pekanbaru, baru esok harinya balik lagi ke Dumai. Itu pun kalau urusan selesai satu hari. Kalau tidak, maka biaya kamar hotel pun akan membengkak.

Ancaman Kendaraan ODOL

Tetapi pembangunan jalan tol trans Sumatera yang juga melibatkan kontraktor utama PT HKi, tidak melulu mengabarkan perkembangan baik. Program pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) juga mendapat ancaman kerusakan jalan dalam waktu lebih cepat disebabkan oleh beroperasinya kendaraan angkutan barang yang sering membawa beban berlebih dari kapasitas angkutan atau kendaraan ODOL.

Dampak beroperasinya kendaraanODOL ini, diakui oleh Kepala Cabang Tol Palembang-Indralaya (Palindra) Taufiq Hidayat sangat mengganggu terhadap keberlangsungan pemakaian dan kerusakan permukaan jalan tol Palindra.

Menurut Taufiq, efek penggunaan kendaraan Odol sangat dirasakan oleh tol Palindra karena sebagian besar kendaraan ini berasal dari limpahan tol Lampung-Palembang. Tol Palindra adalah sirip dari Jalan Tol Palembang menuju Bengkulu. Tetapi saat ini baru sampai ruas Prabumulih.

Untuk mengantisipasi kendaraan ODOL ini kami setiap hari melakukan pencegahan kendaraan ODOL yang masuk ke jalan tol, kendaraan ODOL akan dilakukan penindakan putarbalik atau keluar pintu tol terdekat, meski kemudian para sopir protes ” ujar Taufiq.

Tol Palindra agresif mencegah kendaraan ODOL masuk wilayah mereka karena berpotensi mempercepat kerusakan permukaan jalan tol dan badan jalan. Sebab tonase grader kendaraan ODOL ini mencapai 10 ton ke atas, sementara peraturannya 10 ton.

Berdasarkan data yang dimiliki pengelola Tol Palindra tercatat sebanyak 432 kendaraan ODOL yang berhasil diputar balik arah oleh petugas PJR Polda Sumsel yang berperan aktif mengawal jalur tol Palindra dari serbuan kendaraan ODOL.

Taufiq menjelaskan pihaknya aktif melakukan operasi kendaraan ODOL, khususnya dengan beban angkutan besar, adalah dalam tujuan menjaga usia tol. Sebagaimana diketahui ruas jalan tol trans Sumatera memiliki jenis tanah rawa dalam, sehingga Hutama Karya – sebagai pengelola JTTS tidak sepenuhnya bisa menggunakan semen beton (rigid) di semua ruas tol, termasuk Tol

Palindra. Sebagian ruas menggunakan perkerasan flexible yaitu hotmix aspal yang direncanakan memiliki kemampuan menahan tekanan garder hingga 10 ton.

Apabila kendaraan ODOL tetap diperbolehkan untuk melintas maka akan memperpendek umur konstruksi perkerasan.

Taufiq mendukung jika ada sinergi antara pihak Departemen Perhubungan dan pengelola Tol dengan pemilik kendaraan untuk duduk bersama mencarikan solusi penggunaan kendaraan ODOL.

Sebab, jika tidak ada pembatasan tonase angkutan barang dalam jumlah besar dan dengan spesifikasi kendaraan yang tidak memenuhi aspek teknis sumbu ganda, maka dipastikan nasib jalan tol Sumatera akan sama dengan nasional saat ini dimana pengelola jalan tol akan mengeluarkan biaya perbaikan dan pemeliharaan yang sangat besar untuk tetap menjaga agar SPM tetap bisa terpenuhi. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *