Nama Dirops II HK, Mardiansyah Beredar dan Menguat di Bursa Ketua Alumni UBH

MARDIANSYAH

PADANG ((HARIANINDONESIA.ID)) – Nama Direktur Operasional (Dirops) II PT Hutama Karya, Mardiansyah beredar dan menguat di bursa pencalonan Ketua Alumni Universitas Bung Hatta Padang.

Nama Mardiansyah, yang merupakan alumni Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Universitas Bung Hatta pada 1996, sejak diperkenalkan sebagai Calon Ketua Alumni UBH sampai ditetapkan menjadi calon lolos administrasi, terus menguat sebagai calon jadi.

Berdasarkan informasi dari Panitia Seleksi Calon Ketua Umum UBH, Nama Mardiansyah tercatat sebagai calon setelah lolos persyaratan administrasi bersama dua orang calon lainnya yakni, Irwandi, SPi,MM – Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumbar dan Defri Nasly, SH. MKn.

Menurut Ketua Organizing Comitte (OC) Pemilihan Ketua Alumni UBH Padang, Heddy Luthan, pemilihan Ketua Umum Alumni UBH ini akan dilaksanakan 12 April 2026 di Padang.

Sumber lain menyebutkan, pemilihan akan memperebutkan 35 suara perwakilan alumni dari DPD dan DPC Alumni UBH se Indonesia.

Siapa Mardiansyah dan Visi jadi Ketua Alumni UBH

Menyusuri sepak terjang Mardiansyah dari curriculum vitea-nya, diketahui bahwa Mardiansyah, lahir di Bandung, 7 Februari 1978, dari ayah bernama Boestamar asli Kuraitaji, Kota Pariaman dan Ibu, Nuryati asli Sumedang, Jawa Barat.

“Saya anak ke-4 dari 5 bersaudara. Taman kanak-kanak saya waktu itu di TK Aisyah Asratek, SD di 06 Lapai, SMP 25 Padang, SMA 3 Padang, dan pada tahun 1996 masuk di Teknik Sipil Universitas Bung Hatta.” tulis Mardiansyah.

Selama menjadi mahasiswa Bung Hatta, Dian – begitu Mardiansyah dipanggil, aktif di kegiatan kemahasiswaan, menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil, anggota Senat/BEM fakultas, dan Himpunan Mahasiswa Islam.

Mantan Executive Vice Presiden (EVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero), sebelum dipromosikan menjadi Dirops II, saat jadi mahasiswa juga aktif bergerak pada masa transformasi tahun 1998 sampai berhasilnya tujuan demonstrasi mahasiswa — menduduki kantor DPRD Kota Padang, sejalan dengan momen di Ibukota mengganti rezim pemerintah saat itu.

“Saya lulus dari Universitas Bung Hatta tahun 2002, setelah saya pulang dari Jerman untuk kuliah singkat dalam rangka pertukaran mahasiswa antara UBH dengan Fachochshule Hildesheim Jerman.” ungkapnya.

Kemudian menjadi asisten dosen Almarhum Ahmad Dahlan, dan asisten dosen Mawardi Samah. Sambil menjadi asisten, Dian ikut menjadi konsultan pengawas pembangunan Gedung L Bung Hatta yang sebelumnya disebut Gedung J, di sebelah lapangan sepak bola kita.

Setelah itu, tahun 2003 Dian bekerja di Shimizu pada proyek pembangunan Bandar Udara Minangkabau sampai selesai di tahun 2005. Di masa ini, Dian sempat mendaftar jadi calon dosen di Universitas Bung Hatta, tapi tidak lulus. “Tapi insyaAllah siapa tahu masih ada takdirnya untuk bisa jadi dosen di kampus tercinta ini.” ujar Mardiansyah.

SIMAK JUGA :  Dua Orang Lagi Sembuh Covid-19 Di Bartim

Tahun 2005, Dian merantau ke Jakarta dan bekerja di Kantor Konsultan Prosys Engineer, dan tahun 2006 bekerja di Hutama Karya sebagai pelaksana lapangan dengan status kontrak.

Selama 8 tahun bekerja keras sebagai pekerja lapangan, baru tahun 2014 diangkat menjadi karyawan tetap dan dapat memimpin proyek, di antaranya Tol Cinere–Jagorawi, Tol Pekanbaru– Dumai, dan Tol Medan–Binjai.

Pada tahun 2018 kemudian masuk ke struktural jabatan di anak perusahaan HKI sebagai Kepala Departemen Pengendalian, Kepala Departemen Infrastruktur, dan Kepala Departemen Pengawasan Internal.

Kemudian di tahun 2022 ditarik ke Kantor Pusat Hutama Karya sebagai Kepala Divisi Human Capital dan Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan.

Dan pada tahun 2022–2023, saat OIKN baru berdiri, Dian bersama Kepala OIKN, Bambang Susantono diminta menjadi Koordinator Pembangunan Infrastruktur dan Logistik sampai terbentuknya struktur kepemerintahan yang sah di OIKN.

Saat ini, Dian cukup nyaman menjabat Direktur Operasi 2 PT Hutama Karya (Persero), BUMN terbaik 10 besar, dengan aset Rp190 triliun, dengan laba bersih tahun lalu lebih sedikit Rp3 triliun.

“Dengan rata-rata pendapatan per tahun Rp22–35 triliun dari ratusan proyek, maka ini merupakan potensi bagi alumni Universitas Bung Hatta untuk ambil bagian dalam pembangunan nasional.” papar Mardiansyah serius.

Dimulai dari Titik

Mardiansyah memiliki cara pandang unik dalam melihat prospek alumni, sebagai sebuah titik titik yang belum tersambung. Titik titik itu adalah alumni UBH dari berbagai profesi dan potensi.

Dia berharap, jika suatu saat titik titik tersebut bertemu dan menjadi garis yang besar dan panjang akan dapat memberikan kontribusi besar juga terhadap almamaternya.

Sebagai Calon Ketua Alumni UBH, Mardiansyah memiliki Misi :

1. Membangun database alumni terintegrasi nasional
2. Membangun gedung Alumni Universitas Bung Hatta
3. Membentuk ekosistem ekonomi alumni (bisnis & investasi)
4. Memperkuat kolaborasi alumni–kampus–industri
5. Menjadikan alumni sebagai kekuatan sosial yang bermanfaat

“Dengan Visi Misi ini akan menjadi pedoman kegiatan dan bekerja bagi segenap pengurus dan anggota Alumni Universitas Bung Hatta.” pungkasnya. (*)

Awaluddin Awe