OPINI  

Membaca: Mitos atau Realitas

Oplus_131072

Oleh : Sastri Bakry*)

Saya beberapa hari lalu menikmati suasana perpustakaan Jakarta. Cuaca panas Jakarta tak lagi terasa ketika sudah berada di gedung yang sejuk dan indah ini. Biasanya saya hanya akrab dengan perpustakaan dan dokumentasi Pds HB Jassin .

Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin terletak di lantai 4 bagian belakang bangunan gedung Panjang, sedangkan Perpustakaan Jakarta sendiri terletak di bagian depan bangunan.

Sejak kehadiran Rano Karno, Wagub DKI, yang mempromosikan literasi malam, saya jadi semakin sering ke perpustakaan Jakarta.
Entah yang ke berapakali saya mendatangi Pustaka di area Taman Ismail Marzuki ini.

Beragam kegiatan saya lakukan. Mulai dari membaca di perpustakaan hingga membahas dan mendiskusikan buku karya sendiri maupun karya sastrawan lain di PDS HB Jassin. Atau sekedar nongkrong, ngopi- ngopi dan saling bercerita sesama seniman. Selalu saja kebanggaan tersendiri muncul di hati.

Sebagai pegiat literasi yang mendorong orang membaca dan menulis, tentu saja harus dimulai dari diri sendiri mencintai dunia perbukuan. Jika ada waktu kosong, tak akan saya sia-siakan waktu yang sangat berharga itu.

Banyak orang mengatakan bahwa kemampuan dan kemauan membaca orang Indonesia rendah. Tapi, apa yang terjadi ketika kita masuk ke perpustakaan Jakarta?

Banyak sekali orang membaca, mulai dari anak- anak hingga dewasa. Paling banyak remaja dan anak muda. Mereka menelusuri rak-rak buku, dan menikmati waktu dengan membaca buku-buku favorit mereka.

Bahkan ada yang bersila di dekat rak- rak buku karena kehabisan tempat. Saya bangga melihat anak- anak muda yang tekun membaca.
Ketika waktu salat tiba mereka bergantian pergi ke ruang salat.

Suasana yang nyaman, tempat duduk yang santai sambil rebahan hingga tempat duduk yang konvensional, formal dan kaku tersedia.

Fasilitasnya saya telusuri satu persatu. Ada ruang baca terbuka , ruang privasi, ruang bermain anak, ruang membaca disabilitas, area multimedia, ruang podcast, ruang komunitas, dan area koleksi. Bahkan jika kita ingin berfoto ada studionya. Cukup bayar pakai Q Risk, foto anda akan langsung keluar dengan latar yang unik.

Perpustakaan Jakarta betul-betul menawarkan berbagai fasilitas dan koleksi buku yang lengkap, serta kegiatan yang menarik. Tinggal kita pantau di informasi digital, kegiatan yang ingin kita hadiri.

Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang beragam minat dan kesukaannya. Segala macam buku tersedia. Segala macam fasilitas tersedia yang dibutuhkan manusia seharian. Tempat salat, toilet yang bersih, tempat makan, ruang rapat, ruang santai dan lainnya. Semua tempat tak ada yang kosong.

SIMAK JUGA :  Covid-19, Fatwa MUI dan Logika Beragama

Fenomena ini membuat kita mempertanyakan, apakah benar kemampuan membaca orang Indonesia rendah? Atau mungkin, kita hanya melihat dari sudut pandang yang salah?

Saya bercerita pada Soni Drestiana, wakil ketua panitia Festival Literasi Internasional Minangkabau betapa di perpustakaan Jakarta yang luas, banyak sekali anak muda yang membaca. Pada hari kerja apalagi hari libur.
“Biasanya yang mengatakan orang tak suka membaca adalah karena dia tak akrab dengan dunia membaca, jadi tak melihat banyak orang membaca” Ujar Soni yakin.

Saya tertegun. Jadi teringat cerita Hamka menjawab seseorang yang dengan sinis mengatakan bahwa di kota suci Mekah banyak pelacuran.
” Saya tak tahu dan tak melihatnya. Yang tahu di Jedah bahkan Mekah ada pelacuran karena dia pergi ke tempat itu ” Jawaban yang tajam dan telak dari seorang ulama besar Minang.

Antara mitos dan realita ini seolah beban sejarah. Data dan fakta berkelindan dalam pikiran saya.
Menurut data dari UNESCO, tingkat literasi membaca Indonesia memang masih rendah, yaitu peringkat 60 dari 61 negara. Tapi, data ini tidak mencerminkan keseluruhan gambaran. Banyak faktor eko sistem yang mempengaruhi kemampuan membaca, seperti akses ke buku, pendidikan, dan lingkungan termasuk kemiskinan.

Perpustakaan Jakarta adalah contoh nyata bahwa ada banyak orang Indonesia yang memiliki kemauan dan kemampuan membaca yang tinggi. Mereka datang ke perpustakaan untuk membaca, menulis, belajar, dan mengembangkan diri.

Jadi, mari kita ubah sudut pandang kita tentang literasi membaca di Indonesia. Mari kita dukung dan promosikan budaya membaca, sehingga kita dapat meningkatkan kemampuan membaca dan mencapai potensi kita. Terlebih lagi dapat mengubah mitos yang tertanam di dokumen penelitian UNESCO.

Kita sebenarnya suka membaca.
Apalagi di era dunia digital memudahkan kita membaca dimana saja, kapan saja jika tak sempat membaca di perpustakaan. Tinggal memilih kualitas bacaan.

Bagaimana kamu, apa yang kamu lakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi dasarmu? . Adakah gerakan membaca dimulai dari diri sendiri dilakukan setiap hari?
Membangun budaya membaca dan menulis harus dimulai bersama. Masing-masing kita. (*)

Penulis adalah*) sastrawan Indonesia, Pegiat Literasi, Koordinator Jaringan Sastra BRICS Indonesia.