PU Rilis Aksi Nyata Penanganan Pascabencana di Sumbar dan Sumut bersama Hutama Karya

Dua orang staf Hutama Karya sedang memperbaiki kembali jaringan pipa air bersih di Sumbar yang terdampak bencana banjir bandang, 28 November 2025 lalu. (Foto : Corcom HK/AWE/HI)

JAKARTA – Kementerian PU merilis aksi nyata penanganan pascabencana di Propinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara, bersama PT Hutama Karya (persero).

Aksi nyata pascabencana tersebut dilakukan secara terpadu di lima daerah terberat terkena bencana banjir bandang, 28 Nopember 2025 lalu.

“Penanganan dan aksi nyata pascabencara tersebut meliputi Malalak, Lembah Anai, Kota Padang, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Pesisir Selatan,” jelas Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (12/1/2026).

Menurut Menteri Dody, sejak hari pertama pascabencana pada 23 Desember lalu, Hutama Karya telah mengerahkan 163 personil yang terdiri dari tim manajemen lapangan, operator alat berat, serta tenaga pendukung guna memastikan penanganan berjalan cepat, terkoordinasi, dan tetap mengedepankan aspek keselamatan.

Di sektor pemulihan akses jalan, Kementerian PU melalui Bina Marga dan Hutama Karya telah melaksanakan pembersihan material longsor, normalisasi saluran, perapihan dan pelebaran badan jalan, pembuatan akses darurat, hingga penanganan lanjutan pada titik-titik rawan.

Pemulihan akses dilaksanakan pada akses utama di jalur Lembah Anai sepanjang 5,8 KM dengan panjang penanganan efektif +- 800 meter.

Akses Lembah Anai yang menghubungkan Padang dengan Bukittinggi telah dioperasikan secara terbatas untuk dapat membuka jalur mobilitas warga agar dapat segera pulih pasca bencana.

Penanganan pemulihan akses jalan juga dilaksanakan di Malalak, tepatnya di Jalan Sicincin – Malalak – Balingka.

Akses jalan ini merupakan Jalan Alternatif Padang-Bukittinggi yang menghubungkan daerah Kotomambang dengan daerah Malingka sepanjang 39 KM, dengan 9 titik terdampak longsor.

Hutama Karya pada pekerjaan pemulihan akses jalan tersebut mengerjakan pekerjaan pembersihan lokasi longsor, perapihan material longsor, perapihan debris, pembuatan jalan akses, loading tanah longsoran, pembuatan jembatan sementara pada Jembatan yang hilang akibat galodo dan perapihan box culvert, serta pembuatan akses darurat untuk kendaraan melintas.

Selain menjadi bagian dari pemulihan akses jalan, Kementerian PU dan Hutama Karya juga hadir memulihkan akses air bersih pada infrastruktur instalasi pengolahan air yang juga terdampak bencana.

Hutama Karya melakukan penanganan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Sumatra Barat, meliputi pekerjaan di Intake Palukahan dan Intake Guo Kuranji, Padang serta Intake Silasuang, Broncaptering Silayang dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Lubuk Basung (Kabupaten Agam) untuk menjaga keberlangsungan layanan air bersih bagi masyarakat.

Adapun di Kabupaten Pesisir Selatan, pekerjaan difokuskan pada perbaikan 8 (delapan) lokasi Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Pekerjaan pemulihan akses air bersih ini dikerjakan dengan menyambungkan pipa saluran air di beberapa titik tersebut dengan total panjang pipa 16 km.

Dalam kesempatan terpisah, _Executive Vice President_ (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan bahwa seluruh proses penanganan dilakukan dengan mengedepankan kecepatan respons dan koordinasi lapangan yang solid.

“Sejak awal, Hutama Karya menjadi bagian dari kesigapan Kementerian PU yang berfokus pada langkah-langkah prioritas agar akses infrastruktur dan layanan dasar masyarakat dapat segera dipulihkan. Seluruh tim di lapangan bekerja secara terkoordinasi untuk memastikan penanganan berjalan efektif dan aman,” ujar Mardiansyah.

SIMAK JUGA :  Konektivitas Propinsi Pulih, PU Kini Sasar Kecamatan dan Desa dengan Pola Padat Karya

Hingga pembaruan terakhir, progres penanganan menunjukkan hasil yang positif. Di Malalak, telah terdapat dua desa yang telah tersambung pasca pekerjaan yang dijalankan di lapangan. Di Lembah Anai, penanganan permanen sedang dilaksanakan untuk pemulihan akses secara perlahan.

Sementara itu, pada penanganan SPAM Sumatra Barat, Hutama Karya juga melaksanakan pemasangan dan perakitan pipa, penyusunan jumbo bag sebagai mercu sementara, serta survei dan orientasi lapangan untuk penanganan lanjutan. Upaya ini diharapkan dapat menjaga pasokan air bersih tetap tersedia selama proses pemulihan pascabencana.

“Melalui penanganan tanggap darurat ini, Hutama Karya berupaya memastikan akses jalan dan air bersih kembali berfungsi, layanan air bersih tetap terjaga, serta aktivitas masyarakat dapat berangsur pulih. Upaya tersebut diharapkan mampu mendukung mobilitas warga, distribusi logistik, dan pemulihan aktivitas ekonomi di wilayah terdampak Sumatra Barat,” ujar Mardiansyah.

Tanggap Darurat di Sumut

Selain di Sumatera Barat, aksi yang sama juga dilakukan Kementerian PU dan Hutama Karya di Sumatra Utara.

Disini, Hutama Karya menangani tanggap darurat sektor Bina Marga, yaitu pada ruas Tarutung–Sibolga, yang mencakup wilayah Adiankoting, Meranti, Simpang 3 Rampa, Mardame, Pagaran Lambung II, Dolok Nauli, hingga Kecamatan Sitahuis.

Ruas ini merupakan jalur strategis yang menghubungkan wilayah Tapanuli Utara, sebagian Tapanuli Tengah, Kota Sibolga dan sekitarnya. Ruas akses jalan yang dilakukan pemulihan aksesnya tersebut memiliki total panjang 69 km.

Hingga (4/1) , Hutama Karya telah mengerahkan 72 personil yang terdiri dari tim pelaksana, HSE, operator, serta tenaga pendukung lainnya.

Penanganan didukung oleh berbagai alat berat, antara lain _excavator_ PC300 dan PC200, _wheel loader_, _dump truck_, bulldozer, _smooth vibro roller_, alat bor log, steel sheet pile, trado trailer, guna mendukung pembukaan akses dan pengamanan ruas jalan terdampak.

Penanganan pekerjaan yang dilaksanakan meliputi pembersihan badan jalan dari material longsoran, pelebaran badan jalan, pembukaan akses jalan yang tertimbun longsor, pekerjaan galian dan pembukaan saluran aliran air di sekitar area masuk jembatan, pemasangan _safety line_, serta pembuatan matras pada sejumlah titik rawan.

Selain itu, juga melaksanakan pengambilan data LiDAR dan soil investigation di 103 titik sebagai bagian dari pemetaan kondisi lapangan untuk mendukung penanganan lanjutan.

Seiring dengan berjalannya penanganan tanggap darurat, akses pada ruas Tarutung–Sibolga kini berangsur pulih dan dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat. Kondisi ini memberikan manfaat langsung, khususnya dalam mendukung mobilitas harian, aktivitas ekonomi, serta kelancaran distribusi kebutuhan pokok di wilayah terdampak.

“Penanganan darurat ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Hutama Karya dalam memperkuat ketahanan infrastruktur jalan di wilayah rawan bencana. Pembukaan kembali akses menjadi langkah awal sebelum dilakukan penanganan yang lebih permanen, serta akan terus diikuti dengan koordinasi bersama pemerintah untuk memastikan infrastruktur jalan di Sumatra Utara semakin aman dan andal,” tutup Mardiansyah. (*)

Awaluddin Awe