Oleh Denny JA
Di sebuah ruang keluarga sederhana di pinggiran Chicago, seorang ibu menatap layar ponselnya dengan mata yang lelah.
Anaknya, seorang tentara muda Amerika, sedang bersiap berangkat ke Timur Tengah. Ia tidak tahu persis di mana. Ia hanya tahu, semakin banyak pasukan dikirim, semakin perang itu berkobar.
Ia tidak sepenuhnya mengerti politik. Ia hanya tahu satu hal, setiap perang selalu mengambil sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Di layar itu, ia membaca sebuah surat. Bukan dari pemerintahnya. Bukan dari jenderal. Tapi dari seorang presiden negara yang selama ini disebut musuh.
Surat itu tidak berteriak. Ia tidak mengancam. Ia hanya bertanya.
“Apakah perang ini untuk Anda?”
Ibu itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat perang sebagai peta atau strategi. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang masuk ke rumahnya, ke jantungnya.
Dan di saat itu, sebuah hal yang tak terlihat terjadi.
Perang tidak lagi hanya di medan tempur. Ia masuk ke dalam pikiran manusia.
-000-
Surat Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dibuat dan dipublikasikan pada 1 April 2026. Ia disampaikan langsung kepada publik Amerika melalui platform digital seperti X dan media resmi Iran.
Surat itu segera diangkat oleh media global seperti Reuters, TIME, dan The Washington Post. Peredarannya luas secara internasional sebagai bagian dari eskalasi konflik yang sedang berlangsung, bukan sebagai peristiwa tunggal yang berdiri sendiri.
Surat ini ditulis bukan untuk pemerintah Amerika, tetapi untuk publiknya. Tujuan strategisnya membentuk opini, menanam keraguan, dan mempengaruhi legitimasi perang di dalam negeri Amerika sendiri. Ini arena yang dalam sejarah sering menentukan arah akhir konflik.
Surat Presiden Iran kepada rakyat Amerika bukan sekadar teks diplomatik. Ia adalah konstruksi narasi yang rapi, terukur, dan penuh kesadaran akan psikologi publik.
Ada lima pokok utama yang dibangun dengan sangat sistematis.
Pertama, Iran menegaskan dirinya bukan agresor, dan tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Amerika.
Ini bukan kalimat biasa. Ini adalah upaya memisahkan antara negara dan masyarakat, membuka ruang empati di tengah konflik yang selama ini dibingkai sebagai pertarungan absolut antara dua kubu.
Kedua, surat itu menyerang fondasi narasi Amerika. Ia menyatakan bahwa ancaman Iran bukan realitas objektif semata, tetapi juga hasil konstruksi politik dan ekonomi. Di sini, Iran tidak hanya melawan fakta, tetapi melawan cara fakta dibentuk dan dipersepsikan.
Ketiga, Israel ditempatkan sebagai aktor yang memanipulasi konflik. Dengan menuduh Israel menciptakan ancaman Iran untuk mengalihkan perhatian dari Palestina, surat ini mencoba menggeser pusat perhatian global dan membalik arah simpati.
Keempat, Iran menegaskan bahwa tindakan militernya adalah bentuk pertahanan diri. Ini adalah klaim legitimasi moral. Dalam setiap perang, pihak yang dianggap defensif memiliki posisi yang lebih kuat dalam opini publik.
Kelima, dan ini yang paling tajam, rakyat Amerika diajak untuk berpikir sendiri. Surat ini mempertanyakan apakah perang ini benar-benar untuk kepentingan Amerika.
Di bawah pemerintahan Donald Trump, Iran menyiratkan bahwa kebijakan perang lebih mencerminkan kepentingan Israel dibandingkan kepentingan langsung rakyat Amerika sendiri.
Di titik ini, surat itu berubah dari sekadar pembelaan menjadi tuduhan. Ia menyentuh inti identitas politik Amerika.
Apakah “America First” masih berarti bagi rakyatnya, atau telah berubah dalam praktik kebijakan luar negeri.
Surat ini tidak mencoba menang dalam satu pertempuran. Ia mencoba menanam keraguan. Dan dalam geopolitik modern, keraguan adalah awal dari perubahan.
-000-
Surat ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia muncul di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika di Timur Tengah, ketika ribuan pasukan tambahan dikerahkan dan ketegangan meningkat tajam.
Beberapa minggu sebelumnya, serangan udara besar menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebuah peristiwa yang mengubah lanskap konflik secara drastis. Sejak saat itu, eskalasi tidak lagi bisa dihindari.
Dalam konteks inilah surat tersebut bekerja.
Ia bukan sekadar komunikasi. Ia adalah bagian dari strategi.
Surat ini beredar luas, dikutip dan dianalisis oleh media besar dunia seperti TIME, Reuters, The Washington Post, Al Jazeera, dan The Wall Street Journal. Konsistensi laporan lintas media menunjukkan bahwa isi utama surat ini tidak diperdebatkan, hanya ditafsirkan berbeda.
Namun yang lebih penting bukan seberapa luas ia dipublikasikan, melainkan bagaimana ia bekerja.
Surat ini adalah dokumen perang narasi. Dalam sejarah, perang tidak hanya dimenangkan oleh peluru, tetapi oleh opini.
Perang Vietnam menjadi contoh paling jelas. Ketika gambar korban sipil dan peti mati tentara Amerika memenuhi layar televisi, opini publik berubah.
Mahasiswa turun ke jalan. Demonstrasi terjadi di kampus-kampus besar. Pemerintah Amerika tidak kalah di medan tempur, tetapi kehilangan pijakan di hati rakyatnya sendiri.
Di sinilah relevansi surat Presiden Iran.
Ia tidak mencoba meyakinkan pemerintah Amerika. Ia mencoba mengubah cara rakyat Amerika melihat perang.
Jika cukup banyak orang mulai bertanya, legitimasi perang mulai retak. Dan ketika legitimasi retak, kekuatan militer kehilangan dasar moralnya.
Namun, penting juga disadari bahwa surat ini sendiri adalah bagian dari konstruksi narasi. Ia tidak berdiri sebagai kebenaran tunggal, melainkan sebagai upaya mempengaruhi cara publik memahami konflik.
Perang modern adalah perebutan makna. Siapa yang berhasil mendefinisikan realitas, dialah yang mendekati kemenangan.
-000-
Dua buku ini menambah wawasan kita bagaimana kekuatan opini dan perspektif atas alasan perang merupakan bagian dari cara memenangkan perang itu sendiri.
Pertama, Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media, karya Noam Chomsky dan Edward S. Herman, 1988.
Buku ini menjelaskan bahwa media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga institusi yang menyaring realitas melalui kepentingan ekonomi dan politik. Dalam sistem demokrasi modern, kontrol tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan, melainkan melalui pembingkaian informasi.
Publik tidak melihat dunia sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana ditampilkan. Dengan memilih apa yang ditonjolkan dan apa yang diabaikan, media membentuk batas-batas realitas yang dianggap sah.
Dalam konteks surat Presiden Iran, pemahaman ini menjadi penting. Surat tersebut tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi berusaha menembus sistem penyaringan itu.
Ia mencoba berbicara langsung kepada publik, melewati institusi yang selama ini menjadi perantara utama dalam membentuk persepsi.
-000-
Kedua, Propaganda, karya Edward Bernays, 1928.
Bernays menjelaskan bahwa opini publik dapat dibentuk secara sistematis melalui teknik komunikasi yang terencana. Dalam masyarakat modern, keputusan kolektif sering kali dipengaruhi oleh narasi yang dirancang oleh kelompok kecil yang memahami cara kerja psikologi massa.
Propaganda tidak selalu berarti kebohongan. Ia adalah seni mengatur informasi agar menghasilkan kesimpulan tertentu.
Dalam surat ini, pendekatan tersebut terlihat jelas. Presiden Iran tidak menyampaikan data militer, tetapi membangun kerangka moral.
Ia menggunakan bahasa yang sederhana, pertanyaan yang menggugah, dan posisi yang tampak rasional untuk mempengaruhi cara berpikir pembaca.
Ini bukan sekadar komunikasi. Ini adalah upaya membentuk persepsi. Dan seperti yang ditunjukkan Bernays, siapa yang menguasai persepsi, memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah masyarakat.
Namun, kita juga tak boleh menelan bulat-bulat narasi Teheran sendiri. Di balik surat yang menyentuh itu, catatan panjang represi, eksekusi massal, dan pembungkaman oposisi tetap menghantui wajah kekuasaan Iran.
-000-
Efektivitas narasi ini tetap diuji oleh skeptisisme publik Amerika yang terbelah. Di tengah banjir informasi, kemampuan masyarakat membedakan antara empati tulus dan manuver strategis menjadi benteng terakhir kedaulatan kognitif mereka.
Perang hari ini tidak lagi hanya tentang siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih dipercaya. Di antara dentuman bom dan pergerakan pasukan, ada medan yang lebih sunyi namun lebih menentukan, yaitu pikiran manusia.
Surat Presiden Iran itu adalah senjata tanpa suara, tetapi dampaknya bisa melampaui peluru.
Dan mungkin, di masa depan, sejarah tidak akan bertanya siapa yang menembak lebih dulu. Ia akan bertanya siapa yang berhasil membuat dunia percaya.
Karena ketika kebenaran menjadi medan tempur, yang paling berbahaya bukanlah senjata, melainkan cerita yang kita pilih untuk percaya.***
Jakarta, 4 April 2026
REFERENSI
Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media
Noam Chomsky & Edward S. Herman
Pantheon Books, 1988
Propaganda
Edward Bernays
Ig Publishing, 1928
-000-
Ratusan esai Denny JA soal
filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/188Mtm6WUs/?mibextid=wwXIfr







