Hotel Balairung Kerjasama Pemasaran dengan BUMD Perhotelan Jatim

  • Bagikan

Direktur Hotel Balairung Buchari Bachter (kiri) dan Direktur PT Adi Graha Wira Jatim Eko Ganefianto (kanan) sedang memeragakan naskah kerjasama kedua BUMD kepada wartawan. (Foto : HI/awe)

JAKARTA (Harianindonesia.id) : Hotel Balairung Jakarta menjalin kerjasama pemasaran kamar hotel dengan PT Adi Graha Wira Jatim, anak perusahaan BUMD Jatim PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim yang mengelola dua hotel yakni Varna Hotel dan Bekizaar Hotel di Surabaya

PWU Jatim memiliki 8 anak perusahaan antara lain Bank Jatim, Bank UMKM Jatim, Jamkrida, Askrida dan PT Adi Graha Wira Jatim.

Penandatangan naskah kerjasama dilakukan di ruangan VIP Restoran Balairung Jakarta antara Dirut Hotel Balairung Buchari Bachter dan Direktur PT Adi Graha Wira Jatim Ir Eko Ganefianto, Senin.

Penandatanganan naskah kerjasama ini merupakan lanjutan dari Misi Dagang Pemprov Jatim ke Sumbar bulan juni 2023 lalu.

Pada forum Misi Dagang yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jatim Kafifah Indar Parawansa bersama Kadin Jawa Timur itu, sejumlah pengusaha anggota Kadin Jatim dan Sumbar sempat menekan MoU dengan nilai Rp300 miliar.

“Penandatangan kerjasama antara Hotel Balairung dengan PT Adi Graha Wira Jatim (BUMD Jatim, red) ini merupakan lanjutan dari penandatanganan MoU di Padang dulu,” ujar Direktur Hotel Balairung Ir Buchari Bachter MT dalam keterangan bersamanya dengan Direktur PT Adi Graha Wira Jatim Ir Eko Ganefianto, MBA kepada wartawan di Jakarta, Senin (17/7/2023).

Penandatangan juga dihadiri GM dan Sekper Hotel Balairung Jakarta.

Menurut Buchari, kerjasama antara Hotel Balairung dengan anak perusahaan BUMD Jatim difokuskan dalam dua bidang.

Pertama, dalam bidang pemasaran kamar hotel. Kedua hotel sepakat menjual kamar untuk tamu refrensi dengan harga yang telah disepakati. Untuk tamu Hotel Balairung yang menginap di Hotel Varna dan Bekizaar dengan rate 300-600 ribu permalam. Sementara tamu dari Jatim di Hotel Balairung Rp450-600 per malam.

Syaratnya, tamu dari kedua hotel dapat menggunakan rate spesial ini jika mendapatkan memo harga dari masing masing manajemen hotel.

Kedua, kata Buchari, manajemen Hotel Balairung dalam kerjasama ini juga ingin mendapatkan pembelajaran dari BUMD Jatim dalam mengelola bisnis mereka.

Sebab, kata Buchari, BUMD Jatim dikenal memiliki pengalaman dalam mengembangkan usaha anak perusahaannya, dan kemudian memberikan deviden besar bagi daerahnya.

SIMAK JUGA :  Mengenal Caketum Kadin Sumbar, Ir H Buchari Bachter, MT : Kita Cari Kawan dan Jaringan Bisnis Aja, Bang!

“Jadi wajar saja, jika kami dari Balairung dan Pemprop Sumbar mengambil manfaat positif dari kerjasama ini. Diharapkan dari kerjasama ini akan terjadi transfer pengalaman dari BUMD dan Pemprop Jatim ke Sumatera Barat,” kata Buchari.

Sementara itu, Ir Eko Ganefianto dalam kesempatan yang sama menjelaskan, bahwa pihaknya juga akan mengambil manfaat dari kerjasama ini, termasuk salah satunya dari aspek pemasaran hotel.

“Meskipun kami memiliki pasar tradisional di Jatim, tetapi kami tetap butuh supplay tamu dari luar, termasuk yang berasal dari Hotel Balairung sendiri,” ujar Eko.

Selain itu, kata profesional blasteran Bukittinggi dan Jawa ini, pihak BUMD Jatim juga melihat potensi perluasan peluang usaha dan bisnis dari daerah Sumbar yang akan memberikan benefit secara langsung kepada BUMD Jatim.

Sebab, kata Eko, BUMD Jatim selain memiliki anak perusahaan di bidang jasa dan properti juga bergerak di bidang manufactur.

Dalam menjalankan kerjasama ini, lanjut Eko, pihaknya juga ingin melihat prospek kerjasama di bidang jasa dan manufactur tadi. “Saya kira di dalam bisnis, suatu yang sangat mungkin, dalam satu kerjasama akan dapat peluang dan prospek baru. Itu maksud kami menjalin kerjasama dengan Hotel Balairung,” kata Eko.

Lebih detil Eko menjelaskan bahwa BUMD Jatim saat ini memiliki delapan anak perusahaan. Total aset perusahaan secara keseluruhan mencapai nilai Rp1 triliun. Sementara aset PT Wira sendiri sebesar Rp60 miliar. Tetapi sebagian besar aset tersebut berupa tanah.

Dijelaskan Eko, optimalisasi aset tersebut masih menghadapi kendala. Sebab untuk menjadikan aset tersebut menjadi produktif harus menyertakan pihak ketiga, sesuai PP Nomor 54 tahun 2017.

Aset juga tidak bisa dijual dan dijadikan agunan kepada pihak perbankan. Sebab kalau terjadi kredit macet aset tersebut bisa berpindah kepada pihak lain.

“Itulah dilema yang kami hadapi di BUMD Jatim. Sehingga kami terpaksa harus mencari fartner untuk mendukung program ekspansi kami,” pungkas Eko.

Buchari Bachter yang juga Ketum Kadin Sumbar menambahkan untuk merealisasi program MoU dengan Kadin Jatim saat kunjungan bisnis ke Sumbar lalu, pihaknya juga sedang menyiapkan kunjungan balasan dengan membawa pengurus Kadin Sumbar dan kabupaten kota, serta Gubernur Sumbar. Namun waktunya masih akan dibahas dengan pihak Pemprop Sumbar. (*)

Awaluddin Awe

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *