Lapangan Pengolah Minyak Terbesar, Blok Rokan Sudah Kembali ke Indonesia

  • Bagikan

Salah satu kilang di Blok Rokan (foto : kredit Liputan6)

JAKARTA – Satu lapangan pengolahan minyak terbesar dan paling tinggi produksinya yakni Blok Rokan dikembalikan PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) pengelolaannya kepada Indonesia, setelah resmi mengakhiri hak kelolanya di Blok Rokan pada Ahad (8/8) pukul 23.59.

Presiden Direktur CPI, Albert Simanjuntak, berpamitan dan mengucapkan terima kasih. “Ini semua karena dukungan dari pemerintah Indonesia. Kami atas nama Chevron mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya kepada kami,” ujar Albert dalam ceremonial alih kelola Blok Rokan, Senin (9/8) dini hari, seperti dikutip Republika.

Albert menjelaskan selama 97 tahun Chevron berkiprah di Indonesia sudah banyak yang dilakukan perusahaan salah satunya adalah menemukan dan kemudian mengelola lapangan migas yang punya kontribusi produksi cukup besar di Indonesia selama ini.

“Terimakasih atas dukungan dan kesempatan bagi kami untuk mendukung masyarakat dan negara Indonesia selama hampir satu abad ini,” ujar Albert.

Chevron sudah terhitung 97 tahun mengelola Blok Rokan di Riau tersebut. Dengan kontrak Cost Recovery, Chevron menjadikan Blok Rokan sebagai salah satu lapangan dengan produksi terbesar di Indonesia. Kontrak hak kelola Chevron resmi berakhir di Ahad (8/8) pukul 23.59.

Selanjutnya, Blok Rokan selama 20 tahun mendatang akan dikelola resmi oleh PT Pertamina (Persero) dengan skema kontrak Gross Split.

Blok Rokan sendiri ditemukan pada 1927. Blok Rokan merupakan salah satu lapangan penyumbang produksi yang besar di Indonesia. Bahkan, Blok Rokan sempat mencapai puncak produksinya sebesar 1 juta barel per hari pada 1973.

Sedangkan hingga semester pertama tahun ini Blok Rokan masih merupakan lapangan migas yang memproduksi cukup besar. Tercatat, produksi blok rokan mencapai 160.646 barel per hari.

SIMAK JUGA :  BMKG Catat 52 Gempa, Warga Mentawai Tidur Di Luar Rumah

Untuk bisa menekan laju penurunan produksi alami (natural decline) PT Pertamina (Persero) perlu melakukan banyak pekerjaan rumah. Namun, upaya yang paling digetolkan Pertamina adalah EOR dan juga giat melakukan pengeboran sumur sumur yang sudah ada.

Berakhirnya kontrak Chevron diputuskan oleh Pemerintah sejak 2018. Sejak 2018 Chevron mulai melakukan transisi alih kelola kepada Pertamina. Berbagai upaya dilakukan kedua perusahaan bersama SKK Migas untuk bisa menjaga produksi Blok Rokan.

BOR 500 SUMUR

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan Pertamina berkomitmen untuk menjaga produksi dari Blok Rokan. Berbagai upaya dilakukan Pertamina mulai dari EOR hingga agresif melakukan pengeboran.

“Kami berkomitmen menjaga level produksi agar tidak terjadi penurunan. Pada tahun ini kami mengebor 161 sumur. Untuk tahun depan kami akan mengebor 500 sumur,” ujar Nicke dalam ceremony alih kelola Blok Rokan, Senin (9/8) dini hari.

Untuk bisa menjaga produksi ini, kata Nicke Pertamina mengalokasikan dua miliar dolar AS untuk investasi. Dana ini akan dipakai Pertamina untuk pengeboran, pengembangan dan juga langkah menjaga produksi.

“Hingga 2025 mendatang Pertamina telah menganggarkan dua miliar dolar AS untuk menjaga produksi Blok Rokan,” ujar Nicke.

Kedepan, kata Nicke Pertamina juga berkomitmen untuk melakukan eksplorasi di Blok Rokan karena masih ada potensi cadangan yang masih bisa dikembangkan. “WK Rokan masih banyak lapangan non konvensional yang bisa dikembangkan untuk menunjang produksi nasional,” ujar Nicke. (*)

Awaluddin Awe

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *