Oleh : Raymon Lidra Mufti*)
Penguatan InJourney Aviation Services (IAS) oleh Badan Pengelola BUMN seharusnya bukan sekedar langkah peningkatan kinerja korporasi.
Lebih dari itu, ini merupakan sinyal kuat bahwa sektor aviasi nasional sedang bergerak menuju fase transformasi yang lebih mendasar menuju standar global yang tidak hanya efisien, tetapi juga terintegrasi dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, IAS tidak cukup hanya berperan sebagai penyedia layanan bandara. Ia dituntut untuk berevolusi menjadi entitas strategis yang mampu mengelola kompleksitas ekosistem aviasi modern.
Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan kerangka transformasi yang berpijak pada tiga fondasi utama keunggulan operasional, ekspansi dan inovasi layanan, serta penciptaan nilai dalam ekosistem yang lebih luas.
Langkah pertama yang harus diperkuat adalah aspek operasional. Namun, keunggulan operasional hari ini tidak lagi cukup dimaknai sebagai efisiensi semata. Ia harus berbasis pada integrasi teknologi dan data.
Digitalisasi proses ground handling, misalnya, dapat menjadi titik masuk transformasi. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengelola turnaround pesawat serta sistem prediktif untuk mengantisipasi keterlambatan, IAS dapat meningkatkan ketepatan waktu penerbangan sekaligus menekan biaya operasional.
Integrasi sistem dengan maskapai dan pengatur lalu lintas udara juga akan memperkuat koordinasi lintas aktor dalam ekosistem penerbangan.
Di sisi lain, pengembangan platform logistik bandara yang terintegrasi akan mendorong lompatan peran IAS. Tidak lagi sekadar operator, melainkan menjadi pengelola rantai logistik udara secara menyeluruh.
Dengan sistem pelacakan kargo secara real-time dan digitalisasi dokumen, efisiensi tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh seluruh pelaku industri.
Standarisasi global juga menjadi keharusan. Mengacu pada praktik terbaik internasional seperti standar operasional global dan sertifikasi keselamatan akan menempatkan IAS dalam posisi yang sejajar dengan pemain global.
Transformasi tidak akan lengkap tanpa ekspansi layanan. IAS perlu bergerak menuju model bisnis yang lebih luas sebagai grup layanan aviasi terpadu.
Diversifikasi ke sektor seperti logistik kargo, layanan penumpang premium, hingga dukungan perawatan pesawat akan memperluas sumber pendapatan sekaligus memperkuat posisi strategis perusahaan.
Layanan seperti fast-track passenger handling dan concierge bandara, misalnya, dapat menjawab kebutuhan segmen penumpang kelas menengah atas dan internasional yang terus berkembang.
Selain itu, integrasi dengan ekosistem ekonomi digital menjadi peluang besar. Kolaborasi dengan platform e-commerce dan perusahaan teknologi logistik memungkinkan IAS masuk ke rantai nilai baru, seperti layanan pengiriman cepat berbasis udara dan pusat pemenuhan (fulfillment hub) di kawasan bandara.
Tidak dapat dipungkiri, teknologi menjadi tulang punggung transformasi. Pemanfaatan kecerdasan buatan dan analitik data memungkinkan perencanaan operasional yang lebih presisi mulai dari proyeksi permintaan hingga optimalisasi distribusi kargo.
Lebih jauh, konsep digital twin dalam operasional bandara dapat digunakan untuk mensimulasikan berbagai skenario, sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih berbasis data.
Sementara itu, otomatisasi dan robotika dalam penanganan bagasi maupun pembersihan pesawat akan meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi risiko kesalahan manusia.
Namun, transformasi teknologi tidak akan berarti tanpa penguatan sumber daya manusia. IAS perlu memastikan bahwa pekerjanya tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Pembentukan pusat pelatihan khusus aviasi dan program peningkatan keterampilan di bidang digital menjadi langkah strategis. Di saat yang sama, reformasi budaya kerja berbasis kinerja harus tetap menempatkan aspek keselamatan dan kualitas layanan sebagai prioritas utama.
Dalam industri yang semakin kompleks, tidak ada entitas yang dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, kemitraan strategis dengan pemain global, aliansi maskapai, serta integrasi dalam pengembangan kawasan bandara sebagai pusat ekonomi (aerotropolis) menjadi penting.
Pengembangan platform digital yang mempertemukan berbagai penyedia layanan aviasi juga akan menciptakan efisiensi baru sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan, IAS juga perlu mengintegrasikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam operasionalnya.
Penggunaan peralatan berbasis listrik di area bandara, pengurangan emisi karbon, serta optimalisasi logistik yang ramah lingkungan merupakan langkah konkret yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya saing perusahaan di tingkat global.
Di sisi sosial, pemberdayaan tenaga kerja lokal dan pelibatan UMKM dalam rantai pasok akan memperkuat kontribusi perusahaan terhadap pembangunan ekonomi nasional.
Seluruh langkah ini pada akhirnya mengarah pada satu tujuan besar: mentransformasikan IAS dari sekadar penyedia layanan menjadi integrator strategis dalam ekosistem aviasi.
Nilai tambah yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh seluruh pemangku kepentingan, mulai dari maskapai yang memperoleh efisiensi operasional, penumpang yang menikmati layanan lebih baik, hingga pemerintah yang diuntungkan melalui peningkatan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Jika dirumuskan dalam satu langkah besar, transformasi ini dapat diwujudkan melalui konsep IAS 4.0: Integrated Aviation Services Platform.
Dalam model ini, IAS tidak hanya berfungsi sebagai operator layanan, tetapi juga sebagai:
– Platform digital,
– Pengelola layanan terintegrasi,
– Sekaligus orchestrator ekosistem aviasi nasional.
–
Penguatan IAS oleh BP BUMN harus dibaca sebagai momentum untuk melakukan lompatan strategis. Transformasi yang dilakukan tidak boleh berhenti pada peningkatan layanan, tetapi harus mengarah pada rekonstruksi model bisnis aviasi nasional yang berbasis digital, efisien, dan terintegrasi.
Pada titik inilah IAS memiliki peluang untuk mengambil peran yang lebih besar bukan sekadar pelaku, tetapi sebagai arsitek utama ekosistem transportasi udara Indonesia. (*)
*)Penulis adalah Praktisi/Pengamat Industri Aviasi







