Kinerja Keuangan Hutama Karya Terus Bertumbuh, Sumbangan Terbesar dari JTTS

Oplus_131072

Direktur Utama Hutama Karya Koentjoro bersama jajaran direksi PT Hutama Karya berpose salam semangat usai melaksanakan Rapat Koordinasi TW III Hutama Karya di Jakarta, Rabu (21/10). (Foto : Kiriman Corcom HK)

JAKARTA (HARIANIndonesia.id ) – Kinerja Keuangan PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) terus bertumbuh. Sampai triwulan III 2026, Perseroan membukukan pertumbuhan laba bersih 6,30 persen dan pendapatan usaha juga naik 2,70 persen.

Pertumbuhan laba Perseroan masih ditopang oleh peningkatan pendapatan operasional jalan tol, pengendalian beban usaha, dan efisiensi beban keuangan.

Direktur Utama Hutama Karya, Koentjoro, menjelaskan bahwa pencapaian kinerja sampai triwulan III mencerminkan disiplin keuangan perusahaan.

“Pendapatan kami tumbuh moderat, tetapi beban usaha tetap terjaga dan beban bunga lebih efisien. Laba bersih tahunan kami juga meningkat sejak 2023 hingga 2025, dan tahun ini tren itu berlanjut,” ujar Koentjoro dalam Rapat Koordinasi TW III Hutama Karya di Jakarta, Rabu (21/10) seperti dikutip dari penjelasan resmi Perseroan kepada media.

Pencapaian kinerja ini sejalan dengan agenda 2 Tahun Gerak Nyata pemerintahan, yang mendorong BUMN tumbuh sehat dan menguntungkan agar aset negara memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Pencapaian ini juga mendukung Asta Cita, khususnya misi melanjutkan pembangunan infrastruktur. Sebagai BUMN yang mendapat penugasan membangun infrastruktur strategis, Hutama Karya harus menuntaskan pembangunan sekaligus menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

Jalan Tol Jadi Penopang

Dalam kesempatan rapat, Koentjoro memaparkan bahwa pertumbuhan kinerja Perseroan ditopang oleh pendapatan operasional jalan tol yang tumbuh 12,4 persen secara tahunan, atau lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan perusahaan secara keseluruhan.

“Kami membangun jalan tol, lalu mengoperasikannya. Tetapi bisnis jasa konstruksi tetap menjadi inti usaha kami,” jelas Koentjoro.

Dijelaskan, pendapatan bisnis jasa konstruksi bergantung pada perolehan dan siklus proyek, sedangkan pendapatan bidang usaha operasional jalan tol masuk rutin selama masa konsesi, sesuai jumlah kendaraan yang melintas. Perusahaan menilai, kombinasi kedua usaha membuat sumber pendapatan lebih seimbang dan arus kas lebih pasti.

Koentjoro menjelaskan lebih rinci bahwa Sumber utama pendapatan operasional jalan tol adalah berasal dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Sampai saat ini, ruas JTTS yang dioperasikan Hutama Karya dan anak usaha kini sudah mencapai 847 km.

Sepanjang Semester I 2026, lalu lintas di JTTS mencapai 17 juta kendaraan, dan rata-rata lalu lintas hariannya melampaui target perusahaan.

Kenaikan ini didorong oleh bertambahnya ruas yang beroperasi, makin banyaknya kawasan industri dan pelabuhan yang terhubung, serta meningkatnya penggunaan jalan tol oleh masyarakat.

Di luar Sumatra, Hutama Karya juga mengoperasikan dua ruas tol di Jakarta, yakni Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta Seksi S (JORR-S) sepanjang 14,3 km dan Jalan Tol Akses Tanjung Priok (ATP) sepanjang 11,4 km.

JORR-S melayani arus kendaraan di selatan Jakarta, sedangkan ATP menjadi akses logistik menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan kedua ruas tersebut, total jalan tol yang dioperasikan Hutama Karya mencapai sekitar 872,5 km.

Di ruas operasi, Hutama Karya menyiagakan armada layanan dan gardu transaksi, serta mengembangkan aplikasi MOZY yang menyediakan pantauan CCTV, informasi tarif, dan tombol darurat.

Perseroan juga terus meningkatkan kualitas layanan, mulai dari penanganan keluhan, kesigapan dan keramahan petugas, hingga pemeliharaan jalan dan fasilitas pendukung.

SIMAK JUGA :  LBP : Pemda Jangan Tutup-Tutupi Angka Covid-19

Hutama Karya masuk jajaran 100 BUMN dengan pelayanan terbaik dalam Danantara Indonesia CX100, yang mengukur kualitas layanan BUMN melalui penilaian pakar serta survei langsung dan daring kepada masyarakat.

Selektif Memilih Proyek

Direktur Utama Hutama Karya, Koentjoro pada kesempatan sama membuka kunci keberhasilan Perseroan meningkatkan kinerja keuangan, salah satunya adalah mengutamakan manajemen risiko dalam memilih proyek.

Setiap peluang proyek dikaji dari sisi profil risiko, kelayakan, dan kemampuan bayar pemberi kerja sebelum perusahaan memutuskan untuk terlibat. Langkah ini menjaga kualitas piutang dan arus kas perusahaan.

Menurut Koentjoro, hampir separuh kontrak baru berasal dari segmen manufaktur serta pemeliharaan dan operasional jalan tol. Sisanya berasal dari proyek jalan dan jembatan, gedung, serta sumber daya air.

Saat ini, Hutama Karya juga menjadi kontraktor di 27 Proyek Strategis Nasional (PSN) di berbagai sektor.

Struktur Keuangan Terjaga

Hingga September 2026, total aset dan ekuitas perusahaan sama-sama tumbuh dibanding tahun lalu, seiring bertambahnya ruas JTTS yang terbangun.

Rasio utang berbunga terhadap modal terjaga di kisaran 0,25 kali. Kondisi ini memberi ruang bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ke depan.

Bahkan lembaga rating seperti Pefindo, Fitch Ratings, dan Moody’s menempatkan Hutama Karya pada kategori layak investasi (investment grade).

Dampak dan Prioritas Akhir Tahun

Bagi BUMN penugasan, keuangan yang sehat berdampak langsung bagi masyarakat. Pembayaran kepada mitra, subkontraktor, dan pemasok tetap lancar, sehingga rantai pasok konstruksi dan tenaga kerja di daerah ikut bergerak.

Arus kas dari ruas tol yang sudah beroperasi juga dapat dipakai untuk membangun ruas berikutnya.

Hal ini sejalan dengan penekanan agenda 2 Tahun Gerak Nyata pada hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat, yang bagi Hutama Karya berupa jalan tol yang melayani jutaan perjalanan dan perputaran ekonomi bagi mitra usaha di daerah.

Hingga akhir 2026, perusahaan memprioritaskan pengendalian beban usaha, kualitas aset, arus kas, dan efisiensi energi di lapangan.

Sementara, pembangunan tiga koridor JTTS juga terus berjalan, yakni Palembang–Betung, Betung–Jambi, dan Rengat–Pekanbaru (Seksi Junction Pekanbaru–Bypass Pekanbaru).

Secara internal, perusahaan meningkatkan kompetensi SDM operasi dan pemeliharaan, mengembangkan digitalisasi layanan jalan tol, dan memperkuat pengendalian risiko di setiap tahap pelaksanaan proyek.

Koentjoro menegaskan, seluruh langkah tersebut ditempuh agar perusahaan tetap tumbuh sambil menjalankan tugas negara. “Penugasan negara bisa dijalankan dengan tetap menjaga kesehatan keuangan perusahaan,” tutur Bos HK ini mengakhiri penjelasannya.

Profil Hutama Karya

PT Hutama Karya (Persero), adalah bagian dari Danantara, BUMN yang dipercaya menggarap proyek-proyek infrastruktur strategis nasional.

Dengan visi menjadi Leading Sustainable Construction Enterprise and Infrastructure Developer, perusahaan berpengalaman membangun dan mengelola jalan tol, jembatan, gedung, hingga kawasan—dengan rekam jejak pada proyek berskala besar seperti Jalan Tol Trans-Sumatra.

Hutama Karya bekerja bersama enam anak perusahaan yakni HKI (konstruksi), HKA dan HMW (operasi dan pemeliharaan jalan tol), HKR (properti), serta HMTP dan HPSL (jalan dan jembatan di Papua dan Sumatra Barat).

Perusahaan menjalankan setiap proyek dengan tata kelola yang baik, standar keselamatan tinggi, dan perhatian pada kelestarian lingkungan—sebagai wujud komitmen membangun infrastruktur yang bermanfaat bagi generasi mendatang dan mendukung Asta Cita Pemerintah. (*)

Awaluddin Awe