MENGAPA SUMBAR KINI MENDAPAT PERHATIAN JAKARTA?

  • Bagikan

Oleh : Awaluddin Awe)*

Pertanyaan ini banyak diajukan berbagai kalangan. Mengapa di awal pemerintahan Gubernur Mahyeldi dan Wagub Audy Joinaldy, Sumbar jadi perhatian Jakarta?

Pertanyaan ini menjadi layak diajukan, disebabkan alih kepemimpinan Gubernur Sumbar tidak lari dari Partai PKS. Sementara PKS di pusat, dalam tanda kutip”, berseberangan dengan pemerintah pusat, dalam pandangan politik.

Banyak contoh kasus politik yang bisa membuktikan itu.

Di masa lalu, dua kali Pilpres, Jokowi kalah total di Sumbar. Biang kerok kekalahan itu, adalah disebabkan kekuatan dua partai, yakni PKS dan Gerindra.

Terakhir, pasca rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo, Prabowo masuk kabinet. Memegang kendali strategis negara, sebagai Menteri Pertahanan.

Bagaimana dengan PKS? Tetap menjadi lawannya pemerintah pusat dalam politik di luar pemerintahan.

Saat Mahyeldi dan Audy Joinaldy memenangkan Pilgub Sumbar, pikiran elit Sumbar, daerah ini akan terkucil lagi. Sebab gubernur terpilih bukan kesukaan pusat.

Puncak ketidaksukaan terhadap Sumbar mencuat dengan penghentian pembangunan jalan tol Padang Pekanbaru, hanya sampai Buayan, di Km6+900.

Nah, saat inilah semangat Sumbar bangkit kembali. Sejumlah elit politik Sumbar menggunakan isu ini untuk menjual nama Sumbar lagi ke pusat.

Tersebutlah nama politisi senayan asal Partai Gerindra Sumbar, Andre Rosiade, paling aktif mengkomunikasikan soal tol itu kepada sejumlah menteri dan berimplikasi kepada sejumlah proyek lainnya.

Tetapi harus juga diingat, peranan Wagub muda Audy Joinaldy juga moncer. Dia punya relasi kuat dengan sejumlah menteri strategis seperti Menteri Bappenas dan Menko Meninvest Luhut Panjaitan.

Dengan Menteri Bappenas Manoarfa, Audy satu partai PPP. Partai berlambang Kabah inilah yang sukses mengusung Audy jadi Wagub Mahyeldi Ansharullah.

Peran lainnya adalah Walikota Pariaman Dr Genius Umar, MSi. Saat peresmian pasar Pariaman dia sangat ngotot mengajak Presiden Jokowi, yanh sudak dikenalnya sejak masih jadi Walikota Solo.

Namun Jokowi mengutus Wapres KH Ma’ruf Amin meresmikan pasar Pariaman bantuan APBN sebesar Rp100 miliar lebih tersebut.

EFEKTIFITAS KUNJUNGAN

Satu pertanyaan standard, dimana posisi Gubernur Sumbar Mahyeldi dalam dinamika kunjungan tinggi orang pusat ke Sumbar ini?

Sejauh ini saya tidak bisa menjawabnya. Sebab link saya tidak kuat ke lingkungan PKS untuk bisa mencari tau sikap Mahyeldi.

Tetapi saya bisa menerjemahkan sikap Mahyeldi dari filosofi orang PKS. Selama kegiatan yang dilakukan menguntungkan posisi kader dan partainya, maka PKS bersikap welcome.

Namun begitu kepentingan kader dan partainya terganggu, maka dia akan bereaksi dan melawan semua tindakan memperlemah performance kader dan partainya.

Lalu, ada pertanyaan lanjutan, apakah efek kunjungan para menteri itu akan nyata.

Saya jawab fifty fifty.

Alasannya, trauma pusat ke Sumbar belum hilang. Sebab kemampuan orang Sumbar dalam berdiplomasi belum diiringi dengan model kerja aktif di lingkungan bawahnya.

Sebagai salah satu ilustrasi saja yang paling aktual adalah dalam pembangunan jalan tol Padang Pekanbaru.

SIMAK JUGA :  PKDP, Hutang yang tak akan Pernah Terbayarkan

Ini adalah project paling prestisius diberikan kepada Sumbar, tetapi dalam waktu tiga tahun hanya selesai 4,6 Km saja dari total panjang keseluruhan 36,6 Km pada sesi pertama, Padang Sicincin (Pacin).

Sesi berikutnya adalah Kapalo Hilalang Bukittinggi dan Bukittinggi Pangkalan.

Sementara sesi lain dari Pekanbaru Bangkinang dan Bangkinang Pangkalan sudah lewat dari 60 persen progressnya.

Jika kemudian Owner Jalan Tol Sumatera, PT Hutama Karya menghentikan tol sampai STA 6+900, jadi wajar.

Sebab berapa kerugian akibat keterlambatan pekerjaan selama tiga tahun dengan hasil progres fisik jalan tol sepanjang 4,6 Km.

JIKA Pemegang kekuasaan di Sumbar dan Kabupaten kota bisa mengubah cara komunikasinya dengan Jakarta, dengan menggunakan prinsip aktif ke bawah, dalam artian staf dibawah benar benar mendukung pekerjaan Gubernur, Bupati dan Walikota, maka bangun komunikasi yang telah terbentuk via Audy dan Andre Rosiade ini dengan sejumlah kementrian akan berbuah hasil maksimal.

Tetapi sebaliknya, jika gaya Main Surang (Mansur) ke Jakarta ini tidak didukung lapis bawah. Maka hasilnya akan nol koma nol kembali. Akan sama dengan nasib jalan tol.

Dan harus diingat, secara politik PKS dan Gerindra saat ini tidak kompak, termasuk di Sumbar.

Bisa jadi, apa yang dilakukan Andre Rosiade sebagai anggota DPRRI asal pemilihan Sumbar 1, jika kemudian menggeser dan berefek negatif terhadap posisi Mahyeldi sebagai kader PKS, bisa mentah di tengah jalan.

Sebab apapun, Gubernur sampai hari ini masih perpanjangan tangan pemerintah pusat, bukan DPRRI. DPRRI dapat memberikan perkuatan, apabila proses administrasi proyeknya melalui mekanisme pusat dan propinsi.

Jadi, kesimpulannya, semua kondisi baik hari ini yang diterima Sumbar harus dimaksimalkan secara baik. Jangan sampai terjadi hasil rintisan kerja bersama ini, diklaim oleh satu pihak sebagai hasil kerjanya sendiri.

Sebab orang Minang itu aneh, dan punya sikap lucu.

Kok bagak ang aden ndak melawan
Kok kayo ang aden ndak mintak tolong
Kok santiang, santiang surang se lah

Sifat inilah yang menjadikan orang Minang itu berbeda dengan etnis lain.

Orang Minang bisa saja kalah di mata Jokowi, tetapi mereka bangga bisa mengalahkan Jokowi dengan angka telak di kampung mereka sendiri.

Meskipun secara pandangan politik objektif, Sumbar masuk dalam kelompok orang yang kalah saat memprediksi kemenangan Prabowo Sandiago Uno pada Pilpres lalu.

Siapa diantara tokoh Sumbar yang mampu menerjemahkan dan mengendalikan, situasi di atas dalam kaitan nama baik Sumbar saat ini dan ke depannya dalam konteks hubungan memberi manfaat ke depannya?

Silahkan beropini sendiri sendiri (*)

Penulis adalah)*wartawan dan Pemimpin Redaksi Harianindonesia.id dan Wapimpred Kabarpolisi.com Jakarta

Berdomisili di kota Padang Panjang

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *