oleh

Mengapa memilih Irjen Pol (P) Drs H Fakhrizal, MHum dan Dr Genius Umar, Ssos, Msi, ini alasannya:

TAK lama lagi, kurang lebih enam hari lagi, 3 + 3 hari lagi, dihitung mulai Kamis, 3 Desember 2020 ini, pucuk tertinggi di Propinsi Sumbar akan berganti melalui mekanisme pemilihan secara demokratis di 12.500 TPS di seluruh pelosok Sumbar.

Hari itu, 9 Desember, 3 x 3 itu, akan menjadi hari bersejarah. Itu akhir dari kepemimpinan Gubernur Irwan Prayitno dan Nasrul Abit sebagai gubernur dan wakil gubernur Sumbar. Sebelumnya Irwan Prayitno juga sudah memimpin bersama wagub Muslim Kasim (alm).

Era 10 tahun Irwan Prayitno akan berakhir dan akan berganti dengan suasana baru. Suasana itu akan sangat ditentukan oleh siapa yang jadi pemenang Pilgub Sumbar 2020 ini.

Sebuah pemerintahan itu sebenarnya bisa dirasa rasakan pahit manisnya dari profil calon gubernur dan wakil gubernurnya, terlebih bagi orang yang mengetahui siapa sosok gubernur dan wakil gubernur yang akan dipilih itu.

Saya memilih Fakhrizal dan Genius Umar, sederhana saja. Pertama, Fakhrizal mantan kapolda dua kali. Pastilah pengalamannya tinggi. Tau cara mengelola instansi tingkat propinsi. Tau dengan tata cara hubungan dengan sesama pimpinan dan daerah, dan tau pula cara membangun hubungan dengan anak buah, kapolres dan jajaran.

Kedua, Fakhrizal punya relasi bagus di Jakarta. Itu bisa dipakai untuk membantu kelemahan yang ada di Sumbar. Dia dekat dengan mendagri dan sejumlah mentri. Itu penting untuk menggaet dana tambahan untuk Sumbar.

Bahkan, Presiden Jokowi sendiri juga mengetahui sosok pribadi Fakhrizal sehingga juga disuport maju jadi Cagub Sumbar.

Ketiga, Fakhrizal memiliki relasi bagus dengan pimpinan lembaga dan organisasi kemasyarakatan serta tokoh adat dan pemuda di Sumbar.

Sehingga hubungan itu melahirkan kesepakatan tak tertulis yakni mendorong Fakhrizal maju menjadi calon gubernur Sumbar dan kini telah ditetapkan sebagai cagub no 3.

Ketiga, wakil Fakhrizal, Dr Genius Umar adalah sosok muda yang energik, tangkas dan cerdas. Satu kali maju sebagai walikota Pariaman dan sukses, Genius kemudian maju jadi walikota Pariaman dengan satu syarat tragik, mundur sebagai ASN, tetapi berhasil memenangkan Pilwako Pariaman dengan masa kerja sampai 2024.

Selain seorang pamong, Genius juga seorang akademisi, menjadi tenaga pengajar dan penguji calon doktor di sejumlah perguruan tinggi.

Sebagai walikota, Genius punya talenta bagus, kreatif, inovatif dan punya jaringan luas, baik di dalam maupun diluar negeri. Saat ini Genius Umar adalah wakil presiden organisasi kota tujuan wisata di Asia Tenggara, yang berkedudukan di Korea Selatan.

Genius berhasil menempati posisi orang ke dua di organisasi level dunia itu, karena memiliki visi luar biasa dalam bidang ke pariwisataan. Hasilnya bisa kita lihat di Pariaman kini. Dia berhasil menyunglap pantai Pariaman menjadi lebih indah, nyaman dan mempesona.

Keempat, pasangan Fakhrizal dan Genius Umar tidak memiliki cacat secara hukum, tidak terlibat pidana hukum, korupsi dan sebagainya, tidak terlibat soal perempuan dan moral lainnya.

Sebagai pejabat karir dan pemimpin masyarakat, Fakhrizal dan Genius Umar, sama sama bersih dan berkembang karena kemampuan individunya, bukan karena ada faktor X.

Visi dan Misi Kerakyatan

Sebagai cagub dan cawagub Sumbar, Fakhrizal dan Genius Umar juga dikenal dengan visi dan misi yang sangat sederhana tetapi bisa mengangkat jatidiri orang minang.

Visinya adalah menjadikan Sumbar sebagai propinsi yang religius, sejahtera dan bermartabat.

Pengertian religius itu adalah menjadikan kembali Sumbar sebagai daerah yang konsen terhadap kehidupan beragama seperti nan talalah dulu, dimana mesjid dan surau, benar benar berperan dalam kehidupan masyarakat.

Selain juga, hubungan antara agama dan adat dalam temali Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, benar benar diwujudkan kembali dalam tatanan berpemerintah dan bernagari dan bermasyarakat.

Artinya, konsepsi Sumbar sebagai daerah agama dan beradat benar benar akan terlihat, termasuk dalam konteks perhatian dari pemerintah pusat. Tegasnya, posisi Sumbar sebagai daerah yang memiliki hukum adat harus diakui dalam hukum formal di Indonesia.

Salah satu bentuk konsep jadi dari filosofi hukum ini, adalah Fakhrizal dan Genius akan merancang satu perda tanah ulayat yang bertujuan, jika ada investasi yang menggunakan tanah ulayat, maka investor harus memasukan perwakilan kaum tersebut sebagai pemegang saham.

Artinya, visi Fakhrizal dan Genius Umar memang murni berpikir kebaikan bagi daerah ini. Sebagai master hukum Universitas Gajah Mada (UGM) Fakhrizal pasti sudah melakukan percermatan selama ini, mengapa investasi di Sumbar berjalan lambat. Salah satu sebabnya memang terkendala oleh status tanah ulayat, yang tidak bisa serta merta dibebaskan, tanpa kesepakatan anggota kaum.

Tetapi dengan adanya Perda tanah ulayat itu, maka secara otomatis status tanah tersebut tetap akan ada nilainya, selagi perusahaan tersebut berjalan. Contoh kasus ini bisa dilihat dari tanah pabrik PT Semen Padang yang merupakan milik kaum setempat, dimana masyarakat setempat tetap menerima konpensasi atas penguasaan tanah ulayat tersebut.

Selain itu, program prioritas Fakhrizal dan Genius juga tidak muluk muluk. Mereka hanya memberikan sekolah gratis bagi siswa SD hingga SLTA dan membantu biaya satu sarjana di satu rumah tangga miskin.

Selain itu, memperjuangkan semua guru mendapatkan sertifikasi dari Kemendikbud dan memberikan pelayanan kesehatan bagi warga mulai dari masa kandungan sampai dewasa.

FaGe juga memberikan bantuan bagi tenaga guru agama, garin mesjid dan guru mengaji di mushalla dan mesjid, disamping juga memberikan bantuan rutin setiap bagi pemeliharaan mesjid dan mushala di seluruh Sumbar.

Secara ekonomi, FaGe memberikan perkuatan terhadap pengembangan ekonomi berbasis pariwisata. Alasannya logis, sebab Sumbar adalah daerah tujuan wisata, maka wajar UKM yang dibangun adalah yang berbasis sektor pariwisata.

Terakhir, Fakhrizal dan Genius adalah pemimpin yang tegas, berani mengambil keputusan. Pada saat yang lain takut mengijinkan mengolah tambang dan hutan rakyat, FaGe malah memfasilitasinya.

Alasannya juga logis, hutan di Sumbar ini luasnya mencapai 2,3 juga hektar yang terdiri sekitar 800 ribu hektar merupakan kewenangan pusat berupa hutan konservasi, hutan lindung dan sebagainya.

Sisanya, adalah kawasan hutan sosial dan hutan kemasyarakatan seluas 500 ribu hektar, dimana 230 ribu hektar telah memiliki keputusan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dikelola oleh masyarakat.

Tetapi FaGe mensyaratkan pengelolaan tambang dan hutan rakyat itu dengan ilmu lingkungan yang konkret. Misal, setiap jengkal lahan tambang yang digali, harus ditimbun lagi. Setiap batang pohon yang ditebang, harus diganti dengan menanam pohon baru.

Jadi, jika dilihat dari atas sampai ke bawah, semua yang diprogramkan FaGe sebagai cagub dan cawagub, adalah untuk mengangkat derajat kesejahteraan dan kesehatan masyarakat, serta kebanggaan daerah semata.

Itulah alasannya, mengapa Fakhrizal dan Genius Umar harus dipilih pada 9 Desember 2020 mendatang. Jika tidak dipilih, maka keterlaluaaannnnnnn. (*)

AWALUDDIN AWE

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed