oleh

LETIH

Oleh : Luzi Diamanda (*

 

SIANG tadi, seorang wartawati muda curhat. Kantornya telah mengambil kebijakan merumahkan beberapa karyawan, termasuk wartawan, tanpa digaji, karena kantor masih tidak tega menyebut di PHK. Tentunya tidak ada pesangon.

Sedihnya lagi, seorang temannya, juga wartawati telah dirumahkan, bersamaan dengan suaminya yang juga dirumahkan, dari sebuah kantor swasta. Anaknya tiga. Rumah kredit. Motor juga kredit.

“Aku juga siap-siap Tante, jika kemungkinan buruk itu terjadi. Kami tak bisa marah. Covid-19 menyebabkan pendapatan iklan turun ke titik terendah, kantor tak bisa lagi memberi gaji,” katanya.

Aku menghela nafas, berat, letih, perih. Karena aku tau, kondisi yang sama juga telah mendera beberapa bidang pekerjaan lainnya.

“Jika itu terjadi kamu mau ngapain?” tanyaku.

“Itulah Tan, makanya aku curhat ke Tante,” jawabnya.

“Kamu bisa masak? Buat kue? Buat jamu? Atau buat kerajinan tangan seperti merajut? Atau apalah itu,” kata ku.

“Gak bisa Tan, cuma bisa masak mie, telor dadar. Sekarang karena udah nikah dan punya anak, bisa buat sambal dikit-dikit. Kerajinan apa lagi, Tan. Gak da yang bisa. Kenapa Tan?” tanyanya.

“Kalau Tante di posisi mu, dan pernah Tante alami, saat gak bisa berharap gaji, gunakan tangan untuk memasak, buat kue, jual. Atau merajut, buat tas, jual. Karena seburuk apa pun keadaan, orang tetap butuh makan, butuh penganan buat cemilan,” kata ku.

“Aku gak bisa Tan. Paling cari kerjaan lain dan berdoa, satu dari kami tetap kerja,” katanya.

“Jika keadaan makin buruk yang terjadi, gimana? PHK terjadi karena Covid gak kunjung usai?” tanyaku.

“Jual apa yang ada Tante. Mungkin juga rumah kreditan ini juga harus dioper,” katanya menerawang.

Aku lebih lagi menerawang. Keadaan seperti yang dialami perempuan muda cantik dan energik ini, juga dialami banyak tenaga kerja lainnya. Covid-19 telah meruntuhkan banyak sisi kehidupan. Ekonomi amburadul.

Teman2ku, wartawan, juga ada yang sudah gabung gojek, ada yang jual cendol, ada yang jual sambal, dll. Aku tercenung. Sampai kapan virus ini terus merusak banyak sendi kehidupan?

Sayangnya banyak pula masyarakat yang tak peduli, tak patuh protokol kesehatan. Masih berkumpul, hura-hura dan seolah-olah keadaan biasa-biasa saja. Padahal ini sudah luar biasa sangat luar biasa. Jika masih juga abai, entahlah.

Lalu aku ingat sedikit kalimat keras ku pada kakek tetangga sebelah yang berkata: itu takdir Tuhan. Kalau kena dan mati ya itu takdirNya. Kenapa harus takut. Untuk apa masker, lemas makainya.”

Lalu aku jawab dengan kesal: Kek, kalau kakek aja yang sakit lalu mati ya gak apa. Tapi sakit itu kakek tularin ke anak, ke cucu juga ke aku ke anak-anak ku. Mungkin juga ke orang se komplek ini. Kakek mau?

Covid-19, aku letih melihat orang-orang yang tak patuh. Menangis untuk yang kehilangan pekerjaan, kehilangan mata pencarian. Mungkin esok, aku, teman2ku. Anak-anak ku, akan mengalaminya juga, jika kita tetap abai, tetap lalai.**/diamanda

*) Wartawati senior di Riau

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed