Apapun Hasil Debat, Pemenang Pilpres adalah Capresnya Orang Jawa

  • Bagikan

Oleh : Awaluddin Awe

Saya menyaksikan debat capres dan cawapres dari upaya pihak pihak tertentu untuk mengeleminasi dua capres dan cawapres lainnya yakni Ganjar-Mahfud dan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.

Hampir dari semua flatform media sosial seolah olah berupaya memenangkan Paslon Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Meskipun secara faktual penampilan debat mereka tidak memenuhi tata cara dan etika debat.

Paling mutakhir adalah pertanyaan Gibran kepada Cawapres Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar dengan mengajukan pertanyaan singkatan, yang kemudian diketahui sebagai kebijakan carbon dan ekonomi syariah.

Sejak kapan debat dilakukan dengan menyembunyikan esensi permasalahan dengan tujuan mendegradasi lawan seperti pernah dilakukan Jokowi kepada Prabowo Subianto di dua pilpres terdahulu.

Saya ingin menyimpulkan semua minat kusut dan benang kusut di atas dengan satu jawaban saja : bahwa pemenang Pilpres 2024 adalah Capresnya berasal dari suku Jawa.

Catat, Jokowi dua kali berhasil memenangkan Pilpres melawan Prabowo Subianto adalah karena dirinya orang Jawa.

SBY dua kali memenangkan Pilpres adalah karena berasal dari Jawa.

Pilpres 2024 dimenangkan oleh Ganjar-Mahfud karena Ganjar Pranowo adalah orang Jawa.

Suku Jawa adalah suku berpopulasi terbesar di Indonesia dan di luar negeri. Sejarah negara ini juga dibuat oleh putra Jawa bernama Soekarno. Dia adalah orang Jawa.

Pengganti Presiden Soekarno, Letjen TNI (P) Soeharto adalah orang Jawa. Dia berkuasa sebagai Presiden Indonesia lebih dari 32 tahun.

Demokrasi yang hidup di Indonesia adalah demokrasi Jawa. Demokrasi yang memenangkan orang Jawa sebagai presiden.

Belum ada sejarah di Indonesia, presiden terpilih bukan orang Jawa. Semua bersuku Jawa.

Apakah cara pandang seperti ini keliru? Tidak. Cara pandang yang sama juga dimiliki oleh suku lain. Batak memilih batak, Minang memilih minang dan sebagainya, itu biasa dan lumrah.

Jika demikian mengapa setiap kali kontestasi Pilpres yang menang itu adalah Capres suku Jawa, karena pemilih suku Jawa paling besar. Mereka merupakan mayoritas pemilih di Pilpres.

Dan mereka juga dikenal sebagai pemilih manut dan patuh atas amanah dari orang tuanya.

Saya pernah menguji kebenaran cara pandang ini dengan mewawancarai beberapa orang Jawa yang saya nilai pendidikan dan strata sosialnya relatif rendah dengan bertanya siapa Calon Presiden 2024 yang akan dia pilih.

Jawabannya adalah : Saya orang Jawa mas, pasti memilih calon dari orang asli suku Jawa. Kami orang Jawa pasti memilih Capres Jawa.

Budayawan Emha Ainun Najib dalam satu diskusi tentang Demokrasi ditanya mengapa setiap kali Pilpres yang terpilih itu Presiden orang Jawa?

Jawaban Emha Ainun Najib yang mempresentasikan sikap orang Jawa seperti ini:

Mas, mau ambil Jabatan menteri silahkan
Mas, mau ambil jabatan Panglima silahkan
Mas Mau ambil jabatan Kapolri silahkan
Mau ambil jabatan apapun di negara ini silahkan

SIMAK JUGA : 

Tetapi masak kami yang merupakan mayoritas suku di Indonesia tidak boleh jadi Presiden?

Jawaban Cak Nun ini membuktikan teori pemenangan Pilpres yang saya pahami sejak pemilihan langsung dilakukan.

Artinya, bukan menepikan potensi Capres dari suku lain untuk bisa menjadi presiden tetapi fakta demografi politik kita saat ini memang seperti itu.

Makanya ketika saya berhadapan dengan isu politik uang dan kekuasaan yang dilakukan satu Paslon, ditambah lagi dengan teror politik dari kawan kawan dari paslon tersebut, saya dengan santai mengatakan Presiden itu Ganjar Pranowo.

Setidaknya analisa saya ini relatif sama dengan hasil survey Roy Morgan, salah satu perusahaan periset dan penilai keuangan perusahaan internasional yang menempatkan Ganjar Pranowo sebagai pemenang Pilpres 2024.

Dengan demikian, saya anggap Pilpres itu sudah selesai di dalam tulisan ini, dan tidak akan berubah pada hitungan suara di KPU. Sebab jumlah pemilih Ganjar-Mahfud jauh lebih besar dibandingkan Prabowo Gibran dan Anis Cak Imin.

Kemudian ada yang menyebutkan bahwa kans Prabowo Gibran lebih besar dibandingkan Ganjar Mahfud. Alasannya karena Prabowo didukung oleh Jokowi.

Saya mau bertanya, Jokowi orang Jawa bukan? Kemana hak suaranya akan diberikan? Secara teori pasti kepada orang Jawa, bukan kepada Prabowo. Beruntung saja suara yang diberikan kepada anaknya sendiri yang notabene Cawapresnya Prabowo. Itu saja yang membuat suara Jokowi kepada Prabowo.

Lalu, orang sekitar Jokowi yang juga kebanyakan orang Jawa, pasti memilih paslon Jawa juga. Teorinya sama dengan Jokowi memilih.

Tetapi apakah ambisi Jokowi akan sama dengan ambisi pemilih orang Jawa lain dalam memilih presiden?

Saya pastikan tidak. Para pemilih Jawa lain tidak akan memilih Cawapres Jawa. Sebab mereka tau posisi Cawapres tidak bisa melindungi kedudukan dan moralitas orang Jawa di negara. Mereka tetap akan memilih Ganjar sebagai presidennya. Sebab Ganjar yang akan meneruskan tradisi Kejawaan dalam pemerintahan Indonesia.

Orang Jawa sudah kadung menganggap pemerintahan adalah milik mereka, dan mereka menikmati keistimewaan dalam kedudukan presiden itu. Itu juga yang menjadi alasan mengapa pembangunan di Jawa jauh lebih pesat dari daerah lain. Para pejabat negara sebagian besar berasal dari suku Jawa.

Kemenangan politik ini memberikan warna dalam pemerintahan nasional kita. Dan itu adalah fakta yang tak terbantahkan.

Jika kemudian di Pilpres 2024 ini terjadi perubahan situasi pemilih Jawa disebabkan oleh faktor tertentu, saya kira orang Jawa akan sangat arif dengan perubahan. Dan saya yakin mereka tidak ingin berubah: memberi jatah presiden kepada yang lain. (*)

Penulis adalah wartawan senior, penulis buku dan pencinta politik cerdas

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *