oleh

Ahli Epidemiologi Kritik Menkes ; Tega Suntik Presiden dengan Vaksin yang Efektifitasnya 50,4 Persen

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin
Me

JAKARTA – Ahli epidemiologi dr Tifauzia Tyassuma mengkritik Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin soal Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang baru saja disuntik vaksin Covid-19 Sinovac.

Dia menyayangkan, mengapa Menkes baru pilihan Jokowi tersebut membiarkan orang nomor satu di Indonesia disuntik dengan vaksin yang efektivitasnya hanya setengah dari 100 persen.

“Pak Menkes Mas Budi Gunadi Sadikin, tega banget sih anda membiarkan, Presiden Republik Indonesia, lambang negara, orang nomor satu Indonesia, disuntik vaksin yang efektivitasnya cuma 50.4 persen?,” ucapnya.

Ahli epidemiologi itu merasa percuma Jokowi telah memilihnya, karena Menkes tidak berjuang memberikan yang terbaik bagi Presiden RI.

Padahal sebagai dokter sekaligus pendukung Jokowi ia rela menggantikan posisi presiden karena efektivitas vaksin tersebut yang masih meragukan.

“Tidak apa, saya mendukung Presiden Jokowi, berkorban menjadi orang pertama untuk divaksin,” tuturnya, sebagaimana dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari akun Facebook Tifauzia Tyassuma, Kamis, 14 Januari 2021.

Dia juga sekali lagi menyayangkan keputusan Menkes, padahal para Dokter dan Nakes sudah berjuang susah payah mau berkorban disuntik vaksin Sinovac.

“Semoga kalian semua masih ingat pelajaran EBM, Evidence-Based Medicine dan semoga hati nurani kalian masih diterangi cahaya, meski sekecil lilin,” ucapnya.

Walaupun tindakan yang dilakukan Jokowi sama dengan pemimpin di sejumlah negara lainnya, seperti Singapura, Rusia, dan AS, Tifauzia menegaskan vaksin yang mereka gunakan efektivitasnya tidak sekecil Sinovac.

“Tapi jangan dong dikasih vaksin yang cuma 50,4 persen ini, kasihan kan, masa presiden negara terhormat dan kita banggakan ini dapat jatah vaksin yang tidak setara mutunya dengan vaksin yang diberikan untuk kepala negara yang lain?,” tuturnya.

Ahli epidemiologi tersebut menjelaskan, dirinya bukan takut akan efek samping dari vaksin Sinovac tersebut, namun ada masalah lain yang menurutnya lebih penting.

“Saya bukan takut sama efek sampingnya, saya tahu pasukan Dokter Kepresidenan sudah siap-siap (dan mereka deg-degan keringat dingin di balik pintu) memastikan presiden baik-baik saja dan tidak kena Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI),” ucapnya.

Justru masalah lain yang tak kalah penting menurutnya adalah harga diri kita sebagai Negara Republik Kesatuan Indonesia (NKRI) yang membiarkan Jokowi disuntik vaksin dengan efektivitas sekecil itu.

“Masalahnya yang lebih esensial adalah, di mana harga diri kita sebagai bangsa? Masa Presiden RI kita biarkan disuntik vaksin 50.4 persen,” tuturnya.

Perlu diketahui, para peneliti di Brasil mengungkap hasil terbaru efikasi (efektivitas) vaksin Covid-19 Sinovac.

Dari uji klinis ditemukan vaksin Sinovac hanya 50.4 persen efektif mencegah infeksi, jauh di bawah persentase yang diumumkan pekan lalu.

Ilmuwan dan pengamat pun mengecam pusat biomedis Butantan karena merilis sebagian data pada minggu lalu yang menghasilkan ekspektasi yang tidak realistis. Kebingungan mungkin menambah skeptisisme di Brasil tentang vaksin China.

“Kami memiliki vaksin yang bagus. Bukan vaksin terbaik di dunia. Bukan vaksin yang ideal,” kata ahli mikrobiologi Natalia Pasternak.

Padahal minggu lalu, para peneliti Brasil merayakan hasil yang menunjukkan 78 persen efikasi atau kemanjuran melawan kasus Covid-19 “ringan hingga berat”.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed