Asisten I Pemko Padang Dr Eddy Hasmi saat menyampaikan program Surau Smart pada acara bedah buku Prof Musril Zahari di Ruang Theater Perpustakaan Nasional Jakarta di Gambir, Sabtu (8/6/2025). (Foto : Awe/HI)

JAKARTA – Pemerintah Kota Padang dibawah kepemimpinan Walikota Milenial Fadly Amran melakukan terobosan berupa revitalisasi peran Surau sebagai lembaga edukasi lewat program Surau Smart.
“Kami menargetkan selama lima tahun akan ada 800 Surau (mesjid) di Kota Padang masuk dalam program Surau Smart. Program ini adalah revitalisasi dari peran Surau sebagai sarana edukasi di Ranah Minang tempo dulu,” papar Asisten 1 Pemko Padang Dr Eddy Hasmi dalam acara bedah buku Prof Musril Zahari MPd yang bertajuk Surau Dangau Lapau dan Peradaban di Gedung Theater Pusat Perpustakaan Nasional di Jakarta, Sabtu (8/6/2025).
Buku Surau Dangau Lapau dan Peradaban yang dibedah lewat program kerja Forum Alumni Mahasiswa Minang (FAMM) Jakarta mengungkapkan terjadinya degradasi peran Surau Dangau dan Lapau dalam pembentukan karakter anak Minang sejak tempo doeloe.
Surau di Ranah Minang adalah tempat remaja belajar mengaji dan ketrampilan agama dan budaya Minang, sekaligus menjadi tempat tidur bagi anak laki laki Minang. Pagi hari mereka kembali ke rumah, dan selanjutnya bersekolah. Malamnya kembali lagi ke Surau sampai seterusnya dan baru berhenti setelah si anak dinilai mandiri atau telah berkeluarga.
Sementara Dangau adalah tempat para remaja Minang belajar pencak silat dan kepandaian khusus lainnya dari seorang laki laki trampil dalam bidangnya seperti ilmu kanuragan dan ilmu magic lainnya. Para alumni Dangau pada akhirnya menjadi seorang yang tangkas dan trampil dalam menghadapi kompetisi hidup.
Lapau adalah lembaga interaksi anak anak Minang dengan sejawat dan lebih tua darinya. Dari sini anak anak belajar mendapatkan pengetahuan luar, kemampuan berkata kata dan berdebat, serta proses komunikasi interaktif lainnya.
Pakar pendidikan Prof Fasli Jalal saat menyampaikan sambutan menjelang acara bedah buku menyebutkan pengalamannya saat sempat tinggal tiga tahun di kampung asalnya, sempat menikmati tidur di surau dan mendengar orang pintar bicara di Lapau.
“Terus terang saya juga dibentuk oleh masa lalu pola pendidikan di Surau dan Lapau dimana terjadi proses edukasi dan pengalaman interaksi keilmuan dari orang lebih pintar dan memiliki informasi yang kualifaid untuk era waktu itu. Dan itu sangat berkesan bagi saya pribadi,” ujar Fasli memaparkan pengalamannya saat tinggal di Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Fasli Jalal mengakui bahwa pola edukasi di ranah Minang doeloe memang memberikan andil terhadap perkembangan karakter anak, meskipun kemudian tidak semuanya juga menjadi orang.
“Namun harus diakui bahwa pola edukasi Surau dan Lapau menjadi bagian sangat penting dalam pembangunan karakter anak Minang tempo dulu. Dan kita juga tidak mungkin berharap peran yang sama akan dilakukan kembali oleh Surau dan Lapau kini. Tetapi kita hanya perlu mentranformasi peran tersebut lewat boarding school atau sistim pendidikan agama lainnya,” papar Rektor Yarsi Jakarta ini.
Penulis buku Prof Musril Zahari dalam pengantar bedah buku mengungkapkan bahwa dirinya hanya menulis dan memaparkan sejarah dan perkembangan serta identifikasi kelembagaan Surau Dangau dan Lapau sebagai salah satu potret lembaga edukasi anak anak Minang tempo dulu.
Ketiga lembaga ini, menurut Musril Zahari, memiliki peran masing masing dalam pembentukan karakter anak Minang yang lazim disebut sebagai sosok agamais, berilmu dan trampil dalam pentas kehidupan.
“Buku saya hanya menjelaskan ada proses edukasi anak Minang lewat Surau Dangau dan Lapau, sekaligus menegaskan bahwa ketiganya menjadi peradaban di ranah Minang. Bahwa hari ini kelembagaan tersebut mengalami perubahan, itulah yang akan menjadi concern kita bersama,” kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta ini.
Masih Bisa Direvitalisasi
Asisten 1 Pemko Padang Dr Eddy Hasmi saat menyampaikan sambutan mewakili Wako Fadly Amran menyebutkan upaya memperbaiki dan revitalisasi aset sejarah dan pendidikan di ranah Minang, termasuk Surau masih bisa dilakukan asal mendapat dukungan dari pemerintah setempat.
“Seperti program Surau Smart yang dilakukan Walikota Padang Fadly Amran adalah salah satu contoh bahwa kita masih bisa memperbaiki sarana kependidikan lapangan dengan metodologi digital. Hasilnya menurut saya akan sama tetapi versi keunggulannya saja yang berbeda atau sesuai dengan zamannya,” ujar mantan Plt Sekdako Padang ini meyakinkan.
Program yang sama, menurut Eddy, bisa dilakukan dalam bentuk lain pada kelembagaan dan aset budaya di Ranah Minang. Bahkan menurut dia, program yang akan dilakukan bisa menjadi lebih baik sejalan dengan perkembangan sumberdaya manusianya.
“Artinya, upaya yang dilakukan FAMM yang dipimpin pak Guspardi Gaus ini bisa diteruskan dalam bentuk aksi lapangan oleh para kepala daerah di ranah Minang dengan atensi dari warga rantau,” tambahnya.
Melalui Surau Smart, jelas Eddy, para remaja diedukasi dengan berbagai pengetahuan tentang keagamaan dan budaya Minang lainnya, termasuk belajar pencak silat.
Program Surau Smart akan menyasar 800 surau yang ada di kota Padang dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dan dukungan dari pengurus Surau.
Dengan program Surau Smart ini sejatinya peran dan fungsi Surau sebagai lembaga edukasi para remaja Minang masih tetap bisa dipertahankan, dan para perantau tidak perlu lagi kuatir akan terjadi degradasi peran dan fungsi Surau, tegas Eddy Hasmi mengakhiri.
Rantau dan Surau Global
Profesor Fasli Jalal menambahkan bahwa perkembangan kekinian tentang entitas orang Minang kini tidak lagi hanya di ranah tapi juga di rantau dan global. Penyebabnya adalah sebaran etnik Minang saat ini sudah bertambah banyak di luar negeri.
Realitas ini, sebut Fasli Jalal, sudah dibahas dalam forum diaspora dan disepakati bahwa rantau global adalah juga entitas Minang yang harus didukung oleh sistem dan peradaban Minang juga, termasuk pembangunan sarana Surau.
“Dengan demikian sebaran Surau Minang akan berada di sejumlah negara bangsa di luar negeri dan ini perlu diperkuat dengan basis informasi dan edukasi tentang Minang secara aktual,” papar mantan Wamendikbud RI ini.
Ketua FAMM Guspardi Gaus mengakui bahwa pembelajaran dan pemahaman tentang ke-Minang-an bagi warga diaspora, terutama yang berada pada level cucu saat ini memang perlu dilakukan secara terprogram dan berkelanjutan. Tujuannya supaya warga diaspora dan termasuk warga rantau nasional, tidak tercerabut dari keMinangannya.
Mantan Anggota DPPRI dari Partai PAN ini menyampaikan satu fakta bahwa cucunya di Australia sampai hari ini tidak bisa sama sekali berbahasa Minang. Penyebabnya adalah tidak terjadi bahasa komunikasi Minang di dalam rumah tangga.
“Oleh sebab itu, kita perlu melakukan proses edukasi Minang dengan menggunakan sarana Surau, termasuk di kawasan diaspora supaya suasana dan peradaban Minang tetap bisa dipertahankan,” papar Ketua FAAM Jakarta ini mengakhiri.
Bedah buku Prof Musril Zahari MPd berlangsung sukses dan dihadiri hampir seratus peserta dari berbagai disiplin ilmu dan profesi, termasuk dari Ranah Minang sendiri. (*)
Awaluddin Awe
awe.padangpanjang@gmail.vom







