Suasana bedah Buku Surau, Dangau, Lapau dan Peradaban karya Prof Musril Zahari MPd di Aula Theater Pusat Perpustakaan Nasional Jakarta, Sabtu (8/6/2025) (foto : Awe/HI)
JAKARTA – Kalangan etnik Minang yang dikenal memiliki garis keturunan perempuan, kini lebih mengandalkan kemampuan dan kepemimpinan orang tua dalam pendidikan anak pasca terjadinya degradasi peradaban dengan hilangnya peran Mamak dan fungsi kelembagaan orang Minang.
Sebagai etnik mattriachat sebenarnya sistim kekeluargaan dan pendidikan anak Minang lebih didukung oleh fungsi mamak (paman) dan kelembagaan Surau (mesjid), Dangau (rumah ladang) dan Lapau (lepau/lapo).
Sebaliknya, peranan ayah dan ibu dalam keluarga Minang tidak lebih sebagai tempat lahir dan pertumbuhan anak secara biologis saja.
“Akibat hilangnya fungsi fungsi tersebut etnik Minang akan lebih mengandalkan kepemimpinan orang tua (parenting) dalam pendidikan generasinya dan tidak lagi mengandalkan ranah (kampung) sebagai pusat peradaban,” ujar Pituo Minang Nasional Prof Dr dr Fasli Jalal Phd dalam pengantar bedah buku Prof Musril Zahari MPd berjudul Surau, Dangau, Lapau dan Peradaban di Aula Theater Pusat Perpustakaan Nasional di Gambir Jakarta, Sabtu (8/6/2025).
Buku Surau, Dangau, Lapau dan Peradaban Minang yang dibedah atas prakarsa Forum Alumni Mahasiswa Minang (FAMM) Jakarta berisi tentang sejarah keberadaan Surau, Dangau dan Lapau sebagai entitas pendidikan anak anak Minang di masa lampau.
Surau adalah tempat anak anak belajar mengaji sekaligus tempat tidur, dan menjadi tempat anak Minang belajar mandiri.
Sementara Dangau, adalah tempat anak anak Minang belajar bela diri silat dan kepandaian lainnya dari laki laki tua Minang.
Sedangkan Lapau adalah sarana interaksi anak dengan lingkungan sebaya dan lebih tua dalam mengasah kemampuan dan ketajaman berpikir, berkata dan bertindak.
Ditafsirkan, dengan pola edukasi trias Au tersebut anak anak Minang dikenal agamais, cerdas dan dikenal berani dalam menegakkan kebenaran. Fakta, putra terbaik Minang saisuak memang berperan dalam sejarah penjajahan dan pra kemerdekaan.
Diluar fungsi kelembagaan Minang itu, peranan Mamak sebagai sokoguru ibu yang menjadi simbol Minang, kini juga telah terdegradasi disebabkan kurangnya pemahaman terhadap adat istiadat dan berbagai faktor lain, termasuk masalah ekonomi.
“Fungsi itu, hari ini tidak lagi berperan dalam edukasi terhadap anak anak Minang. Dan fungsi edukasi itu kini lebih menjadi tanggungjawab orang tua seperti layaknya etnis lain. Tetapi satu hal yang membanggakan dari pola edukasi itu rantau Minang kini telah mengglobal, bukan nasional lagi,” papar Fasli Jalal.
Menurut Fasli, pendidikan ala Minang tersebut tidak dipungkiri berhasil membentuk karakter anak Minang yang kuat secara entitas. Mereka mampu bersaing dengan anak anak suku lain di perantauan.
Namun masa lalu itu, kini tidak mungkin diulang lagi. Sebab perkembangan zaman telah membuat fungsi Surau, Dangau dan Lapau berubah secara total sejalan dengan berubahnya peradaban Minang. Namun fungsi fungsi tersebut bisa diubah dalam metodologi pendidikan formal, seperti boarding school.
Tetapi Ketua Forum Alumni Mahasiswa Minang Jakarta Guspardi Gaus pada kesempatan sama tetap mengkuatirkan hilangnya peradaban Minang akibat krisis zaman dan semakin luasnya perantauan Minang.
Sebagai ilustrasi, mantan Anggota DPRRI dari Partai PAN ini sudah mengalami kendala dalam penguasaan bahasa Minang oleh tingkatan cucu yang orang tuanya tinggal di luar negeri.
“Meskipun telah disepakati bahwa etnik Minang itu bukan hanya ada di ranah dan nasional tetapi juga mendunia, namun salah satu hambatan potensial yang muncul adalah gagap berbahasa Minang. Ini satu hal yang harus dikawal sampai kemudian hari,” ujar politisi berambut putih asal Padang Panjang ini.
Digitalisasi Surau
Kerisauan terhadap hilangnya fungsi Surau sebagai salah satu instrumen pendidikan anak Minang sepertinya dapat diatasi oleh Pemko Padang yang dipimpin Walikota milenial, Fadly Amran.
Seperti dikemukakan Asisten I Pemko Padang Dr Eddy Hasmi di depan peserta bedah buku, bahwa Pemko Padang saat ini sedang merestrukturisasi fungsi Surau melalui program Surau Smart atau digitalisasi Surau.
Pemko Padang menyiapkan sarana digitalisasi Surau berdasarkan persetujuan Pengurus Surau, yang dapat dipergunakan oleh para remaja untuk melakukan berbagai kegiatan digital keagamaan dan kegiatan digital produktif lainnya.
“Pemko Padang akan menargetkan 800 Surau di Kota Padang yang ikut dalam program Surau Smart sebagai sebuah solusi mengaktifkan fungsi Surau di Ranah Minang mendidik anak anak. Saya kira, apakah yang sudah dilakukan Pemko Padang sudah bisa menjawab tantangan terhadap pemberdayaan Surau di Ranah Minang,” papar Eddy Hasmi.
Mantan Pelaksana Tugas Sekdako Padang ini memberikan apresiasi terhadap kerja kreatif dari FAMM dalam bentuk bedah buku tentang Minang di masa lampau. Menurut Eddy, kreatifitas seperti ini akan sangat membantu pemahaman generasi terhadap sejarah peradaban Minang.
“Sebagai contoh. Orang di luar ranah Minang berasumsi bahwa orang Minang itu adalah orang Padang. Padahal Padang itu hanyalah satu dari 19 ranah Minang. Pemahaman ini sangat penting disampaikan kepada generasi dan etnik lain juga,” pungkas Eddy Hasmi.
Ketua Pelaksana Bedah Buku dalam pengantarnya menyebutkan bahwa bedah buku adalah sebagai sarana untuk memberikan pemahaman tentang sejarah Minang dan peradabannya kepada warga rantau.
“Melalui acara seperti ini kita harapkan tumbuhnya pemahaman dan pengenalan warga rantau terhadap tata cara hidup dan budaya Minang di masa lampau,” ujarnya.
Acara bedah buku Prof Musril Zahari cukup sukses dihadiri hampir seratusan peserta, dan menampilkan penanggap yang kompeten di bidang masing masing. (*)
Awaluddin Awe
awe.padangpanjang@gmail.com







