Diskusi SATUPENA, Budhy Munawar Rachman: Lembaga Pendidikan Justru Mendorong Keberagamaan Eksklusif

  • Bagikan
Ilustrasi - Lembaga Pendidikan.

JAKARTA – Dalam mengajarkan agama, sekolah atau lembaga pendidikan kita justru mendorong sikap keberagamaan yang eksklusif, tidak inklusif.

Hal itu dinyatakan oleh Dr. Budhy Munawar Rachman, dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara.

Budhy Munawar Rachman menyatakan itu dalam Webinar di Jakarta, Kamis malam, 19 Januari 2023. Webinar itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA. Diskusi Satupena itu dipandu oleh Swary Utami Dewi dan Amelia Fitriani.

Budhy Munawar Rachman menuturkan, para aktivis kebebasan beragama sudah lama menyadari bahwa eksklusifisme beragama itu memang dikembangkan di sekolah. “Pertama, keberagamaan yang eksklusif, dan kemudian keberagamaan yang intoleran,” tegasnya.

“Jadi melatih sikap inklusif sejak usia muda itu merupakan tantangan besar, karena ini harus betul-betul terpadu atau tersistem,” jelas Budhy.

Budhy juga menyinggung cara pengajaran agama di sekolah secara sendiri-sendiri. Siswa yang Muslim mendapat pendidikan agama Islam, siswa Kristen mendapat pelajaran agama Kristen, dan seterusnya.

Tetapi dalam kurikulum pendidikan agama itu tidak ada jembatan. Misalnya, jembatan antara pelajaran agama Islam dan pelajaran agama Kristen. “Bahkan, tidak didorong untuk membuat jembatan,” ujarnya.

Sehingga, kemudian walaupun sekarang di sekolah yang modern itu ada moving class, tetapi sebenarnya tidak pernah ada perjumpaan di antara para siswa itu.

“Oleh karena itu, saya selalu mengagumi sekolah-sekolah yang mengadakan perjumpaan. Misalnya, mengadakan festival agama-agama,” tutur Budhy.

Ini festival di mana semua siswa harus hadir di kelas-kelas semua agama, sehingga mendapat penjelasan ringkas: agama Islam itu apa, agama Kristen itu apa, Hindu, Buddha, dan seterusnya. Dan kemudian siswa yang bukan beragama itu juga bisa bertanya.

Menurut Budhy, banyak guru agama saat ini tidak dilatih untuk keluar dari “benteng” agamanya sendiri. “Pendidikan agama kita mendorong toleransi pasif,” kata Budhy.***

SIMAK JUGA :  BPBD Damkar Bartim Dukung Pos Penyekatan Perbatasan Kaltengsel di Pasar Panas
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *