Beranda OPINI Andi Arief yang Dulu Aku Kenal

Andi Arief yang Dulu Aku Kenal

Oleh: Petrus Hariyanto (*

Bertemu dengannya jauh sebelum PRD (Partai Rakyat Demokratik) berdiri. Awalnya Nezar Patria, mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang memberitahu bahwa ada mahasiswa Fisipol UGM yang akan bergabung dengan SMY (Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta).

“Orangnya pandai berbicara di forum. Di berbagai kelompok dia cukup banyak diterima. Awalnya, mahasiswa yang doyan kelompok diskusi. Pikirannya mulai tercerahkan dan bersimpati dengan gerakan mahasiswa yang turun ke jalan,” ucap Nezar kepadaku di Yogyakarta sekitar tahun 1993.

Yang aku tahu dia salah satu pimpinan PRD bawah tanah. Bahkan dipercaya menjadi juru bicara PRD bawah tanah

Tak berapa lama, aku yang koordinator SMS (Solidaritas Mahasiswa Semarang), kembali datang ke UGM. Di sanalah bertemu dengannya. Dia datang ke markas anak-anak SMY dengan membawa buku di tangannya. Kata kawan-kawan Andi Arief kutu buku. Di mana pun berada dia selalu menyempatkan diri membaca buku.

Tahun 1996, kami sama-sama ikut kongres, berdirinya SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), di Bogor. Aku menjadi pengurus pusat. Setelah berapa lama, Andi Arief menjadi Ketua Cabang SMID Yogyakarta berduet dengan Nezar Patria menjadi sekretaris cabang.

Sering bertemu dengannya, seorang yang ulet berdebat. Kuliah dijalani dengan tertib, dan berhasil lulus tepat waktunya. Seingat aku dia juga tidak merokok. Tidak pernah kujumpai dia menyukai minuman keras.

Aku tak ingat kapan terakhir berjumpa dengannya sebelum meletus “Peristiwa 27 Juli”. Aku masuk penjara dan dia bersama kawan-kawan lainnya melanjutkan perlawanan di bawah tanah.

Yang aku tahu dia salah satu pimpinan PRD bawah tanah. Bahkan dipercaya menjadi juru bicara PRD bawah tanah. Kepemimpinan sifatnya kolektif, terdiri dari berbagai kawan.

Andi Arief salah satu yang dikembalikan oleh penculiknya. Kesaksian mereka kami dengar dari balik jeruji. Mereka disiksa berhari-hari dan ditahan di tempat yang rahasia.

Dari balik jeruji penjara, kami sering bertukar surat dengan kawan-kawan di luar, salah satunya dengan Andi Arief.

Aku kagum kepada militansi mereka. Dalam situasi diburu aparat mereka tetap melanjutkan perlawanan. Bahkan dalam situasi kelaparan dan kekurangan logistik.

Karena kegigihan mereka terus mengobarkan perlawanan, di tahun 1998, Andi Arief berhasil diculik. Saat itu kami mendengar kawan-kawan satu demi satu menghilang.

Baca Juga: Andi Arief Pakai Narkoba, Gerindra Salahkan Jokowi

Kasusnya dibuka di publik. Dewan Kehormatan Perwira yang dibentuk Wiranto, Pangab saat itu menyalahkan Prabowo sebagai pimpinan penculikan itu. Prabowo akhirnya dipecat, saat itu pangkatnya baru Letnan Jenderal.

Andi Arief salah satu yang dikembalikan oleh penculiknya. Kesaksian mereka kami dengar dari balik jeruji. Mereka disiksa berhari-hari dan ditahan di tempat yang rahasia.

Ketika keluar penjara, aku bersama Budiman Soedjatmiko memimpin partai kembali. Sejak itu aku tak pernah melihat Andi Arief aktif. Bahkan, sempat memanggil dia, kenapa tidak menjalankan tugas partai? Atas ketidakdisiplinannya, aku dan Budiman menandatangani Surat Teguran kepada Andi Arief.

Andi Arief memilih aktif di luar gerakan. Pernah mendengar dia menjadi manajer Soft ball Lampung. Yang paling mengagetkan, dia menjadi tim sukses SBY.

Bisa dikatakan dia pelopor diantara kawan-kawan PRD yang terjun ke politik praktis. Beragam reaksi bermunculan atas pilihan dia, betapapun SBY dianggap mewakili kekuatan militer.

Sejak itu aku tak pernah nyambung dengan langkah politiknya. Bahkan pada Pelpres 2014, aku sempat berpolemik dengannya di beberapa media online.

Dia membantah kalau Widji Thukul diculik. Aku kritik pernyataan dia. Pada tahun 2001, PRD membentuk tim pencari fakta, untuk mencari keberadaan Thukul. Saat itu tim menyatakan kalau Widji Thukul hilang karena diculik.

Semakin jauh jarak aku dengan Andi Arief. Sama sekali tidak pernah bertegur sapa. Hilang jalinan silahturami diantara kami. Aku salah satu yang tidak bisa menerima langkah politik Andi Arief.

Dan saat pilpres ini, semakin hilang simpatiku ke dia. Pernyataannya sering tidak menggunakan akal sehat, cenderung menghalalkan segala cara.

Dan hari ini saya mendapat banyak pertanyaan dari rekan-rekan apa benar Andi Arief tertangkap polisi karena memakai sabu? Pertanyaan itu masuk lewat pesan WhatsApp.

Aku tidak langsung menjawab, karena masih ragu dengan berita itu. Ketika aku baca di berbagai berita online ternyata mengkonfirmasi banyak pertanyaan rekanku.

Aku tak tahu sikap politiknya karena dampak memakai sabu atau habitat politik dia sudah demikian kotor dan meracuninya.

Secara politik memang aku berseberangan dengan Andi Arief. Di banyak kesempatan aku sering mengkritik langkah politiknya, terutama bila bertemu sesama mantan PRD (Partai Rakyat Demokratik).

Tapi, musibah yang baru dia hadapi membuat aku sedih juga. Kami pernah bersama-sama berjuang melawan kediktatoran Soeharto. Mungkin boleh dibilang aku dekat dengannya. Walau dia banyak bergerak di Yogyakarta dan aku di Jakarta, berdiskusi dan aksi massa sering kami lalui bersama.

Bahkan pada tanggal 7 Desember 1996, kami pernah hampir mati bersama. Ketika itu kami berdua (SMID) melakukan aksi loncat pagar ke Kedubes Belanda, untuk memperingati invasi Negara RI ke Timor Timur. Aksi kami mendapat reaksi keras dari pemuda pro integrasi. Mereka meringsek masuk ke Kedubes Belanda dengan menghunus pedang, memburu kami yang sama sekali tidak bersenjata.

Dan hari ini dia tertangkap sedang menggunakan sabu. Aku tak tahu sikap politiknya karena dampak memakai sabu atau habitat politik dia sudah demikian kotor dan meracuninya.

Tetapi toh aku kawannya. Aku cukup sedih dengan berita ini. Semoga kawanku yang satu ini bisa kuat menghadapi episode perjalanan hidupnya kini. Aku berharap dia banyak belajar dari semua ini.

Pada sebuah sore di Ruang Tunggu Rumah Sakit Siloam

*Petrus Hariyanto (Mantan Sekjen PRD)

Sumber : tagar.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here