Diskusi SATUPENA, Slamet Hendro Kusumo: Karya Seni Lebih Cair dan Tidak Menjadi Produk Eksklusif

  • Bagikan

HARIANINDONESIA.ID – Dalam sastra visual, batasan-batasan itu lebih cair, sehingga karya seni tidak menjadi produk eksklusif.

Hal itu diungkapkan Slamet Hendro Kusumo, Ketua Dewan Penasihat Satupena Jawa Timur.

Slamet Hendro Kusumo adalah pembicara dalam diskusi tentang kritik politik melalui pameran lukisan dan karya seni visual yang berlangsung di Jakarta, Kamis 8 Februari 2024.

Diskusi yang menghadirkan Slamet Hendro Kusumo itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA.

Dalam diskusi itu, Slamet menjelaskan latar belakang munculnya “sastra visual” yang dimaksudnya. Sebelumnya, ia mengadakan pameran lukisan tunggal bertema “Owah Gingsir Mendem Politik” pada 2-8 Februari 2024.

Pameran itu berlangsung di Galeri Raos, Jl. Panglima Sudirman, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur.

Menurut Slamet, pameran ini adalah hasil kolaborasi antara pondok seni Batu, kumpulan seniman-seniman, dan organisasi penulis Satupena Jawa Timur.

Di perkumpulan penulis ini, Slamet sebagai penasihat, di samping dia adalah seorang perupa.

Slamet ingin menggabungkan Satupena dan kelompok seni rupa pada event-event ke depan yang lebih baik.

“Intinya, sekarang dalam perkembangan seni rupa sudah ada satu titik, di mana rupa itu tidak hanya rupa dalam konteks an sich, tetapi rupa sudah memasuki ruang-ruang yang bisa disebut sastra visual,” tuturnya.

Menurut Slamet, pada sastra visual inilah batasan-batasan itu lebih cair, lebih terkoneksi, sehingga karya seni tidak menjadi produk-produk yang eksklusif. Tetapi menjadi produk-produk yang lebih general.

Tentang karya yang dipamerkan, Slamet menuturkan, karya itu ia buat sejak 2010 sampai 2024. “Jadi karya ini memang dibuat dengan cara tidak memihak politik praktis. Karya ini lebih diarahkan pada suatu bentuk karya-karya kontemplatif,” ujarnya.

SIMAK JUGA :  Jelang Pemilu 2019, Ditsamapta Polda Banten Asah Kemampuan Pengendalian Massa

“Visual dari karya-karya itu adalah menekankan pada metafora atau simbol-simbol, yang selama ini kita anggap sebagai fenomena yang ada pada masyarakat,” tambahnya.

Ia mengakui, karya ini lebih mengarah ke tidak bersifat verbal. “Sehingga karya-karya ini, bagi mereka yang tidak memiliki kualifikasi yang cukup, memang agak susah diterima masyarakat awam,” tuturnya.

“Namun demikian, saya sebagai orang yang bergerak di bidang seni rupa dan juga menulis, saya merasa bahwa fenomena politik ini menjadi sesuatu yang meresahkan,” tambah Slamet.

“Sehingga nilai-nilai yang dulu agung, tiba-tiba sekarang itu menjadi dipertentangkan, atau menjadi suatu gaya hidup baru, di mana gaya hidup baru ini tidak memberikan respek yang lebih baik. Malah sebaliknya, setiap orang saling curiga dan menuduh,” katanya.  (K) ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *