oleh

Apa Maksudnya Khasiat Vaksin Sinovac 65,3 Persen di Indonesia?

JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi memberikan lampu hijau untuk menggunakan vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi China Sinovac melalui emergency use authorization (EUA).

Dalam konferensi pers virtualnya BPOM menyebut efikasi vaksin Covid-19 Sinovac di RI sebesar 65,3%. Sebenarnya apa arti dari efikasi dan angka 65,3% tersebut?

Efikasi merujuk pada khasiat atau kemanjuran suatu vaksin maupun obat. Menurut Center for Disease Control & Prenvention (CDC) efikasi dinyatakan sebagai proporsi reduksi kemungkinan terjangkitnya infeksi penyakit dikalangan kelompok yang divaksinasi.

Angka efikasi diperoleh dari kondisi yang cenderung terkontrol seperti melalui uji klinis. Secara matematis, efikasi diperoleh dengan membandingkan risiko terjangkitnya penyakit suatu kelompok yang divaksinasi terhadap yang tidak divaksinasi.

Mengacu pada data di atas maka ada 18 dari 152 anak yang divaksinasi terjangkit Varicella di Oregon pada 9 kelas. Artinya tingkat risiko kelompok ini adalah 11,8% (18/152). Kemudian untuk kelompok yang tidak divaksinasi sebesar 42,9% (3/7).

Menggunakan rumus yang sudah tertera di atas maka diperoleh efikasi vaksin Varicella sebesar 72,5% ((42,9-11,8)/42,9). Secara sederhana anak-anak pada kelompok yang divaksinasi berpotensi terjangkit cacar air 72,5% lebih rendah dibandingkan yang tidak.

Apabila menggunakan kasus di Indonesia, artinya orang-orang yang divaksinasi dengan CoronaVac memiliki potensi 65,3% lebih rendah untuk terjangkit Covid-19.

Seberapa tinggi efikasi vaksin Covid-19 yang lain?

Apabila dibandingkan dengan kandidat vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan lain, maka efikasi vaksin Sinovac yang diuji di Tanah Air merupakan yang paling rendah.

Sebagai informasi, hasil uji klinis di Turki dan Brazil dilaporkan memiliki tingkat keampuhan masing-masing 91,25% dan 78%. Namun laporan Reuters yang terbaru menyebutkan bahwa efikasi vaksin Covid-19 buatan Sinovac secara umum lebih rendah dari 60%.

Bahkan jika dibandingkan dengan pengembang lain, efikasi vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang diuji di RI juga lebih rendah. Moderna, Pfizer & BioNTech, Gamaleya Research Institute hingga AstraZeneca masing-masing mengklaim vaksin buatannya memiliki efikasi mencapai 90%, bahkan lebih.

Namun mengingat kondisi perkembangan Covid-19 di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan dan tak ada efek samping serius pada kelompok yang diberi vaksin CoronaVac, maka BPOM memutuskan untuk merestui EUA. Lagipula efikasi yang dilaporkan saat ini sudah berada di atas ambang 50% yang ditetapkan oleh WHO.

Hanya saja ada dua hal yang harus dicermati. Pertama adalah jumlah peserta uji klinis di RI yang lebih rendah yaitu 1.620 orang dibanding Brazil dan Turki yang melibatkan sampai 13 ribu orang.

Kedua adalah terkait dengan uji klinis yang terus berjalan dan angka efikasi di atas masih mengacu pada data interim (awal). Masih akan ada update khasiat vaksin Covid-19 ke depannya. Ke depan, Pemerintah & BPOM perlu mensosialisasikan update informasi hasil uji klinis secara transparan kepada publik.

Apa yang menyebabkan efikasi vaksin Covid-19 Sinovac RI berbeda dengan Brazil & Turki?
Selain permasalahan sampel yang lebih rendah serta masih berlangsungnya uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac fase akhir di dalam negeri yang berpotensi menimbulkan pertanyaan publik, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan khasiat vaksin meski menggunakan produk yang sama.

Hal tersebut disampaikan oleh anggota Tim Komnas Penilai Obat yang berasal dari Universitas Gadjah Mada dr. Jarir At Thabari kepada CNBC Indonesia.

“Pertama, epidemologi dari Covid-19 itu sendiri di Indonesia dan perilaku masyarakatnya terutama dan seberapa besar tadi proses transmisi dari satu orang ke orang lain,” ujarnya dalam keterangan pers yang sama.

“Kemudian juga karakteristik dari subjek atau populasi yang diikutsertakan dalam penelitian ini. Jadi ini pengaruhnya sangat besar,” lanjutnya. Jarir mengungkapkan, uji klinis di Turki diikuti 20% tenaga kesehatan dan 80% merupakan mereka dengan risiko tinggi.

“Sehingga ini bisa dengan angka penularan yang tinggi terutama pada risiko tinggi ini bisa mengakibatkan angka efikasinya menjadi lebih tinggi juga,” katanya.

Sementara di Brasil, menurut Jarir, uji klinis diikuti 100% tenaga kesehatan. Sedangkan di Kota Bandung, populasi umumlah yang mengikuti uji klinis tersebut.

“Nah ini kan artinya ini justru membawa informasi yang cukup baik bagi Indonesia. Populasi umum itu perlindungannya segitu. Kita tidak punya banyak subjek atau mungkin tidak ada yang untuk high risk seperti tenaga kesehatan. Sehingga ini tidak bisa kita lihat,” kata Jarir.

“Tetapi untuk nakes bisa mengambil data misalnya mengaca dari tadi studi yang ada di Brasil dan ada di Turki. Jadi perlindungan untuk populasi umum ini sangat tinggi,” lanjutnya.

Berdasarkan penelusuran CNBC Indonesia yang mengacu pada dokumen Canadian Center for Vaccinology dengan judul Overview of Vaccine Efficacy and Vaccine Effectiveness yang dikutip oleh WHO setidaknya ada 3 faktor utama yang dapat berpengaruh pada efikasi vaksin.

Faktor pertama adalah karakteristik dari inang (host) seperti usia, komorbid, eksposur terhadap patogen sebelumnya hingga waktu vaksinasi.

Faktor kedua terletak pada karakteristik vaksin itu sendiri mulai dari metode (mode of delivery), platform yang digunakan untuk mengembangkan vaksin (live atau inactivated) hingga komposisinya apakah membutuhkan booster seperti adjuvant atau tidak.

Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah vaksin yang dikembangkan harus cocok dengan strain yang sedang merebak. Masalahnya saat ini ditemukan varian baru Covid-19 disebut 70% lebih menular dari varian awal.

Artinya dibutuhkan lebih banyak lagi penelitian dan monitoring untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait pandemi Covid-19 dan vaksin yang saat ini tersedia sehingga bisa digunakan sebagai senjata yang ampuh untuk berperang melawan musuh ultra-mikroskopik bernama virus Corona (SARS-CoV-2).

Berapa Banyak Vaksin yang Dibutuhkan oleh RI & Apakah Pasokan Mencukupi?
Belum lama ini pemerintah mengumumkan telah mengamankan 100 juta dosis vaksin Covid-19 dari dua pengembangnya yaitu AstraZeneca dan Novavax. Pemerintah tengah berupaya untuk mendapatkan 50 juta dosis tambahan dari pengembang lain yakni Pfizer.

Berdasarkan penuturan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (BGS) Indonesia diharapkan bisa memperoleh 400 juta dosis vaksin dari empat pengembang yakni Sinovac, Novavax, AstraZeneca dan Pfizer.

Dengan asumsi setiap satu orang membutuhkan 2 dosis dan 15% adalah dosis yang dialokasikan untuk pemborosan (wastage rate) berdasarkan kalkulasi WHO, maka jumlah vaksin tersebut dapat digunakan untuk mengimunisasi 186 juta masyarakat Indonesia, atau 69% dari total populasi Indonesia.

Untuk mewujudkan imunitas komunal (herd immunity) maka jumlah orang yang harus divaksinasi akan sangat tergantung pada laju reproduksi virus (Rt). Menggunakan Rt sama dengan 4 atau 1 orang bisa menularkan Covid-19 ke orang lain maka 75% populasi Indonesia harus divaksinasi atau setara 201 juta orang.

Indonesia setidaknya membutuhkan 32,15 juta dosis vaksin lagi untuk mencapai target vaksinasi 75%. Pemerintah menargetkan program vaksinasi masal di Tanah Air bisa berjalan dalam kurun waktu 15 bulan.

Siapa Saja yang Akan Menerima Vaksin Covid-19 & Kapan?

Setelah BPOM memberikan lampu hijau untuk penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang ada, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi orang pertama yang disuntik. Rencananya hal ini akan dilakukan pada Rabu (13/1/2021).

Setelah Jokowi, anggota kabinet lain juga dikabarkan bakal mendapatkan vaksinasi di hari yang sama. Kemudian program vaksinasi masal untuk publik di 34 provinsi bakal mulai dilakukan sehari setelahnya.

Menurut Menkes BGS ada tiga kelompok utama yang akan mendapatkan prioritas vaksinasi Covid-19. Mereka adalah para pejabat tinggi, anggota komite asosiasi pekerja medis dan dokter hingga para pemimpin agama.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed