Afghanistan di Bawah Taliban: Yang Lain Menjauh, China Mendekat

  • Bagikan
Rosadi Jamani.

HARIANINDONESIA.ID – Mendengar Taliban, pikiran orang kita tertuju pada terorisme.

Bahkan, Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) pernah dituduh sarang Taliban.

Taliban seperti momok menakutkan. Bom bunuh diri, hukuman cambuk, hukuman gantung, melarang perempuan sekolah, itulah Taliban. Pakai sorban, berjenggot, baju gamis, celana cingkrang, itulah Taliban.

Seperti tidak ada yang positif. Semua yang jelek ada di Taliban. Ada menuduh Taliban itu kelompok sesat dalam Islam.

Siapa sebenarnya Taliban ini?

Taliban adalah Keamiran Islam Afganistan. Sebuah gerakan nasionalis Islam Deobandi pendukung Pashtun yang secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan sejak 1996 sampai 2001.

Ketika berkuasa tahun 2001, sempat dikudeta oleh Amerika Serikat. Tuduhannya, Taliban menyembunyikan teroris Osama bin Laden.

Afganistan dikuasai Amerika dan sekutunya kurang lebih 20 tahun. Ada ribuan orang mati selama pendudukan oleh Amerika Serikat.

Pada 15 Agustus 2021, Taliban mengepung wilayah Kabul dan bernegosiasi dengan Pemerintah Afganistan terkait penyerahan kekuasaan secara damai. Akibat pengepungan tersebut, Presiden Ashraf Ghani dan beberapa diplomat AS segera dievakuasi dan meninggalkan Afganistan.

Semenjak itu, power Amerika Serikat hilang di Afganistan. Sebagai gantinya, Taliban.

Liciknya Amerika, usai kabur malah membekukan aset Afganistan senilai USD17 miliar. Hal ini menyebabkan jutaan warga jatuh dalam kemiskinan ekstrem dan kelaparan.

Karena Amerika tidak ada lagi, sekutunya juga ikut kabur. Tidak ada negara mau membantu Afganistan yang dikuasai Taliban.

Dalam situasi itu, muncul China. Negara tetangga yang selalu baik hati. Di saat negara lain menjauh, China malah mendekat dan menawarkan kerja sama.

Hasilnya, kemajuan demi kemajuan diperlihatkan Afganistan.

Salah satu proyek yang ramai dibicarakan dunia, Afganistan sukses membangun kanal atau sungai buatan membelah gurun.

SIMAK JUGA :  PT Etmieco Sesalkan Kebijakan BRI Cabang Sultenggo

Kanal ini akan menghidupkan dunia pertanian dan perikanan.

Satu lagi proyek cukup mengagetkan dunia, adalah ladang minyak Askari yang dibantu China US12 miliar berhasil menghasilkan 1000 ton minyak dari ladang minyak pertama.

Hanya enam bulan saja China sukses membuat ladang itu menghasilkan minyak. Padahal, sebelumnya saat dikuasai Amerika, minyaknya tidak keluar-keluar.

Banyak lagi ladang minyak yang akan diekplorasi. Masih ada 50 juta barel cadangan minyak yang siap ditambang bersama China.

Dari proyek itu, China membantu pembangunan infrastruktur seperti jalan, rumah sakit, sekolah, dan universitas.

Dengan kerja sama erat ini, China ingin menghidupkan jalur perdagangan kuno yang melewati Afganistan. China ingin jalur perdagangan bisa lancar menuju Asia Tengah, Selatan, dan Eropa.

China secara tulus membantu Afganistan memulihkan ekonominya yang porak-poranda oleh Amerika dan sekutunya. Perlahan tapi pasti, ekonomi Afganistan di bawah kendali Taliban mulai bangkit.

Cerita perang saudara, bom bunuh diri, semakin jarang terdengar di sana. Bila kondisi Afganistan semakin stabil, bukan tidak mungkin negara yang dikuasai Taliban menjadi kekuatan baru di Asia.

Setiap ada perang pasti ada damai. Beruntung bagi Afganistan, baru saja melewati perang panjang dan sekarang mulai damai.

Jangan sampai, negara damai seperti Indonesia berubah menjadi perang. Mari jaga negeri kita tetap damai dan tenteram. (Rosadi Jamani, penulis) ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *