Andri Warman Panen Raya Gabah menggunakan Pupuk Organik

  • Bagikan

AGAM – Bupati Agam, Andri Warman bersama masyarakat, camat dan wali nagari melakukan panen raya di Jorong Luak Tunggang Giriang-giriang, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Jumat.

Panen ini merupakan bagian dari hasi produksi gabah yang penggunaan pupuk dengan bahan dasarnya lebih dominan organik yaitu memanfaatkan limbah hasil panen padi.

“Kita mendukung program masyarakat ini, karena akan membuat panen lebih maksimal. Memang program seperti ini lah kita dambakan di Kabupaten Agam. Program ini cukup bagus,” paparnya

Dikatakan, dengan pupuk kompos yang dirancang dan diolah sendiri, akan menghemat biaya lantaran tidak menggunakan pupuk kimia disamping juga harganya yang makin mahal.

“Program yang dilakukan masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat, limbah padi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan petani,” ucapnya.

Dia mengatakan, waktu kecil dulu, juga bertani sehingga tahu persis bahwa sewaktu dulu itu, tidak memakai pupuk urea, namun hanya memakai pupuk dari abu kandang dicampur kotoran hewan. Dengan pengolahan seperti itu, mampu juga menghasilkan panen maksimal.

“Dengan iritnya biaya produksi, tentunya hasil panen jadi lebih maksimal. Ini nantinya akan meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya petani,” ucapnya.

Ia mengatakan, program dimulai dari Jorong Luak Tunggang Giriang-giriang ini, mudah-mudahan berhasil dan bisa dijadikan ikon atau program percontohan.

Untuk itu, kata dia, daerah-daerah lain yang membutuhkan, perlu dilakukan campur tangan pemerintah daerah, melalui Dinas Pertanian akan dikembangkan.

“Yang pasti, target saya sebagai bupati, bagaimana masyarakat bisa sejahtera, tentu program ini didukung penuh,” ucapnya.

Menurut dia, di Kabupaten Agam rata-rata hasil usaha masyarakat sekitar 95 persen adalah bergerak pada usaha pertanian, maka program dirancang masyarakat sangat bagus.

Koordinator Lapangan Program Beras Agam Tilang Kamang, Endi Bakri menyebutkan, program ini sangat bagus bagi petani.

SIMAK JUGA :  Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi

Cara penggunaan pupuk kompos sederhana, yakni setelah panen padi, batang padi dihancurkan dengan alat panen padi.

Kemudian, kata dia, dicari sudut sawah lalu dikumpulkan batang padi (jerami-red) di sana. Setelah itu ditimpa dengan kotoran hewan apa saja, baru disemprot dengan M4, yang selanjutnya ditutupi plastik.

“Sekitar 15 hari setelah ditutup dan jerami sudah menguning, setengah disiramkan ke areal persawahan. Sebelum disiramkan, pupuk kompos diberi nama Sinka ini, sudah bisa ditabur. Setegah sisa pupuk, bisa dijual sehingga dapat menghasilkan uang,” tukasnya.

Sementara itu, penggagas ide pupuk dasar (Sinka-red), Arisman mengucapkan, sawah merupakan ibarat pabrik. Sebagaimana pabrik ada limbahnya, maka limbah itu dimanfaatkan untuk bahan pertanian.

“Alhamdulillah, dengan memakai pupuk kompos akan mampu menaikkan produksi panen 80 persen. Memang pertama penggunaannya baru bisa menghasilkan 25 – 30 persen. Setelah empat kali penggunaan, bisa produksi paling tidak target 50 persen tercapai,” ungkapnya.

Disampaikan, dengan menggunakan pupuk kompos, bisa mengurangi pemakaian pupuk kimia, bahkan jika sudah dipakai sampai empat kali masa panen penggunaan pupuk kimia bisa menjadi nol persen.

“Untuk tahap pertama penggunaan pupuk kompos, penggunaan pupuk kimia hanya 15 persen saja,” ungkapnya. (Rel)

Donny Magek Piliang

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *