Riau,HarianIndonesia.id — Warga bernama Nurul Oriana meluapkan kesedihannya di media sosial karena mengaku anaknya yang masih duduk di bangku PAUD dikeluarkan oleh pihak sekolah setelah dia mempertanyakan porsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anaknya yang dia anggap tidak sesuai porsi yang seharusnya.
Sebelum anaknya dikeluarkan sepihak, ia sempat curhat di akun media sosial Facebook miliknya Nurul Oriana mempertanyakan harga satu paket MBG anaknya yang ia sebut tidak sampai Rp10 ribu yang diduga tidak sesuai aturan pemerintah.
Nurul menceritakan, adapun isi caption di akun FB miliknya berbunyi sebagai berikut, “Rapelan MBG untuk 1 minggu Isinya seperti yang nampak ini lah pak. Ada susu indomilk coklat, kacang tojin 1 bungkus kemasan es lilin, satu buah jeruk dan satu potong roti,” kata Nurul, Minggu (28/12/2025).
Setelah memposting itu, Nurul mendapat inditimidasi berupa kata kata melalui pesan whattsapp dari pihak sekolah tempat anaknya belajar. Bahkan isi itimidasi juga menyinggung Nurul bisa mendekam di jeruji besi, Kalau ini benar, sungguh naif Prilaku seorang pejabat publik yang mengancam masyarakat.
“Setelah mendapat whattsapp seperti itu saya ketakutan. Karena menurut saya, saya hanya mempertanyakan apakah seperti itu porsi menu MBG yang seharusnya diterima anak saya,” ujar Nurul.
Bahkan kata Nurul, pihak sekolah juga menelpon dirinya. Dalam percakapan di telepon itu, pihak sekolah sempat menyinggung hidup Nurul akan hancur bila terus mempersoalkan menu MBG di sekolah tempat anaknya belajar.
“Pas dia nelpon, dia bilang saya jangan posting-posting tentang MBG. Saya diancam jika postingan dilanjutkan, Jangan sampai hancur kehidupan kau katanya, akibat ulah kebodohan kau sendiri,” ujar Nurul menirukan ancaman dari pihak sekolah.
Selanjutnya, Nurul diminta oleh pihak sekolah untuk tidak mengantarkan anaknya lagi bersekolah di PAUD tersebut.
“Kami sebagai wali murid tidak tahu kalau tanggal merah tidak dapat, yang kami tahu di saat libur paket menu rapelan seminggu. Apa salahnya dikasi tahu dulu. Lagi pula saya tidak manyebutkan merk atau nama pihak manapun. Kenapa pula dia yang kepanasan pada postingan saya,” sambung Nurul.
Menurut publik pemberhentian anak yang diduga dipicu oleh orang tuanya mempertanyakan porsi MBG ini oleh pihak Yayasan Pos PAUD Melati Kecamatan Kampar Ranah Baru, Provinsi Riau, sangat tidak profesional. Tindakan ini dinilai sangat arogan dengan memberhentikan seorang anak didik secara sepihak hanya karena persoalan sepele.
Kejadian tersebut kini viral dan mendapat perhatian masyarakat luas.
Tindakan kepala yayasan yang diduga tidak mencerminkan etika pendidik dan perlindungan hak anak ini menuai kecaman. Banyak pihak menilai, persoalan kritik atau aspirasi orang tua seharusnya disikapi secara bijak, bukan justru berdampak pada nasib dan psikologis anak didik yang sama sekali tidak bersalah.
“Ini dunia pendidikan, bukan ruang intimidasi. Anak tidak boleh dijadikan korban hanya karena orang tuanya bersuara,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Lebih jauh, tindakan pemberhentian tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip perlindungan anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Anak usia PAUD merupakan kelompok rentan yang seharusnya mendapatkan rasa aman, kasih sayang, dan pendidikan tanpa tekanan.
Masyarakat Kampar kini mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar, khususnya Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kampar, serta lembaga pemerhati perlindungan anak untuk segera turun tangan. Mereka meminta agar kasus yang viral di TikTok ini diselesaikan secara terbuka, adil, dan profesional.***
Sumber : Redaksi Buser.com
Editor : Eman Melayu













