Ganjar-Mahfud Anggarkan Dana Abadi bagi Kyai dan Ulama Berusia 60 tahun ke atas

  • Bagikan

WAKIL Ketua TPN Ganjar-Mahfud Komjen pol (Purn) Prof Dr Gatot Eddy Pramono, M.Si dalam kunjungan kerjanya ke Makassar berkesempatan singgah di Kantor TPD Ganjar-Mahfud di Makassar. Gatot memuji karena memiliki area yang bisa menampung semua kegiatan pemenangan Ganjar-Mahfud. (Foto : kredit MC TPNGM)

MAKASSAR, HARIANINDONESIA.ID – Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud MD Waketum TPN Komjen pol (Purn) Prof Dr Gatot Eddy Pramono, M.Si menyatakan pasangan Capres Cawapres Ganjar-Mahfud MD anggarkan dana abadi untuk membantu biaya hidup para Kyai dan Ulama berusia 60 tahun ke atas.

“Ini bentuk komitmen Pemerintahan pak Ganjar dan pak Mahfud MD jika terpilih nanti. Ini juga menggambarkan visi religius dari pemerintahan mereka,” papar Komjen Gatot Eddy saat bertemu dengan tokoh lintas agama di Makassar, Kamis (2/11/2023).

Pertemuan dimaksudkan untuk menyosialisasikan program visi misi Ganjar-Mahfud kepada masyarakat. Komjen Gatot Eddy sendiri mendapat tugas bertemu dengan para tokoh dan kalangan agama di Sulawesi Selatan.

Mantan Wakapolri ini menyebutkan, selain peduli terhadap hari para Kyai dan Ulama, Ganjar-Mahfud juga menjaring talenta santri yang berprestasi, memberikan beasiswa kuliah luar negeri dan magang di perusahaan -perusahaan besar.

“Pak Ganjar dan pak Mahfud juga memberikan tunjangan kepada guru mengaji yang ada di mesjid dan mushala setap bulannya,” lanjut Gatot.

Terakhir, kata Komjen Gatot, pasangan Ganjar-Mahfud juga akan menjalankan amanah di Undang undang tentang pembinaan Pondok Pesantren secara sangat maksimal.

Wakil Ketua TPN Ganjar-Mahfud ini juga menyinggung latarbelakang keluarga istri Ganjar, Siti Atikoh yang berasal dari keluarga Pondok Pesantren juga.

“Begitu juga dengan pak Mahfud sendiri. Beliau kan sangat jelas latarbelakang NUnya. Apalagi sejak muda pernah di HMI juga.

Pertemuan Komjen Gatot dengan tokoh agama di Makasar berlangsung hangat dan bersahabat. Beberapa tokoh itu juga sempat menyampaikan pokok pikiran tentang pembinaan beragama di daerah dan memberikan apresiasi terhadap sosok Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.

Seperti KH. Hamzah Harun, ketua PWNU Sulsel menyebutkan bahwa sebagai organisasi, NU tidak berpolitik praktis. Tetapi secara personal, kami harus terlibat. Kami melihat misalnya, Mbak Yenny Wahid mendukung Ganjar-Mahfud, kami pun tergerak untuk memberi dukungan yang sama.

Menurut dia, Pasangan Ganjar-Mahfud memenuhi unsur yang pas dengan kebutuhan negeri ini, yakni nasionalis-religius.

Pendapat yang lebih sama juga disampaikan Pdt. Adrie Massie, Ketua PGIW Sulselbara. Menurut dia, di lingkungan gereja, kami tidak berpolitik praktis, tetapi kami mendorong umat untuk terlibat aktif dalam politik karena berpolitik berarti mengurus negara dan semua unsurnya.

“Para pendeta terbuka dan mendoakan semua calon. Umat sudah bertanya sebaiknya pilih siapa, saya tentu membebaskan pilihan, tetapi kalau saya, saya pilih Mahfud.” tegasnya bersemangat.

Tetapi Pdt Aries juga mengingatkan bahwa penegakan hukum perlu pula diarahkan untuk perlindungan terhadap toleransi, salah satunya adalah terkait pendirian rumah ibadah. Jangan sampai, mendirikan panti pijat lebih mudah ketimbang mendirikan tempat ibadah

SIMAK JUGA :  KPK Hebat, Novanto Tersangka Lagi

“Pilpres ini bukan ajang pertarungan partai, tetapi sosok pribadi. Kami berharap pemilu berjalan lancar. Saya yakin, kalau Tuhan sudah buka pintu untuk pemimpin, maka tidak akan ada yang bisa menutupnya. Demikian pula sebaliknya. Begitu juga kalau Tuhan sudah buka pintu bagi Ganjar untuk jadi presiden, maka tidak akan ada yang bisa menutup.” pungkasnya.

Sementara Perwakilan Serikat Islam di Makassar menyatakan harus diakui bahwa di sini adalah basis pendukung Anies. Dari 10 orang yang ditanya, 12 pilih Anies. Tapi ini kondisi sebelum penunjukan Mahfud sebagai cawapres.

“Tetapi setelah Mahfud MD ditunjuk menjadi pendamping Ganjar, peta dukungan langsung berubah. Kami memandang Mahfud sebagai sosok ideal dan sangat disukai masyarakat sini. Selain dikenal ahli dan tegas soal hukum, Mahfud adalah sosok yang religius.” ujarnya.

Hartono, Perwakilan unsur Kesenian dan Budaya dalam kesempatan juga menyampaikan dukungan kepada Ganjar karena tahu beliau punya program dukungan yang jelas untuk seni budaya

“Kami akan berupaya maksimal untuk memenangkan Ganjar-Mahfud di sini.” paparnya singkat.

Secara umum para tokoh yang bertemu dengan Komjen Gatot mengakui bahwa satu-satunya sosok yang merepresentasikan Indonesia adalah Ganjar-Mahfud.

Ganjar-Mahfud masuk tipologi nasional-religius. Anies-Muhaimin representasi Islam modern dan tradisional, Prabowo-Gibran representasi nasionalis-milenial.

Tipologi ini sesuai dengan realitas Masyarakat Indonesia memiliki tingkat religiusitas yang tinggi, tetapi kesadaran nasionalisme juga tinggi.

Mahfud juga sangat dominan menarik suara masyarakat di Sulsel, karenanya Mahfud disarankan penting untuk sering datang ke Makassar.

“Prof. Mahfud perlu dihadirkan untuk berbicara tentang upaya memberantas korupsi. Ini sangat menarik dan penting. Prof. Mahfud sangat pas untuk membahas isu ini,” ungkap diskusi pasca pertemuan tadi.

Bergabungnya Prof. Mahfud ke kubu Megawati menambah simpati dari masyarakat karena Megawati dianggap sebagai sosok negarawan yang baik, dan Mahfud adalah harapan untuk penegakan hukum yang adil dan transparan

Kondisi politik nasional, khususnya terkait kegaduhan belakangan ini, tidak lepas dari perhatian masyarakat dan semakin menunjukkan kebutuhan masyarakat saat ini terkait pemimpin yang adil dan berani.

Mahfud adalah kombinasi Hoegeng dan Baharudin Lopa. Tegas dan cerdas!

Terakhir, pertemuan ditutup dengan komentar cerdas dari Akademisi, Prof. Aswar. Sebagai guru besar hukum tata negara, Prof Aswar menyampaikan bahwa pemimpin boleh salah tapi tidak boleh bohong!

Menurut dia, masyarakat di Makassar umumnya hanya punya dua pilihan, yakni Ganjar dan Anies. Tetapi dia menyebutkan bahwa ada persepsi bahwa Ganjar dan Prabowo dianggap sama saja dan diidentikkan sama.

“Poinnya, siapa pun yang menang, pemenang sebenarnya adalah Jokowi, ini yang harus diklarifikasi oleh pihak Ganjar-Mahfud,” katanya.

Dalam pandangan Prof Aswar, ketiga pasangan capres-cawapres memiliki distingsi yang jelas, tidak ada yang “sama saja”. (*)

Awaluddin Awe

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *