Beranda BERITA UTAMA 4,5 Tahun dengan Jokowi Tak Pernah Bicara Proyek Pribadi

4,5 Tahun dengan Jokowi Tak Pernah Bicara Proyek Pribadi

JAKARTA, harianindonesia.id – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, suatu negara akan hancur jika memiliki ciri yang otoriter dan nepotisme. Tetapi, JK bersyukur Indonesia tidak ada kedua ciri tersebut. Sebab, dia menjelaskan, semasa 4 tahun menjabat bersama Presiden Joko Widodo, segala sesuatu dirapatkan terlebih dahulu.

“Seperti dikutip dari merdekaCom, Jusuf Kalla mengatakan di hadapan para peserta forum silaturahim gawagis nusantara di Surabaya, Jawa timur, Sabtu (23/2). Jadi Insyaallah, negeri ini akan aman apabila ini pemerintahan berlanjut tanpa dengan tadi ciri-ciri. Apabila ada ciri-ciri yang ingin nepotisme dan dengan otoriter itu awal kebangkrutan suatu negara.

Dia menceritakan selama bersama Jokowi tidak pernah berbicara pribadi terkait proyek. Artinya, kata JK, pemerintahannya dilakukan secara demokratis. Tidak ada kepentingan satu sama lain.

“Kita tahu semua, anaknya tidak ada yang bekerja untuk katakanlah proyek-proyek pemerintah. Yang satu bicara tentang berdagang pisang, yang satu berusaha di bidang martabak. Berbeda dengan zaman dahulu, punya proyek ini, punya proyek itu. Beliau tidak,” kata Jusuf Kalla.

Dia pun bersyukur Indonesia tidak seperti Venezuela yang otoriter, korupsi dan nepotisme. Sebab apapun itu, kata JK, selalu diputuskan bersama-sama.

“Kita Alhamdullilah, kita tidak selalu bicara otoriter karena segala selalu harus dirapatkan terlebih dahulu,” ucapnya.

Dia menjelaskan Venezuela dulu sangat kaya tetapi memiliki pemerintahan yang otoriter dan nepotisme membuat inflasi 1,5 juta pertahun. Ingin membeli roti pun, kata JK, dibutuhkan uang satu karung.

“Seperti itu, kita maksimal di waktu krisis 70 persen. Ini satu juta persen. Inilah yang menggambarkan bahwa Insyaallah kita akan mengalami situasi yang lebih baik. Apabila kita konsekuen untuk memilih pemimpin yang tidak otoriter dan tidak nepotisme,” ucapnya.

Hal itu, kata JK, yang menjadi pegangan Indonesia. Dan tidak akan terulang seperti zaman presiden ke-2 RI Soeharto.

“Itu yang menjadi pegangan kita semua, sebagai contoh dari pada bagaimana Pak Harto jatuh. Akibat hal-hal tersebut,” ungkap JK. (Muhammad Rezki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here