Jalan Nasional Lembah Anai Selesai 50 Persen, Tetap Bisa Dilalui Saat Lebaran 2026

Foto situasi terakhir pengerjaan ruas jalan nasional Lembah Anai yang Terdampak bencana banjir bandang November lalu. Saat ini progress Lembah Anai sudah 50 persen dan tetap bisa dilalui selama Lebaran 2026. (Foto : Humas HKi Padang)

TANAH DATAR (HARIANINDONESIA.ID) – Pengerjaan ruas jalan nasional Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang terdampak bencana banjir bandang November lalu, kini terus digesa oleh kontraktor PT Hutama Karya Infrastruktur (HKi).

Saat berkunjung ke lokasi pengerjaan, Senin, terlihat aktifitas yang sangat tinggi dalam penanganan lokasi bencana banjir bandang di ruas jalan nasional Lembah Anai.

Setidaknya 100 personil dan 60 peralatan dikerahkan oleh anak perusahaan Hutama Karya untuk menggenjot penyelesaian ruas jalan nasional yang menghubungkan kota Padang dan Padang Pariaman dengan wilayah Padang Panjang, Tanah Datar, Agam dan Bukittinggi.

“Target kami akhir Juli 2026 pengerjaan sudah rampung secara keseluruhan dan jalur bisa dibuka kembali untuk umum,” jelas Project Manager PT HKi untuk penanganan jalan nasional Lembah Anai kepada wartawan, Senin (9/3/2026).

Saat ini, jalur Lembah Anai meski dalam pengerjaan tetapi dapat dilalui pada waktu tertentu yakni pada pagi, siang dan sore setiap hari.

Sampai saat ini, kata Fathoni pengerjaan ruas jalan Lembah Anai sudah selesai 50 persen.

Jenis pengerjaan penanganan kawasan Lembah Anai adalah dominan pemakaian beton ready mix, dalam hal ini PT HKi mendapat support dari perusahaan lokal PT Statika milik pengusaha Suhinto. Sedangkan support besi beton berasal dari PT Bhirawa Steel, Surabaya.

Sementara supplai BBM untuk alat berat proyek Anai dan Sitinjau Lauik dipasok oleh tiga suplayer yakni PT. TBM, PT. KIM, PT. GARDA. Ketiganya adalah rekanan resmi Patra Niaga dan menggunakan BBM non subsidi.

Menurut Fathoni, pengerjaan penanganan ruas jalan nasional Lembah Anai dirancang dengan desain yang sudah memperhitungkan kriteria bencana yang akan terjadi ke depannya.

Pasca bencana banjir bandang di kawasan Lembah Anai, kondisi kehidupan ekonomi masyarakat arah Padang Pariaman sangat sepi. Sejumlah kios di sepanjang jalan Padang Pariaman yang semula ramai dengan usaha kulineri, kini terlihat seperti kota mati.
 
HKI Komit Percepat Akses Permanen di Lembah Anai

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan HKI Philadelphia H.H.P menegaskan bahwa PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) terus berupaya mempercepat penanganan pada ruas Jalan Padang–Bukittinggi via Lembah Anai yang terdampak banjir dan longsor pada 28 Nolember lalu.

Dari total sekitar 5,8 km area terdampak di 15 titik, penanganan prioritas tahap ini dilakukan pada segmen kritis dengan panjang efektif sekitar 800 meter.

Saat ini, sedang dilakukan penanganan permanen menggunakan metode borepile dengan sistem  soldier pile  di KM 63+500 dan KM 65+200, yang rencananya akan dilanjutkan di KM 62+700 dan lokasi-lokasi lainnya.
 
Metode borepile dengan sistem soldier pile merupakan teknik pengeboran pondasi dalam yang menggabungkan tiang borepile (lubang bor beton bertulang) dengan soldier piles untuk menahan tanah secara sementara selama penggalian.

Soldier piles biasanya berupa tiang H-beam baja yang dipasang vertikal ke dalam tanah, kemudian dihubungkan dengan planking kayu atau beton panel horizontal untuk mencegah longsor pada dinding galian.

SIMAK JUGA :  Pelindo Dumai Diduga Langgar Standar Lingkungan, Aktifitas Bongkar Muat Ampas CPO Picu Kenaikan ISPA

Pendekatan ini umum digunakan pada proyek konstruksi di lahan sempit atau tanah lunak, seperti di Jakarta dengan kondisi tanah lempung.

Pelaksanaan pada tahap awalnya melibatkan pemasangan soldier piles menggunakan alat bor atau driven pile, diikuti instalasi planking antar soldier pile untuk bentuk tembok penahan tanah.

Lubang borepile kemudian dibor di antara soldier piles dengan metode basah atau kering, dimasukkan tulangan baja, dan dicor beton bergradasi tinggi hingga kedalaman 15-50 meter tergantung kondisi tanah.

Sistem ini meminimalkan getaran dan cocok untuk area urban padat.

Sekretaris Perusahaan HKI Philadelphia H.H.P menjelaskan bahwa struktur borepile dengan sistem soldier pile ini dipilih karena mampu memberikan stabilitas struktural jangka panjang, aman pada kondisi tanah berbatu, dan tidak mengganggu stabilitas lingkungan sekitar karena minim getaran.

Harapannya, penanganan permanen di Jalur Lembah Anai tetap dapat dilakukan sembari tetap mengupayakan agar akses tetap dapat dilalui warga.
 
“Saat ini kami sudah mulai melaksanakan pekerjaan penanganan permanen, yang ditargetkan selesai pada di akhir Juli 2026. Adapun pekerjaan yang telah dilakukan pasca bencana hingga hari ini yakni perbaikan oprit, normalisasi aliran sungai, dan perbaikan struktur jalan,” kata Philadelphia dalam penjelasan tertulisnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
 
Untuk percepatan pekerjaan di lapangan, jelasnya, HKI menambah jumlah alat borepile menjadi 8 unit dari rencana awal 5 unit. Hingga Selasa (30/12), sebanyak 3 alat borepile telah beroperasi, dan unit lainnya akan terus didatangkan secara bertahap selama masa pekerjaan.
 
Pada area sekitar Jembatan Margayasa, selain perapihan dan pembersihan material, HKI juga melakukan perkuatan struktural berupa perbaikan oprit pada sisi abutment Jembatan Margayasa.

Tahapan yang tengah dikerjakan yakni pembentukan matras menggunakan jumbo bag dan timbunan sirtu untuk kemudian dilakukan penanganan permanen dengan menggunakan soldier pile. Tujuannya untuk memperkuat badan jalan dari gerusan sungai dan menjaga stabilitas jalan.
 
Selama pekerjaan berlangsung, HKI senantiasa berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pengaturan lalu lintas di lokasi, termasuk pemasangan rambu peringatan, pengaturan buka-tutup jalur pada jam tertentu, serta penempatan petugas untuk memastikan kendaraan dapat melintas dengan aman. Pengguna jalan diminta mengurangi kecepatan dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
 
Sejumlah warga yang melewati jalur akses Jalan Padang-Bukittingi via Lembah Anai menyampaikan apresiasi atas langkah penanganan yang dilakukan oleh HKI sehingga akses Lembah Anai bisa tersambung kembali.

Apresiasi ini disampaikan mengingat bahwa Jalur Lembah Anai merupakan akses nasional vital yang diandalkan masyarakat Sumatra Barat untuk bepergian dari Padang menuju Bukittinggi atau sebaliknya.
 
⁠HKI menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah daerah dan instansi terkait, serta kerja sama masyarakat selama proses penanganan. Kolaborasi ini menjadi bagian penting untuk mempercepat pemulihan akses dan menjaga keselamatan pengguna jalan.
 
“Kami memohon doa kepada masyarakat agar pekerjaan di Lembah Anai diberikan kelancaran, sehingga kami bisa segera mengembalikan mobilitas masyarakat Sumatra Barat seperti semula,” tutup Philadelphia. (*)

Awaluddin Awe