TRISAKTI dan MILINEALIST

  • Bagikan

Oleh : Bgd Raymon Piliang

Jika kita ingin memperbaiki mental, karakter, dan jati diri bangsa secara menyeluruh bisa dilakukan melalui pelaksanaan kembali ajaran Trisakti Bung Karno.

Trisakti Bung Karno mengandung tiga kalimat kunci utama, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara kebudayaan.

Trisakti sangat erat kaitannya dengan nation and character building yang diperlukan untuk membentuk dan menghasilkan manusia-manusia muda Indonesia yang Pancasilais.
 
Dikatakan, berdaulat secara politik menunjukkan adanya kemauan dan determinasi bangsa untuk menegaskan dirinya sebagai bangsa yang bebas dan mandiri.

Berdikari secara ekonomi berarti adanya demokrasi ekonomi yang dijalankan, yakni negara mampu mendistribusikan modal ekonomi secara seimbang dan menyeluruh kepada seluruh lapisan masyarakat.

Sedangkan berkepribadian secara budaya berarti membentuk manusia-manusia Indonesia yang memiliki jiwa gotong-royong dan toleransi yang dijiwai oleh nilai Pancasila.
 
Tantangannya hari ini dan dimasa akan datang adalah dengan bertambah kuatnya dan berkuasanya neokomprador, neoinlander, neokoruptif, maupun neokolaborator.

Selain itu juga muncul mafia-mafia yang berasal dari luar dan mengawasi pergerakan Indonesia serta menguatnya infiltrasi global yang menjadi ancaman bagi Indonesia.
 
Sebagai bangsa besar, kita harus bisa menyatukan diri dan menyatukan bangsa. Negara perlu sistem yang lugas dan tegas dalam menangani permasalahan.

Trisakti adalah salah satu solusi dari bagaimana cara menunjukkan eksistensi dan identitas masyarakat Indonesia, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Kesimpulannya adalah Trisakti Bung Karno perlu dijabarkan dan dilaksanakan kembali di masa kini.

Dalam konteks kekinian yaitu konteks milenial, dimana tongkat estafet kepemimpinan dimasa yang akan datang akan dipegang oleh para millenialist ini,  maka adalah suatu keniscayaan ajaran Trisakti Bung Karno harus dilaksanakan kembali.

Ketika kita mendengar istilah generasi milenial maka yang muncul di benak sebagian besar orang adalah anak-anak muda yang terlihat sibuk dengan ponsel atau gadget-gadget mereka. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. 
 
Ciri-ciri generasi millennial atau generasi Y ini dapat kita lihat dari beberapa hal berikut, bahwa generasi Milenial tidak bisa lepas dari teknologi dan sangat adiktif dengan gadget, mereka dikenal juga sebagai generasi tech-savvy.  Karena hampir 85% waktu mereka habiskan untuk menggunakan ponsel atau gadget-gadget lainnya.  
 
Mereka suka membaca buku, rata millennials minimal membaca 4 – 5 buku setiap tahun nya jauh lebih banyak dari rata-rata yg dibaca oleh generasi-generasi sebelumnya, dan fakta lainya generasi milenial juga lebih sering mengunjungi perpustakaan umum daripada generasi sebelumnya.

Dan ada satu fakta menarik yang masih berkaitan dengan poin ini yaitu, meskipun generasi milenial sangat dekat dengan teknologi, namun mereka jauh lebih suka membaca buku cetak daripada membaca lewat ebook.
 
Milenial lebih banyak tetap tinggal dirumah bersama orang tua mereka, mungkin banyak orang berpikir bahwa generasi milenial adalah orang-orang yang sangat ambisius dalam kehidupan mereka, sehingga milenial akan memilih untuk tinggal berpisah dengan orang tua mereka.

Namun, ternyata tingginya biaya rumah atau tempat tinggal membuat milenial lebih memilih untuk tinggal bersama orang tuanya terlebih dahulu, sampai akhirnya nanti mereka memiliki tabungan yang cukup untuk membeli tempat tinggal pribadi.
 
Pengembangan diri atau self-improvement adalah salah satu hal yang sangat menarik perhatian gen Y atau generasi milenial ini. Sekitar 94% generasi milenial memiliki resolusi tahun baru untuk melaksanakan pengembangan diri agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Ternyata hal ini bukan sekedar resolusi semata karena kenyataannya, 76% generasi milenial mengatakan bahwa mereka telah berhasil mewujudkan resolusi tahun baru, terutama yang berkaitan dengan pengembangan diri. 
 
Mungkin ini fakta menarik yang jarang kita ketahui. Ternyata, generasi milenial bukan hanya tech-savvy loh, namun sekitar 40% generasi milenial juga memiliki tingkat pendidikan atau gelar sarjana yang lebih tinggi dibandingkan 30% Gen X di seusia mereka kala itu. 
 
Ini bukan sekedar asumsi, namun ini adalah fakta. Bahkan, penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 telah menunjukkan bahwa generasi milenial adalah orang-orang yang egois dan mereka menjadikan diri sendiri sebagai perhatian utama. Tak jarang mereka disebut sebagai generasi yang narsis. 
 
Sebuah penelitian berskala besar yang melibatkan lebih dari 20.000 responden milenial dari 181 negara menunjukkan bahwa generasi milenial sangat memberikan keprihatinannya terhadap lingkungan sekitar. Misalnya, perubahan iklim, efek global warming, dan lain sebagainya.

SIMAK JUGA :  Siyono Turunkan Atribut Dirinya, Tunggu Aturan Tentang Pilkada

Jangan heran kalau kita melihat banyak anak milenial yang berkoar-koar untuk mengurangi penggunaan plastik, sedotan dan sebagainya, mereka terlihat sangat antusias dengan kampanye go green.
 
Bukan hanya peduli terhadap lingkungan, namun ternyata generasi milenial juga sangat suka beramal. Menurut sebuah survei yang dilakukan baru-baru ini, 84% dari generasi milenial selalu memberikan sumbangan amal tahunan.

Bahkan, 70% generasi milenial rela menyumbangkan waktu dan bakat mereka untuk tujuan-tujuan sosial yang mereka anggap sangat berharga. Misalnya, mengajarkan anak-anak kurang mampu untuk bisa membaca, menulis dan menghitung. Tentunya, sikap generasi milenial ini sangat diapresiasi oleh para generasi sebelumnya. 
 
Pada tahun 2017 saja sudah tercatat ada 56 juta generasi milenial yang sudah bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Sedangkan, hanya 53 juta Gen X dan 41 juta Baby Boomers yang ada di dunia profesionalisme atau dunia kerja. Intinya, generasi milenial sudah mulai mendominasi dunia kerja di negara manapun.
 
Terlepas dari beberapa fakta positif dan negatif tentang generasi milenial diatas , kita juga perlu mengetahui tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi para generasi milenial.

Hampir 70% para pemimpin dan pengusaha di dunia percaya bahwa fakta-fakta negatif yang dimiliki para gen Y disebabkan karena ambisi mereka yang terlalu tinggi. Dari ambisi yang tinggi inilah muncul konflik-konflik antara generasi milenial dengan para generasi sebelumnya. 

Menurut laporan Robert Walters, 73% karyawan milenial telah meninggalkan pekerjaan karena budaya organisasi atau perusahaan yang buruk. Ini menjadi salah satu tantangan bagi generasi milenial untuk tetap bertahan dan berusaha mengubah budaya perusahaan yang buruk, atau mencari perusahaan lain yang budayanya sesuai dengan harapan mereka. 
 
Dikarenakan hubungan milenial dengan teknologi sangat erat, hal ini membuat mereka mudah kesal dengan generasi-generasi lain yang tidak mahir dalam teknologi. Data menunjukkan bahwa 34% pekerja yang lebih tua tidak memahami teknologi sebaik generasi milenial dan hal ini membuat gen Y menjadi semakin frustasi.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para milenial. Apakah mereka akan bersabar dan rela menghabiskan sebagian waktu untuk mengajarkan teknologi pada generasi yang lebih tua atau malah sebaliknya.
 
Dari fakta-fakta diatas dapat kita simpulkan bahwa disatu sisi generasi milenial belumlah sepenuh nya bisa berdikari dan berdaulat atas diri mereka sendiri, namun disisi lain mereka sangat anti dengan budaya-budaya organisasi atau birokrasi yang buruk. 
 
Hal diatas merupakan tantangan bagi pemimpin Indonesia yang ada hari ini maupun yang akan datang, untuk dapat berperan aktif dalam membangun karakter diri generasi milenial sebagai pewaris Indonesia dimasa mendatang agar dapat menjadi pribadi yang berdaulat atas diri sendiri yang mampu memutuskan dengan baik apa yang harus dilakukannya tanpa tekanan dari pihak manapun.

Pemimpin hari ini bertanggung jawab penuh untuk menghadirkan pemimpin-pemimpin masa datang yang dapat dilahirkan dari latihan-latihan kepemimpinan yang terukur, teratur, terstruktur dan masif, mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi baik didesa maupun dikota.
 
Generasi milenial harus selalu diarahkan untuk mampu berdikari secara ekonomi dengan memanfaatkan keahlian dan teknologi yang mereka miliki saat ini, adalah suatu keniscayaan jika mereka dapat membuka lapangan kerja buat mereka sendiri dan bahkan orang lain dengan memanfaatkan teknologi yang sudah menjadi keseharian bagi mereka.

Di era digital ini lebih dari 80% komoditi telah diperjual belikan melalui media online yang salah satu nya melalui marketplace, berikan lah anak-anak muda ini pelatihan tentang bisnis digital dalam 1 tahun kedepan bisa dipastikan akan bermunculan startup-startup baru yang dimiliki oleh anak-anak muda dari generasi milenial ini.

Perkenalkan  juga kepada mereka bahwa bangsa ini mempunyai kepribadian yang agung yang berlandaskan kepada kebudayaan luhur para nenek moyang kita, jangan biarkan mereka hanya tahu tentang k-pop, yang nyata-nyata merupakan kebudayaan asing***
 
 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *