OPINI  

Ramadhan dan Rindu Yang Salah Alamat

Oleh, Alvino Susendra
Tokoh muda Payakumbuh

-Harianindonesia.id-
Setiap tahun kita berkata dengan penuh harap “Ya Allah, kami rindu Ramadhan.” Beriringan dengan itu do’a turut diunggah, sosial media dipenuhi dengan seruan taqwa, ampunan dan maaf.

Namun benarkah kita merindukan Ramadhan? Atau jangan-jangan rindu kita salah alamat?

Ketika kerinduan diunggah, yang kita siapkan pertama kali justru daftar menu berbuka,yang kita cek lebih dulu juga jadwal diskon dan promo.

Ramadhan hadir seperti tamu agung. Lembut, penuh berkah, membawa kesempatan untuk memperbaiki diri. Lalu apa yang kita lakukan? Kita merayakannya, tetapi belum tentu menghayati.

Puasa sejatinya adalah pendidikan. Ia melatih sabar, menahan lapar, menahan amarah, juga menahan keinginan yang berlebihan. Anehnya, ketika Ramadhan tiba, pasar justru paling ramai. Dari yang biasanya cukup satu lauk, mendadak tiga, yang biasanya sederhana, berubah seperti jamuan besar. Sore menjelang magrib, jalanan bertambah macet oleh pemburu takjil. Seakan-akan berbuka adalah perlombaan. Siapa paling banyak, dia paling bahagia.

Padahal puasa sejatinya mengajarkan cukup, tetapi yang terjadi justru malah memperbanyak. Puasa juga mengajarkan pengendalian, yang terjadi malah konsumsi meningkat. Yang berpuasa perut, tetapi untuk urusan selera tetap merdeka. Lucu? Sedikit. Menyentil? Harusnya.

Malam pertama tarawih, masjid penuh, saf rapat, parkiran sesak, anak-anak riang, semangat membuncah. Minggu pertama, masih terasa gegap gempita. Minggu kedua, mulai ada celah di saf. Minggu ketiga, wajah-wajahnya mulai bisa dihitung. Minggu terakhir, yang tersisa tinggal jamaah setia. Padahal justru di sepuluh malam terakhir ada keutamaan luar biasa. Ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun perhatian kita mulai bergeser. Masjid makin sepi. Pusat perbelanjaan makin penuh. Ramadhan masih berjalan, tetapi fokus kita sudah menuju lebaran.

SIMAK JUGA :  JOKOWI dan OLIGARKI

Menjelang akhir Ramadhan, pembicaraan berubah. Baju baru sudah dapat?
Kue sudah pesan?
Mudik lewat mana?
THR sudah cair?

Tidak salah bergembira. Lebaran memang hari kemenangan. Namun pertanyaannya, “Apakah kita ingin menang… atau hanya ingin tampil menang?

Baju boleh baru. Sepatu boleh mengilap. Rumah boleh dihias. Tapi bagaimana dengan hati? Kalau amarah masih mudah meledak, kalau lisan masih mudah menyakiti, kalau iri dan sombong masih betah tinggal, lalu apa yang sebenarnya berubah? Jangan-jangan yang baru hanya isi lemari kita. Sementara jiwa masih edisi lama.

Ramadhan tidak datang untuk membuat kita lebih sibuk. Ia datang untuk membuat kita lebih sadar. Bukan sekadar menahan lapar sampai magrib, tetapi menahan ego sepanjang hari. Bukan sekadar memperbanyak hidangan, tetapi memperbanyak kesabaran. Bukan sekadar memenuhi masjid di awal, tetapi setia hingga akhir. Jika Ramadhan hanya kita rayakan dengan suasana, tanpa kita hayati maknanya, maka mungkin benar, rindu kita selama ini salah alamat. Kita merindukan gemerlapnya, bukan kedalaman maknanya. Kita merindukan euforianya, bukan pendidikannya.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan cara merayakan, tetapi cara memaknai. Ketika lapar datang, biarlah ia mengingatkan kita pada yang kekurangan. Ketika haus terasa, biarlah ia melembutkan hati. Ketika malam sunyi, biarlah ia menjadi waktu kembali.

Semoga Ramadhan kali ini bukan sekadar ramai di awal, lalu sunyi di akhir. Semoga yang penuh bukan hanya pasar dan lemari, tetapi juga masjid dan hati. Dan ketika Idul Fitri tiba,
yang benar-benar baru bukan hanya pakaian kita, tetapi diri kita. Agar Ramadhan tidak hanya dirayakan,
tetapi benar-benar dihayati.

Agar rindu kita…
tidak lagi salah alamat. (*)