Beranda OPINI Memaknai New Normal dengan Life Style Islami

Memaknai New Normal dengan Life Style Islami

Oleh : Wardas Tanjung

Pertengahan bulan ini (15/05) presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan resmi di Istana Merdeka Jakarta, bahwa untuk mengatasi risiko wabah covid-19, kita harus menyesuaikan hidup dengan situasi yang berubah.

“Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini, itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai New Normal atau tatanan kehidupan baru,” kata Jokowi.

Menindaklanjuti pernyataannya itu, presiden kemudian mengunjungi Summarecon Mall Bekasi, dalam rangka pembukaan mall dengan protokol standar covid-19, Selasa (26/05).

Kontan, kegiatan presiden ke mall Summarecon tersebut mendapat kritikan pedas dari mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo dan politikus Gerindra, Fadli Zon.

Menurut Roy Suryo, pembukaan pusat perbelanjaan bukanlah sesuatu yang urguent. Kalau mau New Normal, justru tempat ibadah lah yang semestinya didahulukan untuk dibuka. “Beribadah di tempat ibadah juga bisa menerapkan protokol covid-19,” katanya.

Sementara Fadli Zon terkesan geram sekali dengan kunjungan Jokowi ke Summarecon itu, sehingga ia menjuluki Jokowi sebagai Duta Mall Indonesia.

Apa itu New Normal?

Menurut Psikolog Yuli Budirahayu, New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan menerapkan protokol kesehatan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.

“Ya melakukan perilaku hidup berbeda dari biasanya, seperti bekerja tetapi dari rumah (work from home), saat keluar rumah menggunakan masker, selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan lain sebagainya,” kata Yuli.

Yuli berpendapat, sebelum diberlakukan, masyarakat perlu diberikan psikoedukasi atau pemahaman mengenai pengertian New Normal tersebut. Tujuannya agar
masyarakat bisa menerima dan menjalani aktivitas seperti biasa dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Jadi masyarakat tidak mudah panik dan stress karena harus melakukan aktivitas seperti biasa (normal) meski dengan menggunakan tatanan atau aturan yang baru,” jelasnya.

Pemulihan Ekonomi

Jika dicermati agenda agenda pokok New Normal seperti tertuang dalam 5 fase itu, intinya adalah pemulihan ekonomi. Proses itu berlangsung lebih kurang 2 bulan, mulai tanggal 1 Juni yad. Dengan demikian kehidupan normal diperkiraan akan bermula pada akhir Juli atau awal Agustus 2020.

Pada fase 1 sampai fase 3 konsentrasinya adalah pada pembukaan pusat pusat pergerakan ekonomi, seperti mall, usaha industri dan jasa, toko dan pasar, kegiatan kebudayaan, pendidikan dan olah raga out door.

Sedangkan kegiatan ibadah keagamaan baru akan diperbolehkan pada fase 4 yang dimulai tanggal 6 Juli, bersamaan dengan pembukaan secara bertahap restoran, kafe, bar, tempat game, penerbangan dan plesiran ke luar kota.

Gerakan Kembali ke Masjid

Memperhatikan fase pelaksanaan New Normal ini, terlihat dengan jelas bahwa pembukaan tempat tempat ibadah umat tidak termasuk dalam prioritas utama. Justru yang sangat prioritas adalah pembukaan mall dan pusat pusat perbelanjaan serta tempat tempat hiburan, meski harus mematuhi protokol kesehatan.

Planning ini jelas berseberangan sekali dengan kerinduan umat untuk kembali beribadah di masjid. Peniadaan shalat Jumat dan shalat wajib lima waktu secara berjamaah di masjid, wirid pengajian, majlis ta’lim (termasuk shalat tarawih dan taushiyyah selama Ramadhan) sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Bisa dibayangkan bagaimana rindu umat Islam untuk mendapatkan pahala berlipat seperti yang dijanjikan Allah dan Muhammad Rasulullah SAW. Umat ingin cepat kembali ke masjid, tapi aturan masih menundanya lebih sebulan lagi.

BACA JUGA :  Membangun Konektivitas “Sumpah Palapa” dengan Tol Langit

Oleh sebab itu, patut sekali dari sekarang umat melakukan gerakan kembali ke masjid, menyiapkan kegiatan kegiatan pendahuluan agar tiba masanya nanti kita tidak memulai lagi, tapi melanjutkan program yang sudah kita mulai saat ini.

Life Style Islamic

New Normal hendaknya dipahami oleh umat Islam tidak hanya sekedar menyesuaikan diri dengan tatanan kehidupan baru dalam suasana pandemi covid-19, lebih dari itu bagaimana memaknainya dengan corak hidup Islami.

Jika covid-19 mengajarkan kita hidup bersih dengan selalu cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak, sesungguhnya norma itu telah digariskan oleh Islam. Bahkan melalui wudhu’ bukan hanya tangan yang harus dicuci tapi juga tangan sampai dua mata siku, muka, rongga mulut, rongga hidung, telinga dan kedua kaki sampai dua mata kaki. Lima kali dalam sehari secara terus menerus kita melakukan itu, bersih macam apalagi yang dikeragui dari tubuh umat Islam.

Memakai masker sebagai upaya untuk mencegah droplet virus menyembur dari hidung dan mulut orang orang yang bersin atau batuk, Islam justru telah mengajarkan tentang etika bersin dan batuk itu dengan menutup mulut. Demikian juga soal jaga jarak atau physical distancing untuk mencegah penularan covid-19 melalui kontak pisik, bukankah Islam telah mengajarkan kepada kita agar memberi maaf lebih utama dari meminta maaf. Meminta dan memberi maaf tidak selamanya harus memalui jabat tangan, karena bisa jadi jabat tangan hanya sebatas simbol bahkan juga kepura puraan. Justru intinya ada pada hati yang bersih, hati yang tenang, yang memberi keselamatan dan ketenangan kepada orang lain (qalbum salim).

Qalbum salim itu akan menjadi titik awal bagi terciptanya kehangatan hidup bermasyarakat. Kejujuran dan menjauhi kebohongan adalah implikasi dari qalbun salim. Ucapan ucapan yang penuh hikmah dan menggerakkan orang lain untuk selalu amar ma’ruf nahi mungkar adalah wujud dari qalbun salim. Empati, solidaritas dan saling menolong adalah juga efek dari qalbun salim.

Jadi banyak hal dalam kehidupan sehari hari kita yang perlu diwarnai dengan qalbun salim itu meski kita berada di New Normal Era. New Normal tidak boleh diartikan secara sempit sebatas menyesuaikan dengan tatanan kehidupan yang baru semata, tetapi kita juga harus meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

New Normal bagi umat Islam bukan berarti larut dalam perubahan, tapi ikut mewarnai perubahan itu ke arah yang lebih Islami. Artinya, melalui momen New Normal pasca pandemi covid-19 ini umat Islam ke depan harus lebih kuat dan lebih konsisten dalam menjaga, memelihara dan menegakkan nilai nilai kejuangan Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here