Tuntut Air, Petani Siguntur Demo ke Kantor Bupati Dharmasraya

  • Bagikan

Dharmasraya, harianindonesia.id – Ratusan masyarakat petani dari Jorong Siguntur satu dan Jorong Siguntur dua, Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya Sumbar yang selama 13 tahun menuntut air untuk areal pertanian melakukan demo. Dimana, ratusan masyarakat menduduki halaman kantor bupati setempat, meminta agar pemerintah daerah memenuhi tuntutan warga sejak 2013 lalu yang hanya janji-janji manis saat berorasi dihalaman kantor Bupati, Selasa 11/12.

Dalam orasinya masa mendesak agar pemerintah daerah dapat mendengar jeritan hati petani yang selama ini dibuat sabar.” Ndak talok dek kami basaba lai pak, mati ndak makan anak bini kami beko lai,” kata salah salah seorang peserta demo, Sutan Dalmas 40 tahun,

Ia menyebutkan, bahwa ada ratusan hektar sawah di dua jorong yang ada di Nagari Siguntur sejak 13 tahun tak bisa digarap akibat air saluran irigasi yang tidak lancar ke areal pertanian. Dimana, lanjutnya, semua itu diakibatkan oleh beberapa oknum masyarakat di Nagari Sungai Dareh yang membangun warung diatas tanggul, diduga selalu menutup dan mengecilkan pintu air.

Hal senada juga disampaikan oleh peserta aksi. Dimana, dirinya menyebutkan bahwa akibat tidak bisanya masyarakat menggarap sawah, petani mengalami kerugian hingga puluhan juta dalam setiap tahunya.

“Kalau air lancar, dalam satu tahun itu kami bisa panen tiga kali. Dengan rata-rata hasil panen satu hektar itu mencapai lebih kurang 1 ton,” ungkap Ahmad Sapiri 55 Tahun.

Dirinya menyebutkan, pihaknya mengancam akan menggelar aksi lebih besar lagi jika tuntutanya tak dipenuhi.” Alah 13 tahun kami basaba pak,” katanya, dengan mata berkaca-kaca.

Ia mengatakan, semua ini adalah puncak dari kesabaran masyarakat yang terus dan terus menunggu janji-janji. Sementara, ulasnya, harga kebutuhan hidup semakin tinggi ditambah lagi biaya pendidikan anak.

SIMAK JUGA :  Aksi Pencongkelan ATM BRI Berhasil Digagalkan Polres Serang

“Kami masyatakat hanya bertani, lewat hasil panen padi itu kami bisa menyekolahkan anak, apalagi masyafakat juga tidak ada usaha lain,” tegasnya.

Dia mengemukakan, kalau masyarakat di dua jorong tersebut ingin mengolah sawah, meski harus menunggu warga petani sawah di Nagari Sungai Dareh dulu bertani, baru petani dijorong siguntur bisa turun kesawah.

Kini pihaknya bersama dengan warga lainya hanya bisa kesawah satu kali dalam satu tahun. Itu pun, dengan kondisi air yang seadanya dan kerap mengalami kekeringan, terkadang masyarakat harus ribut dulu dengan petani yang ada di sungai dareh untuk mendapatkan air.

“Kami hanya minta pemerintah daerah buka pintu air saluran irigasi yang mengairi persawahan kami di belakang toko reno sungai dareh itu,” pintanya.

Sementara itu, Wali Nagari Siguntur yang mendampingi langsung masyarakatnya mengajukan tuntutan ke bupati setempat, juga membenarkan keluhan masyafakatnya.

“Semua usaha telah kita lakukan, agar masyarakat bisa mengolah sawahnya. Tapi semua buntu dan belum ada titik terang, sedangkan masyarakat terus menuntut kepada kami,” kata Aswat.

Sementara itu sang exsekusi persoalan masyarakat di wilayah ranah cati nan tigo, Wabub, Amrizal Dt Rajo Medan, yang menerima aspirasi masyarakat, langsung excion dan tinjau lokasi pintu air saluran induk irigasi yang menjadi pangka bala petani siguntur.

“Alhamdulilah, semua keinginan masyarakat bisa kita atasi dengan cara membuka pintu dan langsung dilas mati, agar tidak diganggu,” kata Amrizal (eko/jen)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *