ALM INDRA SAKTI NAULI
JAKARTA – Mantan Direktur Rumah Sakit Militer Kol Purn Farhan menulis sebuah puisi untuk melukiskan tragedi menjelang kematan wartawan senior Sumbar Indra Sakti Nauli.
Seperti diberitakan sebelumnya, ternyata sebelum INS – demikian wartawan Indra Sakti Nauli dipanggil, berpulang, dia sempat beberapa kali keluar masuk IGD Rumah Sakit di Padang tanpa mendapatkan pelayan.
Kasus ini terungkap dari curhatan sang istri INS, Helma Tuti di FB yang dicopy Komentator kritis WAG Sumbar Ade Edward dan dijadikan sumber diskusi di sebuah WAG terkemuka di Sumbar. Di WAG itu kabarnya ada sejumlah elit pemerintahan.
Seperti merasakan aliran kesedihan dan kepiluan dari proses ditolak tolaknya almarhum INS dari satu IGD ke IGD lain, Kolonel Farhan pun menuliskan sebuah puisi, sebagai berikut ;
ELEGIA REPUBLIK IGD
(“Drama Tour de IGD”)
Oleh: Kol (Purn) dr Farhaan Abd
—
Subuh tertelan lampu putih,
dan di leher seorang suami
tumbuh sebutir takdir—
kelenjar yang mengetuk pintu Tuhan
dengan napas terakhir manusia.
Istrinya mengusap minyak dan doa,
namun cinta tak mampu menunda prosedur.
Dari Hermina ke Yos Sudarso,
dari Djamil ke Ibnu Sina,
hingga RSUD—
ia berkeliling lima altar kematian,
membawa tubuh yang menunggu izin hidup
dari mesin administrasi.
Di setiap meja, ada pertanyaan:
“Umum apa BPJS, bu?”
Padahal yang sesak bukan dompet,
melainkan paru-paru yang memohon udara.
Dan rujukan— selembar kertas suci—
lebih berharga dari darah yang menetes
di ujung waktu.
Ketika akhirnya oksigen menjadi saksi,
dan detak menurun seperti bendera separuh tiang,
dokter berkata: “Allah berkehendak lain.”
Namun semua orang tahu:
yang lambat bukan Tuhan,
melainkan manusia yang terlalu pandai menunda.
Kini ia tidur di pangkuan doa,
di kota yang menunduk pada malam.
Facebook menjadi makam sunyi,
dan status terakhirnya adalah elegi republik—
tentang cinta yang kalah oleh sistem,
dan kematian yang harus mengantri tanda tangan.
Wahai Padang,
di bawah langitmu yang penuh lampu rumah sakit,
ingatlah:
ada seorang jurnalis
yang wafat bukan karena ajal,
tetapi karena kemanusiaan
terlambat datang menyelamatkan napasnya.
Padang, 2025
(*)
Awaluddin Awe








