Sungai Kreong Tiro yang memiliki panjang 1.666 meter dinormalisasi untuk mencegah terulangnya banjir bandang di kawasan itu. (Foto : KememPU/AWE/HI)
JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I melakukan penanganan normalisasi dan perkuatan tebing sungai Krueng Tiro sepanjang kurang lebih 1.666 meter.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan kapasitas alur sungai dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, Kementerian PU terus bergerak cepat melakukan penanganan pascabencana, termasuk upaya normalisasi sungai untuk mengurangi risiko bencana berulang.
“Harapan kami agar alur sungai kembali aman dan mampu menampung debit air saat hujan lebat. Tentu prioritas utama adalah keselamatan masyarakat,” kata Menteri Dody dalam penjelasan tertulisnya kepada media di Jakarta, Selasa (13/1/2026)
Pada lokasi Krueng Tiro, satu unit excavator bucket telah bekerja dan akan ditambah 2 unit excavator dikerahkan untuk menangani sedimentasi dan kerusakan tebing hingga muara sungai.
Penanganan ini merupakan bagian dari paket pekerjaan tanggap darurat sungai di Kabupaten Pidie yang mencakup Sungai Krueng Baro dan Krueng Tiro dengan total panjang penanganan sepanjang 3.096 meter.
Bagi masyarakat, penanganan Sungai Krueng Tiro pascabanjir bukan sekadar pekerjaan teknis. Krueng Tiro adalah nadi kehidupan—sumber air, penyangga lahan pertanian, sekaligus pelindung kampung dari ancaman banjir berulang.
Kepala Desa Tiba Masjid Haryadi mengatakan kehadiran pemerintah memberikan rasa tenang bagi warga.
“Alhamduliillah sudah ada pekerjaan, Sebelumnya kami khawatir setiap hujan turun air kembali meluap. Dengan adanya normalisasi dan memindahkan alur sungai ke lokasi lama, masyarakat merasa lebih aman karena jauh dari permukiman, memang di sini langganan banjir,”ujar Haryadi.
Selain di Kabupaten Pidie, penanganan infrastruktur Sumber Daya Air juga dilaksanakan secara paralel di sejumlah kabupaten lain di Aceh.
Di Kabupaten Pidie Jaya, Kementerian PU melakukan perkuatan tebing dan normalisasi Sungai Krueng Meureudu sepanjang 1.459 meter, Sungai Krueng Jeulanga 500 meter, serta perkuatan Bendung Daerah Irigasi Beuracan.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, normalisasi Sungai Krueng Samalanga dan Krueng Peusangan terus berjalan, disertai penyediaan air bersih di 13 titik lokasi bagi masyarakat terdampak.
Secara keseluruhan, Kementerian PU telah mengerahkan puluhan unit alat berat yang tersebar di Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen sebagai bagian dari upaya terpadu penanganan bencana banjir di wilayah Aceh.
Tambah 57 Titik Sumur Bor
Selain itu, Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh terus mendukung pemulihan layanan dasar pascabencana di Provinsi Aceh, khususnya pemenuhan kebutuhan air bersih melalui pembangunan sarana sumur dangkal dan sumur bor dalam di 57 titik.
Pengeboran 57 titik sumur bor tersebar di sejumlah kabupaten/kota terdampak bencana seperti Kabupaten Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Bener Meriah.
Sebelumnya, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I juga telah melakukan pengeboran di 24 titik sumur bor.
Saat ini pelaksanaan pengeboran sudah dalam tahap bervariasi mulai dari persiapan, mobilisasi alat, pengeboran, hingga selesai dan dimanfaatkan masyarakat.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, sebanyak 5 sumur bor dangkal telah selesai 100 persen dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat.
Lokasi tersebut antara lain Polindes Meunasah Paya dan Puskesmas Manyak Payed di Kecamatan Manyak Payed, Puskesmas Karang Baru serta Masjid Babul Falah di Kecamatan Karang Baru, dan Masjid Baitul Amal di Kecamatan Sekerak.
Keberadaan sarana air bersih ini mendukung operasional fasilitas kesehatan, tempat ibadah, serta aktivitas harian masyarakat setempat.
Selain sumur dangkal, pembangunan sumur bor dalam di Aceh Tamiang masih terus berlangsung. Pengeboran terdalam tercatat di Puskesmas Bendahara dengan kedalaman mencapai 85 meter, disusul Puskesmas Rantau sedalam 65 meter, serta Desa Alur Manis, Kecamatan Rantau yang telah mencapai 35 meter.
Di Kecamatan Kota Kuala Simpang, pengeboran di Puskesmas Kuala Simpang telah mencapai kedalaman 45 meter, sementara sumur bor dalam di Desa Kota Lintang telah selesai dan dimanfaatkan masyarakat.
Di Kecamatan Karang Baru, pengeboran sumur bor dalam di Puskesmas Karang Baru telah mencapai kedalaman 47 meter. Sementara itu, di Kantor Datok Alur Bemban, pekerjaan sumur bor dalam telah dimulai dengan kedalaman awal 6 meter setelah dilakukan survey geolistrik.
Beberapa lokasi lainnya masih berada pada tahap persiapan dan mobilisasi alat.
Di Kecamatan Kejuruan Muda, pembangunan sarana air bersih juga terus berjalan. Pekerjaan sumur dangkal dan sumur bor dalam di Puskesmas Kejuruan Muda saat ini berada pada tahap mobilisasi alat.
Selain itu, di Kantor Datok Kampung Suka Makmur, Kecamatan Kejuruan Muda, sumur bor dalam telah selesai 100 persen dan siap dimanfaatkan, sementara pekerjaan sumur dangkal masih dalam tahap mobilisasi alat.
Sementara itu, di Kabupaten Pidie Jaya, sejumlah sumur dangkal telah selesai dan dimanfaatkan masyarakat, antara lain di Huntara 1 (Kompleks Dinas Perhubungan Kabupaten Pidie Jaya) Kecamatan Meurah Dua, Meunasah Gampong Dayah Kruet Kecamatan Meurah Dua, Meunasah Gantung Kecamatan Meureudu, Meunasah Gampong Beurawang Kecamatan Meureudu serta di Meunasah Cut Kecamatan Meureudu.
Adapun pekerjaan sumur bor dalam masih terus berlangsung, di antaranya di Huntara 2 Kecamatan Meurah Dua dengan kedalaman 14 meter, Meunasah Gampong Seunong Kecamatan Meurah Dua dengan kedalaman 35 meter, serta Kompleks Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Pidie Jaya yang telah mencapai kedalaman 27 meter.
Di Kabupaten Bener Meriah, pelaksanaan pembangunan sumur bor dalam menghadapi tantangan kondisi geografis dan teknis. Pengeboran aktif dilakukan di Huntara Desa Tunyang Kecamatan Timang Gajah dengan kedalaman 32 meter, serta di Dusun Sejahtera Kecamatan Pintu Rime Gayo yang telah mencapai 22 meter.
Pada sejumlah lokasi lainnya, pekerjaan masih berada pada tahap survei dan kajian geolistrik, antara lain di Desa Teritit dan Blang Paku Kecamatan Wih Pesam, Desa Bintang Bener Kecamatan Bener Kelipah, Desa Pemangko dan Jelobok Kecamatan Permata, serta Desa Bukit Wih Ilang dan Paya Rungkel Kecamatan Bandar. (*)
Awaluddin Awe













